<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-35594566</id><updated>2011-10-01T21:51:17.819+07:00</updated><category term='MIQRA KELUARGA'/><title type='text'>MIQRA INDONESIA: KELUARGA [FAMILY LIFE]</title><subtitle type='html'>Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam [Keluarga, Wanita &amp; Anak]</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://miqrakeluarga.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35594566/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miqrakeluarga.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>MIQRA INDONESIA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11822452084513947586</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_kCq_1_uUTQA/THFakBYdI-I/AAAAAAAAAmo/j5EsKJoBuVQ/S220/Arda+Dinata.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>24</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-35594566.post-3351630185085087078</id><published>2008-07-31T06:59:00.002+07:00</published><updated>2011-09-30T20:10:01.626+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MIQRA KELUARGA'/><title type='text'>Kartini, Muslimah Sejati dan Keteladanan dalam Islam</title><content type='html'>&lt;a href="http://miqra.blogspot.com/2011/09/top-1-oli-sintetik-mobil-motor.html"&gt;&lt;b&gt;Kartini, Muslimah Sejati dan Keteladanan dalam IslamOleh: ARDA DINATA&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;a href="http://ardaiq.blogspot.com/"&gt;&lt;b&gt;http://ardaiq.blogspot.com&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;a href="http://www.amazon.com/Anak/dp/B001BXQ5YU?ie=UTF8&amp;amp;tag=c091c-20&amp;amp;link_code=bil&amp;amp;camp=213689&amp;amp;creative=392969" imageanchor="1" target="_blank"&gt;&lt;img alt="Anak" src="http://ws.amazon.com/widgets/q?MarketPlace=US&amp;amp;ServiceVersion=20070822&amp;amp;ID=AsinImage&amp;amp;WS=1&amp;amp;Format=_SL160_&amp;amp;ASIN=B001BXQ5YU&amp;amp;tag=c091c-20" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;img alt="" border="0" height="1" src="http://www.assoc-amazon.com/e/ir?t=c091c-20&amp;amp;l=bil&amp;amp;camp=213689&amp;amp;creative=392969&amp;amp;o=1&amp;amp;a=B001BXQ5YU" style="border: medium none ! important; margin: 0px ! important;" width="1" /&gt;&lt;a href="http://www.amazon.com/Tombs-Anak-Cooper-Kids-Adventure/dp/1581346204?ie=UTF8&amp;amp;tag=c091c-20&amp;amp;link_code=bil&amp;amp;camp=213689&amp;amp;creative=392969" imageanchor="1" target="_blank"&gt;&lt;img alt="The Tombs of Anak (The Cooper Kids Adventure Series #3)" src="http://ws.amazon.com/widgets/q?MarketPlace=US&amp;amp;ServiceVersion=20070822&amp;amp;ID=AsinImage&amp;amp;WS=1&amp;amp;Format=_SL160_&amp;amp;ASIN=1581346204&amp;amp;tag=c091c-20" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;img alt="" border="0" height="1" src="http://www.assoc-amazon.com/e/ir?t=c091c-20&amp;amp;l=bil&amp;amp;camp=213689&amp;amp;creative=392969&amp;amp;o=1&amp;amp;a=1581346204" style="border: medium none ! important; margin: 0px ! important;" width="1" /&gt;&lt;a href="http://www.amazon.com/Anak-Movie-Vilma-Santos/dp/B000S5R7OO?ie=UTF8&amp;amp;tag=c091c-20&amp;amp;link_code=bil&amp;amp;camp=213689&amp;amp;creative=392969" imageanchor="1" target="_blank"&gt;&lt;img alt="Anak: The Movie" src="http://ws.amazon.com/widgets/q?MarketPlace=US&amp;amp;ServiceVersion=20070822&amp;amp;ID=AsinImage&amp;amp;WS=1&amp;amp;Format=_SL160_&amp;amp;ASIN=B000S5R7OO&amp;amp;tag=c091c-20" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;img alt="" border="0" height="1" src="http://www.assoc-amazon.com/e/ir?t=c091c-20&amp;amp;l=bil&amp;amp;camp=213689&amp;amp;creative=392969&amp;amp;o=1&amp;amp;a=B000S5R7OO" style="border: medium none ! important; margin: 0px ! important;" width="1" /&gt;&lt;a href="http://www.amazon.com/Anak-Bayan/dp/B001Q8GIWO?ie=UTF8&amp;amp;tag=c091c-20&amp;amp;link_code=bil&amp;amp;camp=213689&amp;amp;creative=392969" imageanchor="1" target="_blank"&gt;&lt;img alt="Anak Bayan" src="http://ws.amazon.com/widgets/q?MarketPlace=US&amp;amp;ServiceVersion=20070822&amp;amp;ID=AsinImage&amp;amp;WS=1&amp;amp;Format=_SL160_&amp;amp;ASIN=B001Q8GIWO&amp;amp;tag=c091c-20" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;img alt="" border="0" height="1" src="http://www.assoc-amazon.com/e/ir?t=c091c-20&amp;amp;l=bil&amp;amp;camp=213689&amp;amp;creative=392969&amp;amp;o=1&amp;amp;a=B001Q8GIWO" style="border: medium none ! important; margin: 0px ! important;" width="1" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;KEKUATAN&lt;/b&gt; informasi sungguh luar biasa pengaruhnya terhadap publik. Buktinya, sosok Kartini tidak dapat diartikan lain kecuali sesuai dengan apa yang tersirat dalam kumpulan suratnya: Door Duisternis Tot Licht, yang terlanjur diartikan oleh Armijn Pane sebagai Habis Gelap Terbitlah Terang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, menurut versi Prof.Dr.Haryati Soebadio (cucu tiri R.A. Kartini), mengartikan Door Duisternis Tot Licht, sebagai Dari Gelap Menuju Cahaya, yang bahasa Arabnya Minazh-Zhulumaati Ilan-Nuur. Kalimat ini merupakan inti dari Panggilan Islam. Maksudnya tidak lain membawa manusia dari kegelapan (kejahiliyahan atau kebodohan hidayah) ke tempat yang terang benderang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena berada dalam proses dari kegelapan menuju cahaya. Tapi cahaya itu belum sempurna menyinarinya secara terang benderang, karena terhalang oleh atmosfir tradisi dan usaha westernisasi. Kartini kembali kepada Pencipta, Pemilik, Pemelihara dan Penguasanya, sebelum ia menyelesaikan usahanya untuk mempelajari Al Islam dan mengamalkannya sesuai dengan cita-citanya seperti yang pernah ditulis Kartini dalam suratnya kepada Ny.Van Kol, 21 Juli, 1902, yaitu: “Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut disukai.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, Kartini sebenarnya ingin menjadi muslimah sejati. Buktinya, seperti diceritakan Asma Karimah (1991), pada masa kecilnya, Kartini mempunyai pengalaman yang tidak menyenangkan ketika belajar mengaji (membaca Alquran). Ibu guru mengajinya memarahi dia dan menyuruh Kartini ke luar ruangan ketika Kartini menanyakan makna dari kata-kata Alquran yang diajarkan kepadanya untuk membacanya. Sejak saat itu timbullah penolakan pada diri Kartini (baca: surat Kartini kepada Stella, 6 November 1890 dan E.E Abendanon, 15 Agustus 1902).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, pada suatu ketika Kartini berkunjung ke rumah pamannya, seorang bupati di Demak (Pangeran Ario Hadiningrat). Dan kebetulan saat itu sedang ada pengajian bulanan khusus anggota keluarga. Kartini ikut mendengarkan pengajian tersebut. Kartini tertarik kepada materi pengajian (baca: tentang tafsir Al-Fatihah) yang disampaikan Kyai Haji Muhammad Sholeh bin Umar, seorang ulama besar dari semarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah selesai acara pengajian, Kartini mendesak pamannya agar bersedia menemani dia untuk menemui Kyai Sholeh Darat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kyai perkenankanlah saya menanyakan, bagaimana hukumnya apabila seorang yang berilmu namun dia menyembunyikan ilmunya?” tanya Kartini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tertegun Kyai Sholeh Darat mendengar pertanyaan Kartini yang diajukaan secara diplomatis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?” Kyai Sholeh Darat balik bertanya, sambil berpikir kalau saja apa yang dimaksud oleh Kartini pernah terlintas dalam pikirannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kyai, selama hidupku baru kali ini aku sempat mengerti makna dan arti surat pertama dan induk Alquran yang isinya begitu indah menggetarkan sanubariku…. Namun aku heran tak habis-habisnya, mengapa selama ini para ulama kita melarang keras penerjemahan dan penafsiran Alquran dalam bahasa Jawa. Bukankah Alquran itu justeru kitab pimpinan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita, Kyai Sholeh Darat pada hari pernikahan Kartini menghadiahkan kepadanya terjemahan Alquran (Faizhur Rohman Fit Tafsiril Quran), jilid I (13 juz: surat Al-Fatihah – surat Ibrahim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itu, mulailah Kartini mempelajari Islam yang sebenarnya. Tapi sayangnya setelah itu Kyai Sholeh meninggal dunia, sehingga Alquran tersebut belum semuanya diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa. Kalau saja Kartini sempat mempelajari keseluruhan ajaran Islam (Alquran), maka tidak mustahil ia akan menerapkan semaksimal mungkin semua hal yang dituntut Islam terhadap kemuslimahannya (termasuk jilbab?).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Profil Muslimah Sejati&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kartini adalah sosok wanita Indonesia. Islam jauh-jauh hari telah menempatkan wanita dalam posisi yang terhormat. Wanita merupakan sosok manusia dengan seperangkat potensi yang ada dalam dirinya. Wanita dalam bahasa Nurul Husna (1999), diungkapkan bahwa seperti halnya laki-laki, wanita memiliki seperangkat potensi berupa akal, kebutuhan jasmani dan naluri (naluri untuk memepertahankan diri, untuk melestarikan keturunan dan untuk beragama).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih jauh diungkapkan, seiring dengan adanya potensi tersebut, Allah SWT menetapkan keduanya untuk menempati posisi dan peran yang beragam yaitu sebagai hamba Allah, sebagai anggota keluarga dan sebagai anggota masyarakat, maka sesungguhnya pandangan Islam tidak bisa dikatakan mengalami bias gender, karena Islam kadangkala berbicara tentang wanita sebagai wanita (misal dalam soal haid, mengandung, melahirkan, menyusui) dan kadang pula berbicara tentang wanita sebagai manusia tanpa dibedakan dari laki-laki (misal dalam hal kewajiban shalat, zakat, haji, akhlak mulia, amar maruf nahi mungkar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini, ditegaskan pula bahwa kedua pandangan tersebut sama-sama bertujuan mengarahkan wanita secara individual sebagai manusia mulia, dan secara kolektif, bersama kaum lelaki, menjadi bagian tatanan (keluarga dan individu) yang harmonis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas dasar itulah, setiap muslimah, harus memposisikan diri dalam berperilaku dengan tuntunan Alquran dan As-sunnah, sehingga dampaknya dapat menjadi andalan panutan bagi sang anak (baca: menjadi profil wanita muslimah). Dalam beberapa ayat Alquran dan As-sunnah dapat kita temukan gambaran dari profil wanita muslimah ini. Salah satu diantaranya disebutkan bahwa wanita sebagai tiang ummat (baca: QS. Al Qashash: 7-13). Sementara itu, gambaran pribadi wanita sholihah terungkap dalam QS. At Tahrim: 10-12.&lt;br /&gt;Wanita sholihah adalah sebaik-baik hiasan. Menurut Rasulullah Saw dalam salah satu sabdanya menyebutkan: “Tidaklah orang mu’min mendapat keberuntungan sesudah taqwa kepada Allah Azza wa jalla, yang  lebih baik dari pada wanita sholihah. Ialah wanita yang apabila disuruh ia taat, apabila dipandang menyenangkan, apabila diberi bagian menyambut baik dan apabila suaminya tidak ada dia menjaga dirinya dan harta suaminya.” (HR. Ibnu Majah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada koridor demikian, seharusnya wanita muslimah memposisikan dirinya, sehingga kehidupan rumah tangga, berbangsa akan menjadi harmonis. Inilah cita-cita Kartini yang kelihatannya perlu diwujudkan dan diteruskan oleh kaum wanita (muslimah) saat ini agar menjadi pigur keteladanan bagi anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Keteladanan dalam Islam&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita adalah calon ibu. Artinya setiap wanita harus memposisikan sebagai muslimah sejati dalam hidupnya. Untuk itu, setiap keluarga muslim dituntut menciptakan keteladanan (uswah hasanah) bagi anggota keluarganya. Teladan, diartikan sebagai (perbuatan, barang, dsb) yang patut ditiru. Sehingga, pantas saja keteladanan ini dijadikan sebagai alat utama dalam pendidikan anak. Secara spesifik, keteladanan dalam diri manusia, akan menjadikan hidupnya terlepas dari beban-beban psikis –seperti yang dimiliki oleh orang-orang yang berbohong lagi dusta---. Lebih jauh, ternyata perilaku keteladanan menjadikan hidup kita indah dan menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tataran demikian, budaya keteladanan harus menjadi visi kita dalam membangun kehidupan keluarga sakinah yang telah menjadi cita-cita kita. Sehingga setiap orang tua (terutama seorang ibu) dituntut untuk menjadi sumber inspirasi uswah hasanah (keteladanan) bagi perilaku anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun bentuk keteladanan yang perlu dikedepankan dalam mendidik anak adalah berupa mempraktekkan kehidupan yang islami. Paling tidak ada sembilan hal yang perlu dibangun dalam kehidupan islami tersebut yang akan membuahkan keteladanan dari seorang anak di kemudian hari dan menciptakan keluarga sakinah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tertanamnya ihsan/kebaikan dan bergaul dengan ma’ruf. Allah berfirman, yang artinya: “…Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikannya kebaikan yang banyak. (QS. An-Nisaa’: 19).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“…. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (QS. An-Nisaa’: 36).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam QS. Al-Israa: 23, Allah berfirman: “….dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembali.” (QS. Luqman: 14).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saling menyayangi dan mengasihi. Dalam hal ini, Allah menginformasikan dalam QS. Ar-Ruum: 21, yang artinya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang ….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghormati hak hidup anak. Setiap orang tua harus mampu menjaga hak hidup anak, diantaranya berupa informasi tentang apa yang diharamkan dalam hidup, berbuat baik kepada orang tua, dan jangan membunuh dengan alasan faktor kemiskinan. (baca: QS. Al-An’aam: 151).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, dalam QS. Al-Israa: 31, Allah berfirman yang artinya: “Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan, Kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa besar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saling menghargai dan menghormati antar anggota keluarga, memberikan pendidikan akhlak yang mulia secara paripurna. Dalam QS. Al-Ahzab: 59, Allah berfirman, yang artinya: “Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbanya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu …”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjauhkan segenap anggota keluarga dari bencana siksa neraka. Allah berfirman, yang artinya: “Hai orang-orang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membiasakan bermusyawarah dalam menyelesaikan urusan. Dalam QS. Ath-Thalaaq: 6, Allah berfirman yang artinya: “…kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu maka berikanlah kepada mereka upahnya; dan musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu), dengan baik; dan jika kamu menemui kesulitan maka perempuan lain boleh menyusukan (anak itu) untuknya.” (Baca juga: QS. Al-Baqarah: 233).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbuat adil dan ihsan. Allah SWT berfirman, yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Maa’idah: 8).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, dalam QS. An-Nahl: 90, Allah berfirman, yang artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memelihara persamaan hak dan kewajiban. Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah: 228, yang artinya: “…Dan para wanita mempunyai hak yaang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada istrinya….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam surat yang lain, Allah berfirman, yang artinya: “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka …” (QS. An-Nisaa: 34).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyantuni anggota keluarga yang tidak mampu. Allah berfirman, yang artinya: “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.” (QS. Al-Israa’: 26). (Baca juga: QS. Ar-Ruum: 38).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, patut kita renungkan apa yang diungkap oleh Sayyid Qutb, melalui tafsirnya yang terkenal (baca: Fi Zhilalil Qur’an; 2000: 539-540), beliau menyatakan bahwa sistem keluarga di dalam Islam terpancar dari mata air fitrah, asal penciptaan dan dasar pembentukan utama bagi semua makhluk hidup dan segenap ciptaan. Keluarga adalah ‘panti asuhan’ alami yang bertugas memelihara dan menjaga tunas-tunas muda yang sedang tumbuh, mengembangkan fisik, akal dan jiwanya. Di bawah bimbingan dan cahaya keluarga, anak-anak ini menguak kehidupan, menafsirkan dan berinteraksi dengannya. Untuk itu, semoga wanita-wanita Indonesia menjadi muslimah sejati seperti keinginan ibu Kartini. Amin. Wallahu a’lam.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Arda Dinata adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia, &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;a href="http://www.miqra.blogspot.com/"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;http://www.miqra.blogspot.com&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;ADA EBOOK GRATIS SEBAGAI BONUS YANG WAJIB ANDA BACA:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;·        &lt;a href="http://www.penulissukses.com/?id=buku08"&gt;Peta Harta Karun, Menulis Buku &amp;amp; Menerbitkannya Sendiri, dll klik disini…&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35594566-3351630185085087078?l=miqrakeluarga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miqrakeluarga.blogspot.com/feeds/3351630185085087078/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=35594566&amp;postID=3351630185085087078' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35594566/posts/default/3351630185085087078'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35594566/posts/default/3351630185085087078'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miqrakeluarga.blogspot.com/2008/07/kartini-muslimah-sejati-dan-keteladanan.html' title='Kartini, Muslimah Sejati dan Keteladanan dalam Islam'/><author><name>MIQRA INDONESIA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11822452084513947586</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_kCq_1_uUTQA/THFakBYdI-I/AAAAAAAAAmo/j5EsKJoBuVQ/S220/Arda+Dinata.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-35594566.post-1615511977345972601</id><published>2008-06-03T20:41:00.001+07:00</published><updated>2010-01-06T18:58:18.644+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MIQRA KELUARGA'/><title type='text'>Indahnya Keluarga Berkualitas</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color: #3333ff;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;span style="font-size: 180%;"&gt;Indahnya Keluarga Berkualitas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;Oleh: &lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;ARDA DINATA&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;Email: &lt;/span&gt;&lt;a href="mailto:arda.dinata@gmail.com"&gt;&lt;span style="color: #3333ff;"&gt;arda.dinata@gmail.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #3333ff;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="color: #3333ff;"&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;a href="http://www.amazon.com/Keluarga-Bahagia/dp/B001LIP3H0?ie=UTF8&amp;amp;tag=c091c-20&amp;amp;link_code=bil&amp;amp;camp=213689&amp;amp;creative=392969" imageanchor="1" target="_blank"&gt;&lt;img alt="Keluarga Bahagia" src="http://ws.amazon.com/widgets/q?MarketPlace=US&amp;amp;ServiceVersion=20070822&amp;amp;ID=AsinImage&amp;amp;WS=1&amp;amp;Format=_SL160_&amp;amp;ASIN=B001LIP3H0&amp;amp;tag=c091c-20" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;img alt="" border="0" height="1" src="http://www.assoc-amazon.com/e/ir?t=c091c-20&amp;amp;l=bil&amp;amp;camp=213689&amp;amp;creative=392969&amp;amp;o=1&amp;amp;a=B001LIP3H0" style="border: medium none ! important; margin: 0px ! important;" width="1" /&gt;&lt;a href="http://www.amazon.com/Keluargas-Manuk-Nang/dp/B000S9FYE0?ie=UTF8&amp;amp;tag=c091c-20&amp;amp;link_code=bil&amp;amp;camp=213689&amp;amp;creative=392969" imageanchor="1" target="_blank"&gt;&lt;img alt="Keluarga's Manuk Nang" src="http://ws.amazon.com/widgets/q?MarketPlace=US&amp;amp;ServiceVersion=20070822&amp;amp;ID=AsinImage&amp;amp;WS=1&amp;amp;Format=_SL160_&amp;amp;ASIN=B000S9FYE0&amp;amp;tag=c091c-20" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;img alt="" border="0" height="1" src="http://www.assoc-amazon.com/e/ir?t=c091c-20&amp;amp;l=bil&amp;amp;camp=213689&amp;amp;creative=392969&amp;amp;o=1&amp;amp;a=B000S9FYE0" style="border: medium none ! important; margin: 0px ! important;" width="1" /&gt;&lt;a href="http://www.amazon.com/part-1-merong/dp/B000QM9RZG?ie=UTF8&amp;amp;tag=c091c-20&amp;amp;link_code=bil&amp;amp;camp=213689&amp;amp;creative=392969" imageanchor="1" target="_blank"&gt;&lt;img alt="part 1: merong" src="http://ws.amazon.com/widgets/q?MarketPlace=US&amp;amp;ServiceVersion=20070822&amp;amp;ID=AsinImage&amp;amp;WS=1&amp;amp;Format=_SL160_&amp;amp;ASIN=B000QM9RZG&amp;amp;tag=c091c-20" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;img alt="" border="0" height="1" src="http://www.assoc-amazon.com/e/ir?t=c091c-20&amp;amp;l=bil&amp;amp;camp=213689&amp;amp;creative=392969&amp;amp;o=1&amp;amp;a=B000QM9RZG" style="border: medium none ! important; margin: 0px ! important;" width="1" /&gt;&lt;a href="http://www.amazon.com/Keluarga-Websters-Timeline-History-1887/dp/B001CV54LG?ie=UTF8&amp;amp;tag=c091c-20&amp;amp;link_code=bil&amp;amp;camp=213689&amp;amp;creative=392969" imageanchor="1" target="_blank"&gt;&lt;img alt="Keluarga: Webster's Timeline History, 1887 - 2007" src="http://ws.amazon.com/widgets/q?MarketPlace=US&amp;amp;ServiceVersion=20070822&amp;amp;ID=AsinImage&amp;amp;WS=1&amp;amp;Format=_SL160_&amp;amp;ASIN=B001CV54LG&amp;amp;tag=c091c-20" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;img alt="" border="0" height="1" src="http://www.assoc-amazon.com/e/ir?t=c091c-20&amp;amp;l=bil&amp;amp;camp=213689&amp;amp;creative=392969&amp;amp;o=1&amp;amp;a=B001CV54LG" style="border: medium none ! important; margin: 0px ! important;" width="1" /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color: #3333ff;"&gt;&lt;b&gt;TERJALINNYA&lt;/b&gt; sebuah ikatan perkawinan, tidak saja bertujuan  untuk mendapatkan generasi penerus (baca: keturunan) yang banyak dari segi kuantitas, tapi juga kita harus memperhatikan segi kualitas keluarga yang akan kita bangun. Hal ini didasarkan pada subtansi bahwa permasalahan generasi anak-anak kita akan memiliki permasalahan dan tantangan yang berbeda dari keadaan saat sekarang. Selain itu, tentunya kita harus menjadikan keturunan tersebut tidak menjadi beban bagi siapa pun, termasuk dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara hal yang perlu diperhatikan sebagai langkah awal dalam membentuk keluarga berkualitas adalah dengan menumbuhkan suasana ketentraman dan kasih sayang di dalam keluarga. Allah SWT berfirman, yang artinya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. 30: 21). Lagian, bukankah ketentraman dan kasih sayang itu merupakan kebutuhan dasar setiap manusia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Drs. Hasan Basri, dalam karyanya berjudul “Merawat Cinta Kasih,” keluarga berkualitas adalah keluarga yang rukun, berbahagia, tertib, disiplin, saling menghargai, penuh maaf, tolong menolong, dalam kebajikan, memiliki etos kerja, bertetangga dengan saling menghormati, taat mengerjakan ibadah, berbakti kepada orang tua dan mertua, mencintai ilmu pengetahuan dan memanfaatkan waktu luang dengan hal-hal yang positif dan mampu memenuhi kebutuhan dasar keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa indahnya kondisi keluarga berkualitas tersebut. Penulis yakin setiap kita pada dasarnya mengharapkan tercipta dan terwujudnya keluarga berkualitas ini. Predikat demikian, bukan diperoleh hanya mengandalkan kepada salah satu komponen/unsur di dalam keluarga (bapak, ibu, atau anak). Tapi, ia merupakan hasil kerjasama yang harmonis di antara komponen keluarga tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam arti lain, di dalam keluarga itu masing-masing komponen keluarga menjalankan kewajibannya dengan baik dan serius, tanpa mengeluh, mencari kambing hitam dan merasa diperbudak oleh orang lain. Jadi, fungsi-fungsi keluarga dalam sebuah ikatan perkawinan benar-benar diwujudkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Fungsi Keluarga&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menggapai predikat keluarga berkualitas, maka perilaku kita hendaknya diarahkan kepada terlaksananya fungsi-fungsi yang disandang dalam sebuah keluarga. Di mana pelaksanaan fungsi-fungsi keluarga itu didasarkan kepada azas gotong royong. Dalam bahasa lain, Burgess menyebutnya dengan companionship, yaitu persahabatan, kebersamaan, kesejahteraan, kebahagiaan, dan demokrasi bagi semua anggota keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini, ada beberapa fungsi keluarga yang perlu diwujudkan tersebut, yaitu: 1. Fungsi keagamaan. Setiap keluarga diharapkan mampu berfungsi sebagai wahana untuk menciptakan seluruh anggota keluarganya menjadi insan-insan agamis yang penuh iman dan taqwa kepada Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Fungsi sosial budaya. Setiap keluarga mampu untuk menggali, mengembangkan dan melestarikan kekayaan sosial budaya yang dimiliki oleh masyarakatnya dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Di samping juga berupa penguasaan terhadap tata cara sopan santun terhadap orang tua, suami terhadap isteri dan berlaku sebaliknya. Untuk itu, sebaiknya pertama-tama hal itulah yang diwariskan dalam lingkungan keluarga masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Fungsi kasih sayang. Setiap keluarga diharapkan mampu berfungsi untuk mewujudkan proses pengembangan timbal balik dalam rasa cinta dan kasih sayang antar komponen anggota keluarga. Dalam hal ini, sebenarnya untuk mewujudkan rasa cinta dan kasih sayang antara suami-isteri itu sudah dimulai sejak mereka merencanakan untuk hidup bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Fungsi perlindungan. Setiap keluarga diharapkan berfungsi sebagai tempat perlindungan yang memberikan rasa aman, tentram lahir dan batin. Keluarga memang menjadi tempat yang aman bagi kita, misalnya suami merasa ‘terlindungi’ karena ada isteri yang mendampinginya, demikian pula sebaliknya. Begitu juga, anak-anak menjadi terlindungi karena ada orang tua yang menjadi tumpuan pengaduannya. Peran serta orang tua di sini, tentunya sangat besar dalam menentukan kesuksesan dari masa depan seorang anak. Sedangkan masa depan orang tua sendiri, sebagian besar terletak pada anak-anaknya yang akan memperhatikan dan memeliharanya.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Fungsi reproduksi. Setiap suami-isteri yang diikat dengan perkawinan yang sah diharapkan mampu memberikan keturunan yang berkualitas, sehingga menjadi insan yang berguna bagi keluarganya, agama, masyarakat dan negara. Pemahaman akan pendidikan reproduksi sehat bagi keluarga muda dan calon suami-isteri ini adalah sesuatu yang sangat penting untuk dimiliki, maka hendaknya hal itu mulai diberikan pertama-tama di lingkungan keluarga kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Fungsi edukatif dan sosialisasi. Setiap keluarga diharapkan mampu menjadi pendidik yang pertama dan utama bagi anak-anaknya dalam menumbuh-kembangkan kekuatan-kekuatan agama, fisik, mental dan sosial. Pendidikan informal yang diberikan orang tua kepada anaknya itu (baca: sosialisasi primer) merupakan pendidikan yang pertama dan berkelanjutan, di mana peran orang tua sangat penting dalam memberikan bekal kepada anaknya agar dapat hidup “tanpa kesulitan” di masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Fungsi ekonomi. Setiap keluarga diharapkan mampu berfungsi untuk meningkatkan ekonomi keluarganya, sehingga bisa mencapai kebutuhan hidupnya yang lebih tinggi (baca: baik). Artinya, walaupun suami sebagai kepala keluarga memiliki kewajiban menghidupi keuangan keluarga, tapi tidak ada salahnya kalau setiap anggota komponen keluarga ikut serta membantunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Fungsi pelestarian lingkungan. Setiap keluarga diharapkan mampu membiasakan diri untuk memelihara dan melestarikan lingkungan di mana mereka tinggal. Fungsi pelestarian lingkungan tersebut tidak terlepas dari sistem pendidikan informal yang diberikan dalam keluarganya. Kebiasaan hidup bersih dan mencintai lingkungan perlu diperlihatkan oleh bapak dan ibu kepada anak-anaknya. Artinya kepedulian terhadap lingkungan yang bersih dan sehat perlu ditanamkan sejak dini dalam keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kita berdoa kepada Allah SWT, semoga kita selalu diberi petunjuk dan kekuatan dalam berusaha membentuk sebuah tatanan keluarga berkualitas serta mewujudkannya, yakni dengan menerapkan perilaku fungsi-fungsi keluarga tersebut di tengah-tengah keluarga kita yang sesuai dengan ajaran Islam. Amin. Wallahu’alam.(bdg, 13/7/02).***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Arda Dinata adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia, &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.miqra.blogspot.com/"&gt;&lt;span style="color: #3333ff;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;http://www.miqra.blogspot.com&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: #3333ff;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;ADA EBOOK GRATIS SEBAGAI BONUS YANG WAJIB ANDA BACA:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;·        &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.megabuku.com/?ref=1788"&gt;&lt;span style="color: #3333ff;"&gt;Buku Sukses Untuk Anda. Klik di sini ….&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #3333ff;"&gt;&lt;br /&gt;·        &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.penulissukses.com/?id=buku08"&gt;&lt;span style="color: #3333ff;"&gt;Peta Harta Karun, Menulis Buku &amp;amp; Menerbitkannya Sendiri, dll klik disini…&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #3333ff;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35594566-1615511977345972601?l=miqrakeluarga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miqrakeluarga.blogspot.com/feeds/1615511977345972601/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=35594566&amp;postID=1615511977345972601' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35594566/posts/default/1615511977345972601'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35594566/posts/default/1615511977345972601'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miqrakeluarga.blogspot.com/2008/06/indahnya-keluarga-berkualitas.html' title='Indahnya Keluarga Berkualitas'/><author><name>MIQRA INDONESIA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11822452084513947586</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_kCq_1_uUTQA/THFakBYdI-I/AAAAAAAAAmo/j5EsKJoBuVQ/S220/Arda+Dinata.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-35594566.post-4718236741778032660</id><published>2008-04-29T01:54:00.000+07:00</published><updated>2008-04-29T01:56:29.641+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MIQRA KELUARGA'/><title type='text'>Ilmu, Mematangkan Pola Pikir Anak</title><content type='html'>&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Oleh: &lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;a href="http://arda-dinata.blogspot.com/"&gt;ARDA DINATA&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Email: &lt;/span&gt;&lt;a href="mailto:arda.dinata@gmail.com"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;arda.dinata@gmail.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;br /&gt;Ramadhan merupakan bulan yang Allah SWT tetapkan di dalamnya perintah berpuasa (shaum). Bagi kaum muslimin, bulan suci ini selalu dikaitkan dengan turunnya Alquran, yaitu sebagai aturan yang akan mempedomani seluruh umat manusia pada kehidupan yang benar dan selamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman yang artinya: “Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan Al-Furqon (pembeda antara hak dan batil). [QS. 2: 185).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini, terkandung maksud bahwa untuk dapat memahami petunjuk-petunjuk yang terkandung dalam Alquran tentu diperlukan sesuatu apa yang kita sebut dengan ilmu. Ilmu adalah kunci yang akan membuka tabir-tabir yang tersyirat dalam Alquran. Itulah sebabnya, banyak sumber yang menyebutkan salah satu keistimewaan yang terdapat dalam ibadah shaum adalah dapat meningkatkan aspek ruhiyah melebihi aspek material.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep tersebut, tentu tidak berlebihan, karena bulan Ramadhan memang telah dijadikan oleh Allah sebagai madrasah Robbaniyah. Sebuah lembaga pengembangan tahunan bagi kaum muslimin yang disiapkan Allah SWT. Untuk itu, bulan suci ini, janganlah kita sia-siakan. Mari bangun keluarga kita dengan mematangkan pola pikir anak-anak kita. Kata kuncinya ialah melalui memperdalam ilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu itu selain akan mematangkan pola pikir anak –yang berbuah perilaku bijaksana--, juga mampu mengungkapkan hikmah-hikmah yang terjadi dari setiap kejadian hidup keseharian kita. Jadi, tidak setiap orang mampu memungut hikmah sebagai hak miliknya yang hilang. Nabi Saw bersabda, “Hikmah adalah milik yang hilang dari seorang mukmin. Di manapun ia menemukannya, maka dia adalah orang yang paling berhak (memungutnya).” [HR. At-Tirmidzi].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Ilmu Lebih Utama dari Harta&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara ilmu, ada baiknya kita membaca kembali hikmah berikut ini, yang dapat kita tanamkan pada anak-anak dan keluarga kita dalam menggapai keluarga yang cinta ilmu. Berdasarkan cerita ahli hikmah, berkumpullah sepuluh pemuka kaum Khawarij dan menyatakan tidak mau menerima ketika mendengar sabda Nabi Saw  berikut: “Akulah kota ilmu. Ali adalah gerbangnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pertemuan itu, mereka mau mencoba untuk membuktikannya. Kaum Khawarij mengatakan, “Kita cukup melontarkan satu pertanyaan yang sama. Jika Ali memberikan alasan yang berbeda maka benarlah apa yang disabdakan Nabi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum Khawarij kemudian mendatangi Ali secara bergilir satu persatu dan bertanya kepada Ali, “Lebih utama mana ilmu atau harta?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ilmu,” jawab Ali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa alasannya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ilmu warisan para Nabi. Harta warisan Qorun, Syaddat Fir’aun dan lainnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang pertama segera pergi. Lalu datang orang kedua dengan pertanyaan yang sama. Ali selalu menjawab bahwa ilmu lebih utama dari harta. Tetapi setiap pertanyaan selalu diberikan alasan yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ilmu menjagamu. Sedang harta, kamulah yang menjagamu,” jawab Ali kepada orang kedua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pemilik harta musuhnya banyak. Pemilik ilmu sahabatnya banyak,” jawabnya kepada orang ketiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada orang keempat Ali menjawab, “Harta akan berkurang jika kau gunakan. Ilmu akan bertambah jika kau pergunakan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada orang kelima, Ali menjawab, “Pemilik harta akan ada yang menjulukinya si pelit. Pemilik ilmu selalu dihormati dan dimuliakan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada orang keenam, Ali menjawab, “Harta perlu dijaga dari tangan pencuri. Ilmu tidak perlu menjaganya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada orang ketujuh, Ali menjawab, “Pemilik harta pada hari kiamat kelak akan dimintai tanggung jawab. Pemilik ilmu akan mendapat syafaat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada orang yang kedelapan, Ali menjawab, “Manakala dibiarkan dalam waktu yang lama harta akan rusak. Ilmu tak akan musnah dan lenyap.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada orang ke sembilan, Ali menjawab, “Harta membuat hati jadi keras. Ilmu menjadi penerang hati.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada orang kesepuluh, Ali menjawab, “Pemilik harta akan dipanggil tuan besar. Pemilik ilmu akan dijuluki ilmuwan. Andai  kata kalian hidupkan banyak orang maka aku akan menjawabnya dengan berbeda selagi aku masih hidup."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka lalu kembali dalam pengakuan islam. Dan sungguh indah dan beruntung bagi mereka yang memiliki anak-anak ilmuwan ---lebih-lebih ilmu agama islam---, sehingga dengan ilmunya perilaku dirinya akan dibimbing ke jalan yang lurus dan benar (baca: kendaraan menuju Allah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Kendaraan Menuju Allah&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu memiliki peran yang sangat menentukan dalam perjalanan memperoleh kendaraan menuju Allah. Dalam hal ini, jika Allah menghendaki untuk memberikan taufiq kepada seseorang sehingga ia mampu menambah bekal ilmu, maka hendaknya ia memperhatikan hal-hal berikut agar dapat bersikap seimbang dalam mencapainya, sehingga tidak terjadi saling tumpang tindih di antara berbagai keinginan manusia itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini, menurut Muhammad bin Hasan bin ‘Aqil Musa, ada lima sisi-sisi tawazun (keseimbangan) dalam menuntut ilmu syar’I, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.      Keseimbangan dalam menuntut berbagai disiplin ilmu dan mengutamakan sebagian lainnya. Suatu ketika seseorang bertanya kepada Imam Malik bin Anas, “Apa komentar tuan tentang menuntut ilmu?” Imam Malik menjawab, “Hal itu adalah sangat baik, tapi lihatlah, ilmu-ilmu yang mana saja yang semestinya engkau wajib mengetahuinya (karena terkait dengan amaliyahmu)  mulai pagi hingga sore (malam), maka pelajarilah itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.      Keseimbangan antara semangat menuntut ilmu dan mensucikan hati. Aspek ini merupakan aspek yang sangat penting, sebab para ulama salaf menganjurkan agar tidak berlebihan atau meninggalkannya. Jika seseorang telah disibukkan menuntut ilmu, terkadang melupakan aspek mensucikan hati. Abu Syuraih berkata, “Sungguh hati kalian telah kotor, maka pergilah kepada Khalid bin Humaid Al–Mahry untuk belajar menata dan melunakkan hati. Kemudian, ganti dan isilah hati kalian dengan hal-hal yang membersihkan dan melunakan hati. Sebab, hal itu dapat mempengaruhi ibadah dan mempengaruhi hati serta mempererat persaudaraan antar sesama ….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.      Keseimbangan antara kecenderungan menuntut ilmu dan memenuhi hak-hak keluarga. Kesibukan menuntut ilmu secara berlebihan akan membuat kesengsaraan dan akan melupakan mencari nafkah. Sehingga haruslah menyeimbangkan antara menuntut ilmu dan memenuhi hak-hak keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.      Keseimbangan antara menekuni ilmu dan melakukan ibadah-ibadah sunah. Imam Dhahabi menjelaskan bahwa para ulama berbeda pendapat tentang mana yang lebih utama antara kedua hal itu (baca: ilmu dan ibadah sunah). Sementara, para mukhlisin dalam menuntut ilmu mengatakan bahwa menuntut ilmu lebih utama baginya dengan syarat tidak mengenyampingkan shalat dan ibadah lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.      Keseimbangan antara menekuni ilmu syar’I dan menekuni ilmu Tsaqafah Islamiyah yang aktual. Sebagian besar dari kita yang menekuni ilmu-ilmu syar’I kurang melengkapi diri dengan bekal ilmu tentang Tsaqafah Islamiyah, atau kurang mengetahui kondisi realitas yang mengintarinya. Kenyataan ini, tentu merupakan sebuah aib dan ironis bagi seorang ‘alim dan thalibul ‘ilmi. Padahal, ia berperan sebagai pembimbing dan penunjuk manusia. &lt;em&gt;Wallahu’alam&lt;/em&gt;.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Arda Dinata adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia, &lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.miqra.blogspot.com/"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;http://www.miqra.blogspot.com&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;ADA EBOOK GRATIS SEBAGAI BONUS YANG WAJIB ANDA BACA:&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;·        &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.megabuku.com/?ref=1788"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Buku Sukses Untuk Anda. Klik di sini ….&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;br /&gt;·        &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.penulissukses.com/?id=buku"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Peta Harta Karun, Menulis Buku &amp;amp; Menerbitkannya Sendiri, dll klik disini…&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35594566-4718236741778032660?l=miqrakeluarga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miqrakeluarga.blogspot.com/feeds/4718236741778032660/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=35594566&amp;postID=4718236741778032660' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35594566/posts/default/4718236741778032660'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35594566/posts/default/4718236741778032660'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miqrakeluarga.blogspot.com/2008/04/ilmu-mematangkan-pola-pikir-anak.html' title='Ilmu, Mematangkan Pola Pikir Anak'/><author><name>MIQRA INDONESIA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11822452084513947586</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_kCq_1_uUTQA/THFakBYdI-I/AAAAAAAAAmo/j5EsKJoBuVQ/S220/Arda+Dinata.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-35594566.post-7841412407787587126</id><published>2008-04-06T11:26:00.001+07:00</published><updated>2008-04-17T23:01:30.904+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MIQRA KELUARGA'/><title type='text'>Ibu Sumber Inspirasi Uswah Hasanah Anak</title><content type='html'>&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Oleh: &lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;ARDA DINATA&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Email: &lt;/span&gt;&lt;a href="mailto:arda.dinata@gmail.com"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;arda.dinata@gmail.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;br /&gt;Kekuatan dari ilmu itu adalah mengamalkannya. Seorang teman bercerita bahwa ia ingin agar anaknya tidak membuang sampah sembarangan, tapi perintah tinggal perintah, nyatanya sang anak tetap membuang sampah sekehendaknya, padahal sudah ada tempat sampah di lingkungan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;strong&gt;BOKS EBOOKS RESELLER SUKSES HIDUP ANDA:&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;a href="http://megabuku.com/?ref=1788"&gt;1. Mengirim Ribuan Email Pribadi Sekali Klik&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://megabuku.com/?ref=1788"&gt;2. Cara Mudah &amp;amp; Praktis Nampang di Internet&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://megabuku.com/?ref=1788"&gt;3. Cara Praktis Bikin Situs Dinamis &amp;amp; Interaktif&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://megabuku.com/?ref=1788"&gt;4. Panduan Praktis Bikin Ebook&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.penulissukses.com/?id=buku"&gt;5. Menjadi Penulis Sukses &amp;amp; Kaya&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.penulissukses.com/?id=buku"&gt;6. Peta Harta Karun Bagi Penulis Sukses&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.naskahoke.com/e-mbig/?id=terbit"&gt;7. Cara Gampang Nerbitin Buku &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.naskahoke.com/e-mbig/?id=terbit"&gt;8. Pintar Membuat Tulisan Yang Mengandung Hikmah&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.naskahoke.com/e-mbig/?id=terbit"&gt;9. Kiat Membuat Tulisan Yang Menarik&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.naskahoke.com/e-mbig/?id=terbit"&gt;10. Rahasia Peluang Bisnis di Internet&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;===&lt;a href="http://arda-dinata.blogspot.com/"&gt;by. Arda Dinata&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;br /&gt;Teman saya itu, akhirnya mengakui dampak dari ketidak-konsekuenan antara ucapan dan tingkah lakunya. Tepatnya, teman saya itu pernah kepergok oleh anaknya ketika sedang membuang sampah di sembarang tempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari cerita teman saya itu, kita dapat mengambil pelajaran bahwa ilmu yang tidak sesuai amal yang dilakukan akan menghambat proses pendidikan anak dalam keluarga. Padahal kita sadar betul, kalau keluarga merupakan tiang utama kehidupan umat dan bangsa. Keluarga sebagai tempat sosialisasi nilai-nilai yang paling intensif dan menentukan. Artinya keluarga cinta ilmu dan amal saleh, tidak lain sebagai barometer dari pembangunan keluarga seorang muslim, sehingga dapat mewujudkan kehidupan keluarga yang sakinah, mawadah warahmah (baca: keluarga sakinah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pola pendidikan demikian, sadar atau pun tidak, jelas-jelas akan berfungsi dalam mensosialisasikan nilai-nilai ajaran Islam dan lebih jauh akan memposisikan diri sebagai kader generasi muslim yang dapat menjadi pelangsung dan penyempurna gerakan dakwah di kemudian hari. Inilah cikal bakal dari munculnya generasi teladan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, setiap keluarga muslim dituntut menciptakan keteladanan (uswah hasanah) bagi anggota keluarganya. Teladan, diartikan sebagai (perbuatan, barang, dsb) yang patut ditiru. Sehingga, pantas saja keteladanan ini dijadikan sebagai alat utama dalam pendidikan anak. Secara spesifik, keteladanan dalam diri manusia, akan menjadikan hidupnya terlepas dari beban-beban psikis –seperti yang dimiliki oleh orang-orang yang berbohong lagi dusta---. Lebih jauh, ternyata perilaku keteladanan menjadikan hidup kita indah dan menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tataran demikian, budaya keteladanan harus menjadi visi kita dalam membangun kehidupan keluarga sakinah yang telah menjadi cita-cita kita. Dalam hal ini, setiap orang tua (terutama seorang ibu) dituntut untuk menjadi sumber inspirasi uswah hasanah (keteladanan) bagi perilaku anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun bentuk keteladanan yang perlu dikedepankan dalam mendidik anak adalah berupa mempraktekkan kehidupan yang islami. Paling tidak ada sembilan hal yang perlu dibangun dalam kehidupan islami tersebut yang akan membuahkan keteladanan dari seorang anak di kemudian hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Tertanamnya ihsan/kebaikan dan bergaul dengan ma’ruf. Allah berfirman, yang artinya: “…Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikannya kebaikan yang banyak. (QS. An-Nisaa’: 19).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“…. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (QS. An-Nisaa’: 36).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam QS. Al-Israa: 23, Allah berfirman: “….dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembali.” (QS. Luqman: 14).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Saling menyayangi dan mengasihi. Dalam hal ini, Allah menginformasikan dalam QS. Ar-Ruum: 21, yang artinya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang ….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Menghormati hak hidup anak. Setiap orang tua harus mampu menjaga hak hidup anak, diantaranya berupa informasi tentang apa yang diharamkan dalam hidup, berbuat baik kepada orang tua, dan jangan membunuh dengan alasan faktor kemiskinan. (baca: QS. Al-An’aam: 151).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, dalam QS. Al-Israa: 31, Allah berfirman yang artinya: “Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan, Kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa besar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Saling menghargai dan menghormati antar anggota keluarga, memberikan pendidikan akhlak yang mulia secara paripurna. Dalam QS. Al-Ahzab: 59, Allah berfirman, yang artinya: “Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbanya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu …”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Menjauhkan segenap anggota keluarga dari bencana siksa neraka. Allah berfirman, yang artinya: “Hai orang-orang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Membiasakan bermusyawarah dalam menyelesaikan urusan. Dalam QS. Ath-Thalaaq: 6, Allah berfirman yang artinya: “…kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu maka berikanlah kepada mereka upahnya; dan musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu), dengan baik; dan jika kamu menemui kesulitan maka perempuan lain boleh menyusukan (anak itu) untuknya.” (Baca juga: QS. Al-Baqarah: 233).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Berbuat adil dan ihsan. Allah SWT berfirman, yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Maa’idah: 8).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, dalam QS. An-Nahl: 90, Allah berfirman, yang artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Memelihara persamaan hak dan kewajiban. Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah: 228, yang artinya: “…Dan para wanita mempunyai hak yaang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada istrinya….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam surat yang lain, Allah berfirman, yang artinya: “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka …” (QS. An-Nisaa: 34).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Menyantuni anggota keluarga yang tidak mampu. Allah berfirman, yang artinya: “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.” (QS. Al-Israa’: 26). (Baca juga: QS. Ar-Ruum: 38).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, dengan mempraktekkan kesembilan perilaku kehidupan islami tersebut dalam keluarga muslim, maka jelas-jelas akan berdampak terhadap tercurahkannya orang tua (baca: ibu) sebagai sumber inspirasi dari perilaku uswah hasanah seorang anak. &lt;em&gt;Wallahu’alam&lt;/em&gt;.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Arda Dinata adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia, &lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.miqra.blogspot.com/"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;http://www.miqra.blogspot.com&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;ADA EBOOK GRATIS SEBAGAI BONUS YANG WAJIB ANDA BACA:&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;· &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.megabuku.com/?ref=1788"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Buku Sukses Untuk Anda. Klik di sini ….&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;br /&gt;· &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.penulissukses.com/?id=buku"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Peta Harta Karun, Menulis Buku &amp;amp; Menerbitkannya Sendiri, dll klik disini…&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35594566-7841412407787587126?l=miqrakeluarga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miqrakeluarga.blogspot.com/feeds/7841412407787587126/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=35594566&amp;postID=7841412407787587126' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35594566/posts/default/7841412407787587126'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35594566/posts/default/7841412407787587126'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miqrakeluarga.blogspot.com/2008/04/ibu-sumber-inspirasi-uswah-hasanah-anak.html' title='Ibu Sumber Inspirasi Uswah Hasanah Anak'/><author><name>MIQRA INDONESIA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11822452084513947586</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_kCq_1_uUTQA/THFakBYdI-I/AAAAAAAAAmo/j5EsKJoBuVQ/S220/Arda+Dinata.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-35594566.post-535749869564169126</id><published>2008-03-20T12:32:00.000+07:00</published><updated>2008-03-20T12:34:12.299+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MIQRA KELUARGA'/><title type='text'>Ibu Pembentuk Karakter dan Kondisi Bangsa</title><content type='html'>&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Oleh: &lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;ARDA DINATA&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Email: &lt;/span&gt;&lt;a href="mailto:arda.dinata@gmail.com"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;arda.dinata@gmail.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;SURGA&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; berada di bawah telapak kaki ibu. Wanita adalah pendidik utama dan pertama. Wanita adalah teman sejawat. Wanita adalah tiang negara. Yang terakhir ini, memproyeksikan bahwa apabila wanita dalam negara tersebut baik -–moralitas, kecerdasan, dan spiritualitasnya---, maka kokohlah negara tersebut. Sebaliknya dapat dipastikan, jika wanitanya buruk, maka hancurlah negara tersebut. Jadi, ibulah yang akan “membentuk” karakter dan kondisi suatu bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara tentang wanita tidak akan pernah ada habisnya, bagaikan sebuah oase yang tidak membosankan, semakin dibicarakan akan semakin terbuai olehnya. Napoleon Bonaparte pernah mengatakan bahwa kemajuan wanita adalah sebagai ukuran kemajuan negeri kaum ibu yang dapat menggoyangkan buaya dengan tangan kirinya, dapat pula menggoyangkan dunia dengan tangan kanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam jauh-jauh hari telah menempatkan wanita dalam posisi yang terhormat. Wanita merupakan sosok manusia dengan seperangkat potensi yang ada dalam dirinya. Wanita dalam bahasa Nurul Husna (1999), diungkapkan bahwa seperti halnya laki-laki, wanita memiliki seperangkat potensi berupa akal, kebutuhan jasmani dan naluri (naluri untuk memepertahankan diri, untuk melestarikan keturunan dan untuk beragama).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih jauh diungkapkan, seiring dengan adanya potensi tersebut, Allah SWT menetapkan keduanya untuk menempati posisi dan peran yang beragama yaitu sebagai hamba Allah, sebagai anggota keluarga dan sebagai anggota masyarakat, maka sesungguhnya pandangan Islam tidak bisa dikatakan mengalami bias gender, karena Islam kadangkala berbicara tentang wanita sebagai wanita (misal dalam soal haid, mengandung, melahirkan, menyusui) dan kadang pula berbicara tentang wanita sebagai manusia tanpa dibedakan dari laki-laki (misal dalam hal kewajiban shalat, zakat, haji, akhlak mulia, amar maruf nahi mungkar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini, ditegaskan pula bahwa kedua pandangan tersebut sama-sama bertujuan mengarahkan wanita secara individual sebagai manusia mulia, dan secara kolektif, bersama kaum lelaki, menjadi bagian tatanan (keluarga dan individu) yang harmonis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas dasar itulah, setiap ibu (yang muslimah), harus memposisikan diri dalam berperilaku dengan tuntunan Alquran dan As-sunnah, sehingga dampaknya dapat menjadi andalan panutan bagi sang anak (baca: menjadi profil wanita muslimah). Dalam beberapa ayat Alquran dan As-sunnah dapat kita temukan gambaran dari profil wanita muslimah ini. Salah satu diantaranya disebutkan bahwa wanita sebagai tiang ummat (baca: QS. Al Qashash: 7-13). Sementara itu, gambaran pribadi wanita sholihah terungkap dalam QS. At Tahrim: 10-12.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita sholihah adalah sebaik-baik hiasan. Menurut Rasulullah Saw dalam salah satu sabdanya menyebutkan: “Tidaklah orang mu’min mendapat keberuntungan sesudah taqwa kepada Allah Azza wa jalla, yang  lebih baik dari pada wanita sholihah. Ialah wanita yang apabila disuruh ia taat, apabila dipandang menyenangkan, apabila diberi bagian menyambut baik dan apabila suaminya tidak ada dia menjaga dirinya dan harta suaminya.” (HR. Ibnu Majah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada koridor demikian, seharusnya wanita muslimah memposisikan dirinya, sehingga kehidupan rumah tangga, berbangsa akan menjadi harmonis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Sebagai Pendidik Karakter&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Alquran, kita diingatkan agar memelihara keluarga dari api neraka. Allah SWT berfirman, yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; … (QS. At Tahrim: 6). Iman Ali bin Abi Thalib menjelaskan makna ayat ini, “Didiklah diri dan kelurgamu dengan perbuatan baik dan saleh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah secara tegas memerintahkan kita untuk mendidik diri sendiri dan keluarga dengan ajaran-ajaran agama, sehingga terbentuk keluarga yang bertaqwa. Bila keluarga baik, maka negara pun baik. Keluarga merupakan negara kecil. Bila ingin membangun negara, kita harus mulai dari keluarga. (Indris Thaha; 1997:10).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mencapai kondisi tersebut, di sini paling tidak kita memerlukan sosok wanita, ibu, atau muslimah yang mampu menjadi pendidik sesuai akhlak Islam. Dan kuncinya ada pada kekayaan ilmu, sehingga kita (baca: ibu) dituntut harus banyak ilmu terutama ilmu agama Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkait dengan menjadikan wanita sebagai pendidik, menurut Indrawati (1999), mengungkapkan bahwa pendidik wanita, tidak hanya menjadi komputer yang siap menyimpan data (file) di luar kepala terhadap sejumlah ilmu pengetahuan, informasi, dan nilai-nilai yang sudah, sedang, dan akan berkembang di masyarakat. Akan tetapi, ia harus menjadi pelaku yang gesit, tampil terampil, berani melangkah dengan tegar dan tegas, dan penuh percaya diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih jauh diungkapkan, wanita diciptakan Tuhan bukan dari tulang tengkorak pria, yang hanya bisa menjadi pemikir. Bukan hanya dari tulang kaki, yang hanya bisa manut untuk berjalan. Bukan pula dari tulang tangan yang hanya bisa menengadah dan mengharap belas kasihan orang lain. Akan tetapi, wanita diciptakan dari rongga dada seorang pria, di mana seluruh pusat kehidupan dimulai dan harus dilindungi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di situlah bergetarnya perasaan dan keimanan, berdenyutnya nafas yang memberikan semangat dan kemauan. Kalau instrumen-instrumen ini baik, maka semua getaran perintah akan meluncur ke otak dengan baik pula. Filosofi demikian harusnya dapat menyadarkan kita semua (terutama kaum ibu) untuk menyadari dan membangun kepribadiannya agar semakna dengan ungkapan bahwa: “Wanita adalah tiang negara dan sorga berada di telapak kaki ibu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, patut kita renungkan apa yang diungkap oleh Sayyid Qutb, melalui tafsirnya yang terkenal (baca: Fi Zhilalil Qur’an; 2000: 539-540), beliau menyatakan bahwa sistem keluarga di dalam Islam terpancar dari mata air fitrah, asal penciptaan dan dasar pembentukan utama bagi semua makhluk hidup dan segenap ciptaan. Keluarga adalah ‘panti asuhan’ alami yang bertugas memelihara dan menjaga tunas-tunas muda yang sedang tumbuh, mengembangkan fisik, akal dan jiwanya. Di bawah bimbingan dan cahaya keluarga, anak-anak ini menguak kehidupan, menafsirkan dan berinteraksi dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, semoga wanita-wanita penghuni bangsa ini tidak melupakan kodrat kewanitaannya, yakni menjadi seorang ibu yang baik. Ibu yang mampu menghasilkan keturunan yang baik pula, menjadi pendidik utama dan pertama sehingga dapat membentuk karakter dan kondisi bangsa Indonesia yang lebih baik serta ada dalam lindungan-Nya. Amin. Wallahu a’lam.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Arda Dinata adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia, &lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.miqra.blogspot.com/"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;http://www.miqra.blogspot.com&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;.&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;ADA EBOOK GRATIS SEBAGAI BONUS YANG WAJIB ANDA BACA:&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;·        &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.megabuku.com/?ref=1788"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Buku Sukses Untuk Anda. Klik di sini ….&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;br /&gt;·        &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.penulissukses.com/?id=buku"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Peta Harta Karun, Menulis Buku &amp;amp; Menerbitkannya Sendiri, dll klik disini…&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35594566-535749869564169126?l=miqrakeluarga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miqrakeluarga.blogspot.com/feeds/535749869564169126/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=35594566&amp;postID=535749869564169126' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35594566/posts/default/535749869564169126'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35594566/posts/default/535749869564169126'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miqrakeluarga.blogspot.com/2008/03/ibu-pembentuk-karakter-dan-kondisi.html' title='Ibu Pembentuk Karakter dan Kondisi Bangsa'/><author><name>MIQRA INDONESIA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11822452084513947586</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_kCq_1_uUTQA/THFakBYdI-I/AAAAAAAAAmo/j5EsKJoBuVQ/S220/Arda+Dinata.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-35594566.post-2344609568477416883</id><published>2008-02-03T11:50:00.000+07:00</published><updated>2008-02-03T11:53:34.311+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MIQRA KELUARGA'/><title type='text'>Bermain, Cara Anak Belajar Kehidupan</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;Oleh: &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;ARDA DINATA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Email: &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;a href="mailto:arda.dinata@gmail.com"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;arda.dinata@gmail.com&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;&lt;br /&gt;SETIAP saat kita harus memunculkan perasaan untuk lebih memperhatikan persoalan anak-anak. Salah satu yang patut kita sadari berkait dengan dunia anak-anak adalah “perlakuan” orang dewasa terhadap diri anak-anak yang dapat menghilangkan hakekat dunia anak-anak itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Sucipto Hadi Purnomo (1996), kini hilangnya dunia anak tidak hanya mengancam anak-anak jalanan, anak-anak pengungsian, dan anak-anak dari keluarga miskin. Karena kehadiran televisi, ancaman itu juga menimpa anak-anak dari keluarga maju dan berada. Lewat televisi, anak-anak dapat melihat dan menirukan apa saja yang dilakukan orang dewasa. Lewat televisi, anak-anak makin teriming-terimingi hal-hal yang sebenarnya hanya untuk orang dewasa. Lewat televisi pula, makin tiada sekat antara dunia anak dan dunia orang dewasa. Anak-anak menjadi matang sebelum waktunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, sadarkah kita kalau selama ini bahwa sedikit-banyaknya selera kita, selera anak-anak kita juga mulai ditentukan oleh pasar! Pernyataan itu mungkin terkesan bombastis. Tapi begitulah kenyataannya, ….ketika para orangtua disibukkan untuk memilih sekolah terbaik bagi buah hatinya. Kini para orangtua harus banting tulang untuk menanamkan investasi pendidikan bagi anaknya, mulai dari memilih TK (yang katanya favorit) atau SD (yang katanya banyak peminatnya), hingga SMP, SMU, atau PT yang kian melimpah. (Idi S.I.&amp;amp; Dede L.C.; 2002).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena seperti itu salah satu penyebabnya adalah karena kebijakan pemerintah dan orang tua yang diliputi oleh obsesi akan keberhasilan anak, secara sistematis anak-anak lantas tercetak menjadi sosok “kecil tapi komplet”, dan terenggutlah waktu bermain mereka. Sehingga sangat wajar peringatan yang dilontarkan oleh sosiolog Amerika Neil Postman, puluhan tahun yang silam, yang sudah mewanti-wanti tentang "hilangnya masa kanak-kanak'' dalam dunia yang makin modern dan maju ini.&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;&lt;em&gt;Arti bermain pada anak&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut UU RI No. 4 tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak, disebutkan anak adalah orang yang berusia 0-21 tahun dan belum menikah. Anak-anak pada umumnya suka meniru sikap dan perilaku orang tua dalam suatu tahap-tahap perkembangan (tumbuh kembang) yang dipengaruhi oleh derajat emosionalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tahu, anak bukan orang dewasa dalam bentuk kecil. Anak adalah manusia yang memiliki dunianya sendiri. Anak merupakan manusia yang masih mengalami perkembangan baik jasmani maupun kejiwaannya. Anak juga manusia yang masih harus mengembangkan segala potensi kognitif, afektif dan psikomotoriknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari itu, anak adalah manusia yang belum dapat memikul tanggung jawabnya sendiri, belum dapat mengambil keputusan atas tanggung jawabnya sendiri. Jadi, anak itu ialah manusia yang belum dapat memilih mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang aman dan mana yang berbahaya baginya. Anak adalah manusia yang belum mencapai taraf kedewasaannya, masih dalam perkembangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi seperti itulah, harusnya yang perlu dipahami oleh orang dewasa sehingga keberadaan egonya tidak akan “membunuh” terhadap eksistensi dunia anak-anak (baca: bermain) yang mestinya dapat dinikmati oleh setiap anak-anak di manapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini yang perlu dipahami dan disadari oleh kita bahwa bermain adalah dunia kerja anak usia pra sekolah dan menjadi hak setiap anak untuk bermain, tanpa dibatasi usia. Dalam pasal (31) Konvensi Hak-Hak Anak (1990) disebutkan, “hak anak untuk beristirahat dan bersantai, bermain dan turut serta dalam kegiatan-kegiatan rekreasi yang sesuai dengan usia anak yang bersangkutan dan untuk turut serta secara bebas dalam kehidupan budaya dan seni”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada konteks seperti itulah, pantas saja Fuad Hassan, mantan Menteri Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menyatakan bahwa “…ada ‘pemaksaan’ anak untuk dilibatkan ke dalam proses belajar sedini mungkin. Kelompok Bermain, Taman Kanak Kanak semestinya tidak lantas beralih fungsi menjadi atau menyerupai sekolah, semata-mata karena terbawa oleh anggapan bahwa sebaiknya anak mulai bersekolah sedini mungkin. Kedua bentuk program itu tidak seharusnya berubah menjadi lembaga pendidikan yang melancarkan kegiatan skolastik dan bersifat prestatif dengan akibat menyusutnya kesempatan anak melibatkan diri dalam kegiatan bermain yang bisa dinikmatinya sebagai suasana rekreatif.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini penekanannya pada tahap perkembangan seorang anak. Yakni masa anak-anak itu diperlukan suatu pendekatan bermain. Dalam hal ini seperti ditegaskan Dra. Menuk Teguh Riyati pada seminar Multiple Intelligence: Modal Membentuk Anak Tangguh dan Sukses bahwa bermain merupakan cara anak belajar tentang kehidupan. Melalui kegiatan bermain, anak dapat bereksplorasi, menemukan jati diri dan mengembangkan ide-ide yang mereka miliki. Bermain juga bisa memperkecil stres anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut diungkapkan Menuk, rasa ingin tahu anak bisa berkembang melalui kegiatan bermain. Bukan itu saja, bermain dapat membantu perkembangan bahasa  dan sosio-emosional anak. Yang jelas patut disadari seorang anak itu menurut teori multiple intelligence, anak itu memiliki sembilan kecerdasan. Yakni kecerdasan linguistik, logis matematis, spasial, kinestik jasmani, dan musikal. Kemudian kecerdasan antarpribadi, intrapribadi, naturalis, dan moral. (Republika, 18/5/03).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Jenis permainan        &lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Untuk mewujudkan tujuan tersebut, maka kita tentu tidak boleh salah langkah dalam menentukan jenis permainan yang tepat diberikan pada anak-anak. Menurut Caillois permainan itu dibagi menjadi empat bagian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(a) Agon.&lt;/em&gt; Jenis permainan ini mencakup semua bentuk permainan yang bersifat pertandingan atau perlombaan. Dalam pelaksanaannya, kedua pihak yang berlawanan memperoleh hak dan kesempatan yang sama. Hal ini diatur oleh peraturan. Karena itu wasit yang mengatur jalannya pertandingan menjalankan tugasnya tanpa niat memihak. Tujuan akhir ialah mencapai kemenangan. Karena itu, perjuangan fisik begitu menonjol seperti terungkap dalam kualitas kemampuan organ tubuh berfungsi, misalnya kecepatan, daya tahan, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(b) Alea.&lt;/em&gt; Dalam bahasa Latin kata ini digunakan untuk permainan memakai dadu. Istilah ini digunakan untuk menamakan sekelompok permainan yang hasilnya bersifat untung-untungan atau keberuntungan salah satu pihak. Dalam pelaksanaanya, si pemain cenderung pasif dan tak memperagakan kemampuannya yang bersumber pada penguasaan keterampilan, otot, atau kecerdasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(c) Mimikri.&lt;/em&gt; Jenis ini mencakup semua bentuk permainan yang mengandung ciri pokok bermain seperti dikemukakan Huizinga yaitu kebebasan, batasan waktu dan ruang, dan bukan sungguhan. Tersirat didalamnya ilusi, imajinasi, dan interpretasi. Semua jenis permainan anak-anak yang cenderung berperan berpura-pura, seperti main perang-perangan, memanusiakan benda, dan memperlakukan satu objek dengan fungsi lain (misalnya, kursi, sebagai mobil) tergolong jenis mimikri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(d) Ilinx. &lt;/em&gt;Jenis ini mencakup semua bentuk permainan yang mencerminkan pelampiasan keinginan untuk bergerak, bertualang, dan dalam wujud kegiatan dinamis, sebagai lawan dari keadaan diam, stabil atau seimbang. Mendaki gunung, olah raga di alam terbuka, permainan ayunan anak-anak, merupakan contoh dari permainan yang termasuk kategori keempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Penutup&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan anak dan bermain merupakan sesuatu yang patut kita cermati secara benar dalam membangun keutuhan seorang anak. Bermain itu sendiri adalah aktivitas yang menyenangkan dan merupakan kebutuhan yang melekat dalam diri setiap anak. Dengan demikian anak dapat belajar berbagai keterampilan dengan senang hati, tanpa merasa terpaksa atau dipaksa untuk mempelajarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermain merupakan jembatan bagi anak dari belajar secara informal menjadi formal. Dalam bahasa Mayke S. Tedjasaputra (2001), bermain dapat bermanfaat untuk perkembangan fisik; motorik kasar dan motorik halus; aspek sosial; aspek emosi dan kepribadian; aspek kognisi; mengasah ketajaman penginderaan; mengembangkan keterampilan olahraga dan menari; sebagai media terapi; dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya masihkah orang dewasa akan bersikap “memaksa” keinginannya yang akan merampas dunia bermain anak-anak yang sejatinya adalah buah hati dan dambaan orang tua di masa yang akan datang. Kalau bukan sekarang, lantas kapan lagi kita mau memberi ruang bermain yang cukup pada anak-anak kita? Wallahu’alam.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Penulis adalah peminat masalah anak dan Pendiri Majelis Inspirasi Alquran &amp;amp; Realitas Alam (MIQRA), tinggal di Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arda Dinata adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia, &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;a href="http://www.miqra.blogspot.com/"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;&lt;em&gt;http://www.miqra.blogspot.com&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;&lt;em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;ADA EBOOK GRATIS SEBAGAI BONUS YANG WAJIB ANDA BACA:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;·        &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;a href="http://www.megabuku.com/?ref=1788"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;Buku Sukses Untuk Anda. Klik di sini ….&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;&lt;br /&gt;·        &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;a href="http://www.penulissukses.com/?id=buku"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;Peta Harta Karun, Menulis Buku &amp;amp; Menerbitkannya Sendiri, dll klik disini…&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35594566-2344609568477416883?l=miqrakeluarga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miqrakeluarga.blogspot.com/feeds/2344609568477416883/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=35594566&amp;postID=2344609568477416883' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35594566/posts/default/2344609568477416883'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35594566/posts/default/2344609568477416883'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miqrakeluarga.blogspot.com/2008/02/bermain-cara-anak-belajar-kehidupan.html' title='Bermain, Cara Anak Belajar Kehidupan'/><author><name>MIQRA INDONESIA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11822452084513947586</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_kCq_1_uUTQA/THFakBYdI-I/AAAAAAAAAmo/j5EsKJoBuVQ/S220/Arda+Dinata.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-35594566.post-3531594849655044254</id><published>2008-01-20T21:41:00.000+07:00</published><updated>2008-01-20T21:43:43.932+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MIQRA KELUARGA'/><title type='text'>Bekal Berkeluarga dengan Bening Hati</title><content type='html'>Oleh: &lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;ARDA&lt;/span&gt; &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;DINATA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Email: &lt;a href="mailto:arda.dinata@gmail.com"&gt;arda.dinata@gmail.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bening berarti sesuatu yang dapat dikatakan dalam kondisi jernih, hening, dan atau transparan. Dalam ilmu anatomi, hati diartikan sebagai suatu bagian isi perut yang merah kehitam-hitaman warnanya, terletak di sebelah kanan perut besar, gunanya untuk mengambil sari-sari makanan di dalam darah dan menghasilkan empedu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati juga disebut sebagai sesuatu yang ada di dalam tubuh manusia yang dianggap sebagai tempat (pusat) segala perasaan batin dan tempat menyimpan pengertian-pengertian (perasaan-perasaan, dsb). Arti lainnya, hati merupakan pusat pemahaman/ internalisasi. Pusat Intutional Intelectual (II). Pusat memori dari semua amal (baik-buruk). Indera perasaan (rasa halus), untuk pencerapan hal yang abstrak. Indera hati (mata dan telinga hati), untuk pencerapan alam gaib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hati itulah, organ badan lainnya mengambil keteladanannya, dalam ketaatan atau penyimpangan –selalu mengikuti dan patuh dalam setiap keputusannya--, Nabi Saw bersabda: “Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh ini ada sepotong daging. Apabila ia baik, maka baik pula seluruh tubuh, dan bila ia rusak, maka rusak pula seluruh tubuh. Ketahuilah, sepotong daging itu ialah hati.” (HR. Bukhari-Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati manusia itu memiliki komponen sifat hidup dan mati. Dalam tataran ini, hati manusia diklasifikasikan menjadi tiga. &lt;em&gt;Pertama, Qalbun Shahih&lt;/em&gt; (hati yang suci). Yaitu hati yang sehat dan bersih dari setiap nafsu yang menentang perintah dan larangan Allah, dan dari setiap penyimpangan yang menyalahi keutamaan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kedua, Qalbun Mayyit&lt;/em&gt; (hati yang mati). Yaitu hati yang tidak pernah mengenal Ilahnya; tidak menyembah-Nya, tidak mencintai atau ridha kepada-Nya. Akan tetapi, ia berdiri berdampingan dengan syahwatnya dan memperturutkan keinginannya, walaupun hal ini menjadikan Allah marah dan murka dibuatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ketiga&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Qalbun Maridl&lt;/em&gt;. Yaitu hati yang sebenarnya memiliki kehidupan, namun di dalamnya tersimpan benih-benih penyakit. Tepatnya, kondisi hati ini kadang-kadang ia “berpenyakit” dan kadang pula hidup secara normal, bergantung ketahanan (kekebalan) hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkatnya, hati merupakan sifat (tabiat) batin manusia. Sehingga, tidak berlebihan, apabila kita dituntut untuk selalu menjaga dan memelihara hati dari sesuatu yang dapat mengotorinya. Puncaknya, tidak lain kita berusaha menjadikan kehidupan ini selalu diselimuti dengan bening hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa indahnya, hidup dengan bening hati. Bening hati berarti jernih hatinya (mudah mengerti, dsb) akan sesuatu kebenaran menurut pandangan Allah yang diperlihatkan kepada manusia. Suasana kehidupan dengan bening hati akan selalu mengkonsulkan segala aktivitas hidupnya dengan indera perasaan (kebenaran) dan suara hati nuraninya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Berkeluarga&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Berkeluarga merupakan sistem kemanusiaan yang urgenitasnya ditekankan oleh Islam. Keluarga adalah elemen dasar dalam komunitas masyarakat. Syariat Islam yang toleran telah memberikan perhatian yang besar terhadap institusi keluarga, sehingga ia menduduki posisi layak yang membuat ia menjadi pijakan kokoh bagi setiap muslim untuk mewujudkan kemuliaan, kehormatan, dan amal saleh yang bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mewujudkannya, di dalam keluarga perlu dibangun suatu sistem pembelajaran yang dilandasi kebeningan hati. Perumpamaan hati adalah cermin. Selama ia bersih dari kotoran, maka dapatlah dilihat padanya segala sesuatu. Apabila ia tertutup kotoran dan tidak ada yang membersihkannya, maka ia pun diselimuti kotoran, yang pada akhirnya binasa –tidak dapat dibersihkan--.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah, kondisi bening hati dalam keluarga merupakan sesuatu yang dapat melejitkan potensi terciptanya keluarga sakinah.? Rasulullah Saw bersabda, “Apabila Allah Swt menghendaki suatu rumah tangga yang baik (bahagia), diberikan-Nya kecenderungan menghayati ilmu-ilmu agama; yang muda menghormati yang tua; harmoni dalam kehidupan; hemat dan hidup sederhana; melihat (menyadari) cacat-cacat mereka dan kemudian melakukan taubat. Jika Allah Swt menghendaki sebaliknya, maka ditinggalkan-Nya mereka dalam kesesatan.” (HR. Dailami dan Anas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits di atas menunjukkan bahwa untuk mendapat kecenderungan tersebut, maka modal yang perlu dibangun tidak lain setiap anggota keluarga harus selalu menjaga kebeningan hati. Dan orang-orang yang menjaga (memiliki) kekuatan kebeningan hati, Allah menjanjikannya dengan memasukkan mereka ke dalam surga (baca: QS. Al Mujaadilah: 22).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiranya, salah satu teladan yang bisa kita contoh dalam membangun kebeningan hati dalam keluarga, selain keluarga Rasulullah Saw, adalah keluarga Khalifah Ali bin Abu Thalib. Ali ra adalah suami dari Fatimah putri Rasulullah. Beliau sejak kecil hidup bersama Rasulullah, karena Rasulullah pernah diasuh oleh ayah Ali. Setelah Rasulullah menikah dengan Siti Khodijah, Ali ikut bersama Rasulullah dan dibesarkan, diasuh serta dididik sehingga tumbuh sebagai anak yang berbudi luhur, cerdik, dan pemberani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberanian dan kebeningan hati Ali ini tercermin pada ikut sertanya dalam hampir seluruh peperangan yang dipimpin Rasulullah. Ali senantiasa berada di barisan muka. Seringkali kaum muslimin memperoleh kemenangan karena keberaniannya dan ketangkasannya, Ali dikenal dengan Dzulfaqar karena pedangnya yang bermata dua. Namun demikian, Ali sehari-hari dalam keluarga, perilakunya selalu lemah lembut –sebagai pancaran kebeningan hati--.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budi pekerti Islam, kesalehan, keadilan, toleransi dan kebersihan jiwa Ali sangat terkenal. Ia termasuk salah seorang dari tiga tokoh (Abu Bakar As Shiddiq, Umar bin Khatab, Ali bin Abu Thalib) yang di dalam dirinya tercermin kepribadian Rasulullah. Mereka bertiga laksana mutiara yang memancarkan cahayanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkait dengan kebeningan hati ini, Ali ra berkata, “Sesungguhnya Allah ta’ala di bumi-Nya mempunyai sebuah wadah, yaitu hati. Maka yang paling dicintai Allah ialah hati yang paling lembut, paling jernih, dan paling keras.” Kemudian beliau menafsirkannya. Maka beliau berkata, “Maksudnya ialah yang paling keras dalam agama, paling jernih dalam keyakinan, serta paling lembut terhadap saudara-saudaranya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukti kebeningan hati Ali ra, tercermin juga pada kejadian berikut ini. Pada suatu hari Khalifah Ali bin Abu Thalib menegur Ashim bin Ziyad yang mengenakan pakaian terbuat dari bahan sangat kasar (aba’ah) dan meninggalkan sama sekali kenikmatan hidup di dunia. Beliau berkata: “Hai ‘musuh kecil’ dirinya sendiri! Sesungguhnya engkau telah disesatkan oleh setan. Tidaklah engkau mengasihani si istri dan anak-anakmu? Apakah menurut perkiraanmu, Allah Swt telah menghalalkan bagimu segala yang baik, lalu Ia tidak menyukai engkau menikmatinya …? Sungguh, dirimu terlalu kecil untuk dituntut melakukan seperti itu oleh-Nya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tetapi, wahai Amirul Mukminin,” ujar Ashim, “Anda sendiri memberi contoh dengan mengenakan pakaian amat kasar dan memakan makanan yang kering!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ketahuilah,” jawab Ali, “Dirimu tidak seperti diriku, sebab Allah telah mewajibkan atas para pemimpin yang benar agar mengukur dirinya dengan keadaan rakyat yang lemah, sehingga orang miskin tidak sampai tersengat oleh kepedihan kemiskinannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasehat Ali itu menunjukkan bahwa tidak masalah bagi rakyat biasa menikmati suatu karunia-Nya –sepanjang menikmatinya benar dan tidak melupakan kepada fakir miskin--. Sebaliknya, Ali mengecam orang yang memilih hidup amat miskin hingga menelantarkan keluarga, padahal ia mampu untuk hidup lebih baik. Sedangkan, pemimpin yang baik, harus mengukur dirinya dengan keadaan rakyat yang lemah. Dampaknya, orang miskin tidak terlalu pedih atau putus asa dan adanya kesederhanaan pemimpin akan memberikan teladan bagi si kaya dalam membelanjakan hartanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh indah, suatu keluarga yang hidupnya dibangun dengan kebeningan hati. Maka, panjatkanlah selalu doa: “…. Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Furqaan: 74). ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Arda Dinata adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia, &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;a href="http://www.miqra.blogspot.com/"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;http://www.miqra.blogspot.com&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;ADA EBOOK GRATIS SEBAGAI BONUS YANG WAJIB ANDA BACA:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;·        &lt;a href="http://www.megabuku.com/?ref=1788"&gt;Buku Sukses Untuk Anda. Klik di sini ….&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;·        &lt;a href="http://www.penulissukses.com/?id=buku"&gt;Peta Harta Karun, Menulis Buku &amp;amp; Menerbitkannya Sendiri, dll klik disini…&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35594566-3531594849655044254?l=miqrakeluarga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miqrakeluarga.blogspot.com/feeds/3531594849655044254/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=35594566&amp;postID=3531594849655044254' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35594566/posts/default/3531594849655044254'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35594566/posts/default/3531594849655044254'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miqrakeluarga.blogspot.com/2008/01/bekal-berkeluarga-dengan-bening-hati.html' title='Bekal Berkeluarga dengan Bening Hati'/><author><name>MIQRA INDONESIA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11822452084513947586</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_kCq_1_uUTQA/THFakBYdI-I/AAAAAAAAAmo/j5EsKJoBuVQ/S220/Arda+Dinata.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-35594566.post-8199691147785639793</id><published>2007-11-14T00:32:00.000+07:00</published><updated>2007-11-14T00:34:55.922+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MIQRA KELUARGA'/><title type='text'>Akhlak Islam, Pembentuk Pribadi Unggul</title><content type='html'>Oleh: &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;ARDA DINATA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Email: &lt;a href="mailto:arda.dinata@gmail.com"&gt;arda.dinata@gmail.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;strong&gt;KEHADIRAN&lt;/strong&gt; Islam jelas-jelas merupakan kebaikan dan keselamatan bagi umat manusia. Pada masa awal Islam dan era Khulafaur Rasyidin, tak dipungkiri bahwa keluarga muslim telah mendapatkan kebahagiaan. Kuncinya, disebabkan ia memformat sesuai dengan manhaj yang lurus. Yaitu semua usaha kedua orang tua yang dicurahkan untuk mendidik anak-anaknya dalam naungan agama (Islam), melejitkan mereka untuk mencintai Allah dan bertakwa kepada-Nya, dan menanamkan akhlak mulia –akhlak Islam—dalam diri keluarga mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhlak mulia ini merupakan cerminan keimanan dan amal saleh seseorang. Dan akhlak mulia juga merupakan ciri-ciri keunggulan manusia, disamping tentunya berupa keimanan yang utuh dan amal ibadah itu sendiri –baik yang khususiah maupun fardhu kifayah--.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas dasar itu, pantas saja Islam mengajarkan dalam landasan memilih pasangan hidup (baca: baik bagi pihak lelaki maupun wanita), berpedoman pada landasan kesalehan yang benar dan keterkaitan/ jalinan yang utuh kepada Allah dan Rasul-Nya. Nabi Saw bersabda, “Jika datang seorang pelamar yang bagus agamanya kepadamu, maka kawinkanlah dia. Karena jika tidak, akan terjadi fitnah di atas bumi dan banyak kerusakan.” (HR. Abu Daud dan at-Tirmidzi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batasan seperti itulah, kiranya yang patut menjadi dasar setiap muslim/muslimah dalam berusaha membangun sebuah ikatan keluarga sakinah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Akhlak Pribadi Unggul&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan akhlak mulia bagi setiap pribadi unggul, adalah buah dari keimanan yang kental. Dan ini merupakan kekayaan yang tinggi nilainya dalam kehidupan manusia. Untuk itu, sejak awal kita harus berusaha memburu keilmuan tentang itu sebagai bekal dalam membangun kehidupan berumah tangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini, kita telah sepakat bahwa kemuliaan akhlak bangsa ini akan tumbuh dengan baik, bila individu-individu dalam keluarga itu telah memiliki akhlak mulia. Dan Rasulullah Saw adalah contoh utama pembentuk akhlak dalam kehidupan setiap muslim. Dalam sebuah hadits, Nabi Saw bersabda, “Sesungguhnya aku diutuskan untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan demikian, insya Allah akan terwujud, manakala setiap diri kita meniatkan secara sungguh-sungguh lagi ikhlas mengharap ridha-Nya. Sehingga dari sini akan terbentuk sebuah tatanan yang terjalin dengan nilai-nilai akhlakul karimah. Dan melalui nilai-nilai ini dan disiplin yang diamalkan oleh anggota masyarakat, maka akan lahirlah sebuah masyarakat yang aman, damai, harmonis dan diselimuti ruhiah Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini, ada beberapa nilai akhlak Islam yang menjadi tonggak amalan –sehingga patut dikedepankan— bagi setiap (keluarga) muslim dalam melahirkan individu/pribadi unggul. &lt;strong&gt;Pertama, ikhlas.&lt;/strong&gt; Ikhlas adalah inti dari setiap ibadah dan perbuatan seorang muslim. Allah SWT berfirman dalam QS. Al Bayyinah: 5, ”Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan –keikhlasan— kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan sholat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keikhlasan seseorang ini, akan menghasilkan kemenangan dan kejayaan. Anggota masyarakat yang mengamalkan sifat ikhlas, akan mencapai kebaikan lahir-bathin dan dunia-akherat, bersih dari sifat kerendahan dan mencapai perpaduan, persaudaraan, perdamaian serta kesejahteraan. Nabi Saw bersabda, “Bahagialah dengan limpahan kebaikan bagi orang-orang yang bila dihadiri (berada dalam kumpulan) tidak dikenal, tetapi apabila tidak hadir tidak pula kehilangan. Mereka itulah pelita hidayah. Tersisih daripada mereka segala fitnah dan angkara orang yang zalim.” (HR. Imam al-Baihaqi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kedua, amanah.&lt;/strong&gt; Yaitu sifat mulia yang mesti diamalkan oleh setiap orang. Dalam suatu sumber menyebutkan, amanah adalah asas ketahanan ummat, kestabilan negara, kekuasaan, kehormatan dan roh kepada keadilan. Singkatnya, amanah berarti sesuatu yang dipercayakan sehingga kita harus menjaga amanah tersebut. Dalam hal ini, Allah berfirman dalam Alquran, yang artinya: “….maka tunaikanlah oleh orang yang diamanahkan itu akan amanahnya dan bertakwalah kepada Allah Tuhannya;….” (QS. Al Baqarah: 283).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ketiga, adil.&lt;/strong&gt; Bersifat adil, berarti menempatkan/ meletakan sesuatu pada tempatnya. Adil juga tidak lain ialah berupa perbuatan yang tidak berat sebelah. Para Ulama menempatkan adil kepada beberapa peringkat, yaitu adil terhadap diri sendiri, bawahan, atasan/ pimpinan dan sesama saudara. Nabi Saw bersabda, “Tiga perkara yang menyelamatkan yaitu takut kepada Allah ketika bersendiriaan dan di khalayak ramai, berlaku adil pada ketika suka dan marah, dan berjimat cermat ketika susah dan senang; dan tiga perkara yang membinasakan yaitu mengikuti hawa nafsu, terlampau bakhil, dan kagum seseorang dengan dirinya sendiri.” (HR. Abu Syeikh).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Keempat, bersyukur.&lt;/strong&gt; Bersyukur pada tataran menjadi pribadi unggul berlaku pada dua keadaan. (1) Sebagai tanda kerendahan hati terhadap segala nikmat yang diberikan oleh Sang Pencipta adalah sama, baik sedikit atau banyak. (2) Bersyukur sesama makhluk sebagai ketetapan daripada Allah, supaya kebajikan senantiasa dibalas dengan kebajikan. Allah berfirman, “…. Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan sekiranya kamu mengingkari –kufur— (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kelima, tekun.&lt;/strong&gt; Ketekunan ini tidak lain adalah usaha dengan rajin, keras hati dan bersungguh-sungguh. Islam sendiri, jauh-jauh hari telah menggalakan umatnya untuk tekun apabila melakukan sesuatu pekerjaan. Sehingga dapat diselesaikan dengan baik dan berjaya. Nabi Saw dalam sabdanya menyebutkan, “Sesungguhnya Allah SWT menyukai apabila seseorang bekerja, dia melakukan dengan tekun.” (HR. Abu Daud).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perilaku ketekunan seseorang ini, maka akan meningkatkan produktivitasnya, melahirkan suasana kerja yang aman, dan memberi kesan yang baik kepada masyarakat sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Keenam, disiplin.&lt;/strong&gt; Yaitu ketaatan pada aturan dan tata tertib. Untuk itu, berdisiplin dalam menjalankan suatu kerja akan dapat menghasilkan mutu kerja yang cemerlang. Sehingga perilaku disiplin ini, akan mengantarkan hasrat negara untuk menjadi maju dan unggul dapat dicapai lebih cepat lagi, bila dibandingkan dengan perilaku tidak disiplin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari itu, dengan berdisiplin diri, seseorng itu akan dapat menguatkan pegangannya terhadap ajaran agama dan menghasilkan mutu kerja yang cemerlang serta prestatif –unggul--.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ketujuh, sabar.&lt;/strong&gt; Yaitu sifat tahan menderita sesuatu (tidak lekas marah; tidak lekas patah hati; tidak lepas putus asa; dsb) –tenang--. Di dalam menghadapi cobaan hidup, ternyata kesabaran ini sangat penting untuk membentuk individu/ pribadi unggul. Hal ini seperti dikehendaki Allah SWT dalam QS. Ali Imran: 200, “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu (menghadapi segala kesukaran dalam mengerjakan perkara-perkara kebajikan) dan kuatkanlah kesabaranmu (lebih dari kesabaran musuh di medan perjuangan) dan tetaplah bersiap siaga (dengan kekuatan pertahanan di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung (berjaya).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, dengan dimilikinya sifat-sifat unggul tersebut, maka seseorang akan sangat beruntung karena ia mampu mengemudi hidupnya dengan “kesempurnaan”. Dan kondisi demikian, membuat seseorang dapat berperan dengan baik kepada dirinya dan alam sekitarnya. Bukankah, hidup seseorang dikatakan baik, manakala ia dapat berguna bagi orang lain? &lt;em&gt;Wallahu’alam&lt;/em&gt;.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Arda Dinata adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia, &lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.miqra.blogspot.com/"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;http://www.miqra.blogspot.com&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;ADA EBOOK GRATIS SEBAGAI BONUS YANG WAJIB ANDA BACA:&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;·        &lt;a href="http://www.megabuku.com/?ref=1788"&gt;Buku Sukses Untuk Anda. Klik di sini ….&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;·        &lt;a href="http://www.penulissukses.com/?id=buku"&gt;Peta Harta Karun, Menulis Buku &amp;amp; Menerbitkannya Sendiri, dll klik disini…&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35594566-8199691147785639793?l=miqrakeluarga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miqrakeluarga.blogspot.com/feeds/8199691147785639793/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=35594566&amp;postID=8199691147785639793' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35594566/posts/default/8199691147785639793'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35594566/posts/default/8199691147785639793'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miqrakeluarga.blogspot.com/2007/11/akhlak-islam-pembentuk-pribadi-unggul.html' title='Akhlak Islam, Pembentuk Pribadi Unggul'/><author><name>MIQRA INDONESIA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11822452084513947586</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_kCq_1_uUTQA/THFakBYdI-I/AAAAAAAAAmo/j5EsKJoBuVQ/S220/Arda+Dinata.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-35594566.post-2437346031262719497</id><published>2007-11-09T20:16:00.000+07:00</published><updated>2007-11-09T20:17:01.102+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MIQRA KELUARGA'/><title type='text'>Agar Anak Tidak Mengompol</title><content type='html'>Oleh: &lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;ARDA DINATA&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Email: &lt;a href="mailto:arda.dinata@gmail.com"&gt;arda.dinata@gmail.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada anak yang usianya lebih dari 3 tahun masih mengompol pada saat tidur. Hal ini biasanya disebabkan oleh faktor psikologis (rasa takut, cemas, cemburu, dll); gangguan kesehatan (akibat terkena infeksi kandung kemih, saluran air kencing, dll); dan keadaan cuaca yang sangat dingin maupun panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini, beberapa tips yang bisa kita lakukan agar kebiasaan mengompol pada anak tidak berlanjut, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.      Biasakan anak untuk mengendalikan buang air kecil mulai siang hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.      Biasakan anak sebelum tidur untuk tidak memakan makanan yang banyak mengandung air dan makanan yang menuntut banyak minum (misalnya makanan pedas, asin, dll).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.      Ciptakanlah kondisi ruangan yang menyenangkan dan menentramkan anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.      Pada saat tidur, biasakan anak agar bangun setiap empat jam sekali untuk buang air kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.      Jika kebiasaan mengompol itu masih terus berlanjut, maka segera konsultasikan kepada dokter keluarga Anda.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Arda Dinata adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia, &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;a href="http://www.miqra.blogspot.com/"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;http://www.miqra.blogspot.com&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;ADA EBOOK GRATIS SEBAGAI BONUS YANG WAJIB ANDA BACA:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;·        &lt;a href="http://www.megabuku.com/?ref=1788"&gt;Buku Sukses Untuk Anda. Klik di sini ….&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;·        &lt;a href="http://www.penulissukses.com/?id=buku"&gt;Peta Harta Karun, Menulis Buku &amp;amp; Menerbitkannya Sendiri, dll klik disini…&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35594566-2437346031262719497?l=miqrakeluarga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miqrakeluarga.blogspot.com/feeds/2437346031262719497/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=35594566&amp;postID=2437346031262719497' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35594566/posts/default/2437346031262719497'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35594566/posts/default/2437346031262719497'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miqrakeluarga.blogspot.com/2007/11/agar-anak-tidak-mengompol.html' title='Agar Anak Tidak Mengompol'/><author><name>MIQRA INDONESIA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11822452084513947586</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_kCq_1_uUTQA/THFakBYdI-I/AAAAAAAAAmo/j5EsKJoBuVQ/S220/Arda+Dinata.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-35594566.post-6061713102925121420</id><published>2007-11-08T08:03:00.000+07:00</published><updated>2007-11-08T08:05:46.782+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MIQRA KELUARGA'/><title type='text'>7 Aspek Perkembangan Anak</title><content type='html'>Oleh: &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;ARDA DINATA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Email: &lt;a href="mailto:arda.dinata@gmail.com"&gt;arda.dinata@gmail.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;DALAM&lt;/strong&gt; kehidupan anak, ada dua proses yang berlangsung secara kontiyu. Yaitu pertumbuhan dan perkembangan. Kedua proses ini berlangsung secara interdependen, saling bergantung satu sama lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertumbuhan dan perkembangan merupakan proses alamiah yang terjadi pada setiap mahluk hidup. Pada masa balita proses pertumbuhan dan perkembangan ini terjadi dengan sangat cepat. Perubahan yang terjadi pada seorang anak pun tidak hanya meliputi perubahan fisik, tetapi juga perkembangan berpikir, perasaan, sosial, dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Dr. Kartini Kartono (1995) dalam bukunya psikologi anak, mendefinisikan pertumbuhan dengan perubahan secara fisiologis sebagai hasil dari proses pematangan fungsi-fungsi fisik yang berlangsung secara normal pada anak yang sehat, dalam peredaran waktu tertentu. Sedangkan perkembangan diartikan sebagai perubahan-perubahan psiko-fisik sebagai hasil dari proses pematangan fungsi-fungsi psikis dan fisik pada anak, ditunjang oleh faktor-faktor lingkungan dan proses belajar dalam peredaran waktu tertentu menuju kedewasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas, perkembangan anak tidak berlangsung secara mekanis-otomatis. Tapi, sangat bergantung pada beberapa faktor secara simultan. Yaitu (1) faktor keturunan (warisan sejak lahir, bawaan). (2) Faktor lingkungan yang menguntungkan atau yang merugikan. (3) Kematangan fungsi-fungsi organis dan psikis. Dan (4) aktivitas anak sebagai subyek bebas yang berkemauan, memiliki kemampuan seleksi, bisa menolak atau menyetujui, memiliki emosi, dan berusaha membangun diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyikapi faktor penentu perkembangan anak di atas, maka setidaknya ada tujuh aspek perkembangan anak yang harus dibina. &lt;strong&gt;(1) Perkembangan gerakan motorik kasar.&lt;/strong&gt; Gerakan motorik adalah semua gerakan yang dilakukan oleh seluruh tubuh. Sedangkan yang termasuk gerakan motorik kasar ialah apabila gerakan yang dilakukan melibatkan sebagian besar dari kegiatan tubuh dan biasanya memerlukan tenaga, karena dilakukan oleh otot-otot besar. Misalnya, duduk tanpa dibantu; merangkak, bangkit, dan berdiri tanpa dibantu; dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;(2) Perkembangan motorik halus.&lt;/strong&gt; Yaitu gerakan yang dilakukan oleh bagian-bagian tubuh tertentu saja dan dilakukan oleh otot-otot kecil. Karena biasanya tidak begitu memerlukan tenaga, tetapi memerlukan koordinasi yang cermat. Misalnya, menjangkau, mencekam, memasukan benda ke mulut; mengenal benda dengan menggunakan jempol dan satu jari; memindahkan benda dari tangannya; dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;(3) Perkembangan komunikasi yang pasif&lt;/strong&gt;. Dalam hal ini, kemampuan anak untuk mengerti isyarat dan pembicaraan orang lain. Misalnya, menengok ke arah sumber bunyi; menghentikan kegiatan kalau mendengar ada kata perintah; memberikan reaksi yang berbeda terhadap macam-macam jenis suara; dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;(4) Perkembangan komunikasi aktif.&lt;/strong&gt; Yakni kemampuan anak untuk mengungkapkan keinginan dan perasaan dalam bentuk kata-kata. Misalnya, membuat bunyi-bunyi seperti tangisan; mengulangi bunyi (mengoceh) kalau sedang sendiri atau diajak bicara; mencoba meniru bunyi menurut kemampuan anak; dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;(5) Perkembangan kecerdasan&lt;/strong&gt;. Kecerdasan ini mengandung makna kemampuan daya ingat, daya tangkap seorang anak pada umur tertentu. Anak yang pandai akan cepat tanggap dalam membandingkan dan membedakan ide. Kemampuan kecerdasan anak ini, apabila tidak terlaksana pada waktunya akan menimbulkan kesukaran pada diri anak. Misalnya, mengikuti benda bergerak dengan mata; mengikuti gerakan dan perbuatan; mengenal orang berbeda-beda; memberikan reaksi pada orang yang belum dikenal dengan menangis atau menatap terus-menerus; dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;(6) Perkembangan kemampuan menolong diri sendiri&lt;/strong&gt;. Dalam hal ini, adalah ketrampilan dan kemampuan menolong diri sendiri pada saat umur tertentu. Walaupun secara alamiah seorang anak masih harus ditolong, tetapi hendaknya sudah mulai belajar untuk dapat melakukan sendiri tanpa ada pertolongan orang lain, agar anak tidak merasa canggung lagi melakukannya. Misalnya, menyuapkan biskuit ke mulut; memegang cangkir/ gelas dengan tangan tidak dibantu; dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;(7) Perkembangan tingkah laku sosial&lt;/strong&gt;. Yaitu tingkah laku yang mencerminkan kemampuan hidup berdampingan dengan orang lain. Perkembangan ini berdampak terhadap bagaimana seseorang anak dapat membiasakan menyesuaikan diri dengan lingkungan, dapat menerima, membantu, dan menghargai orang lain. Misalnya, tersenyum secara spontan; menaruh perhatian kalau namanya sendiri disebut; memberikan reaksi terhadap perkataan “tidak”; dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa contoh perkembangan anak di atas, merupakan kemampuan yang harus dicapai oleh anak umur 0 - 1 tahun. Semoga ketujuh aspek tersebut menjadi perhatian para orangtua yang mengharapkan anaknya dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Arda Dinata, Seorang Pendidik dan Alumnus Kesehatan Lingkungan Kutamaya Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arda Dinata adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia, &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;a href="http://www.miqra.blogspot.com/"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;http://www.miqra.blogspot.com&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;ADA EBOOK GRATIS SEBAGAI BONUS YANG WAJIB ANDA BACA:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;·        &lt;a href="http://www.megabuku.com/?ref=1788"&gt;Buku Sukses Untuk Anda. Klik di sini ….&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;·        &lt;a href="http://www.penulissukses.com/?id=buku"&gt;Peta Harta Karun, Menulis Buku &amp;amp; Menerbitkannya Sendiri, dll klik disini…&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35594566-6061713102925121420?l=miqrakeluarga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miqrakeluarga.blogspot.com/feeds/6061713102925121420/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=35594566&amp;postID=6061713102925121420' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35594566/posts/default/6061713102925121420'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35594566/posts/default/6061713102925121420'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miqrakeluarga.blogspot.com/2007/11/7-aspek-perkembangan-anak.html' title='7 Aspek Perkembangan Anak'/><author><name>MIQRA INDONESIA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11822452084513947586</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_kCq_1_uUTQA/THFakBYdI-I/AAAAAAAAAmo/j5EsKJoBuVQ/S220/Arda+Dinata.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-35594566.post-8590164796973643778</id><published>2007-11-07T09:23:00.000+07:00</published><updated>2007-11-07T09:25:23.076+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MIQRA KELUARGA'/><title type='text'>Perhatikanlah Anak-Anakmu</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Oleh &lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Arda Dinata&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;“Jikalau Anda tidak mengatakan kebenaran tentang diri sendiri, Anda tidak dapat mengatakan kebenaran tentang orang lain.”&lt;br /&gt; (Virgina Woolf)&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan dari Anas r.a., ia berkata, “Suatu hari aku sedang bersama anak-anak. Tiba-tiba muncul Rasulullah SAW dan berkata, ‘Assalamualaikum, hai anak-anak’.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, pada suatu hari, seorang pegawai Umar bin Khatab r.a. menemui khalifah tersebut. Ia kaget mendapati sang khalifah sedang berbaring, sementara beberapa anak kecil sedang asik bermain-main di sekitarnya. Orang tadi memperlihatkan rasa keheranan melihat hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang khalifah lalu bertanya, “Jadi bagaimana keadaanmu dengan keluargamu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menjawab, “Begitu melihatku, keluargaku yang berbicara langsung diam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umar berkata kepadanya, “Kalau begitu, kamu turun saja dari jabatanmu. Soalnya kalau terhadap keluarga dan anakmu saja kamu tidak bisa berlaku lembut, bagaimana kamu bisa berlaku lembut terhadap umat Muhammad SAW?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Dua riwayat itu, sesungguhnya telah mengajarkan kepada tiap orang tua untuk selalu memperlakukan anak dengan lembut dan proporsional. Nabi SAW bersabda, “Barangsiapa punya anak kecil hendaklah ia perlakukan secara proporsional.” (HR. Ibnu Askair).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini, berarti seorang anak haruslah diperlakukan sesuai dengan derajat kekanak-kanakannya. Ia harus diajak bicara dengan lemah lembut. Diperlakukan dengan rasa penuh cinta kasih. Lalu, diusahakan agar hatinya gembira, didekati, diajak bermain dan bersenda gurau. Kemudian, isilah akal dan hatinya dengan harapan serta keceriaan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait dengan itu, seorang bijak pernah mengatakan, “Ketika anakmu telah berusia tujuh tahun, ajak ia bermain. Didiklah ia dan bertemanlah dengannya. Kemudian biarkan ia bermain dengan teman yang belum dikenalnya.” Ucapan ini bermakna mendorong tiap orang tua agar bisa menjadi teman yang baik dan dapat dipercaya bagi anak-anaknya, terutama pada fase usianya yang paling menentukan (baca: fase anak-anak dan remaja).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada konteks ke kinian, boleh jadi terjadinya banyak tragedi kekerasan di negeri ini, sebagai pangkal penyebabnya ialah karena pada tatanan keluarga kita, mungkin selama ini tidak memperhatikan dan tidak mendidik anak-anak di rumah secara lembut dan penuh kasih sayang. Sehingga dampaknya, bisa jadi keberadaan anak-anak kita itu akan menjadi sumber masalah bagi orang lain. Naudzubillah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih jauh, fenomena itu terjadi salah satunya disebabkan karena perlakuan orang tua yang tidak mendidik anak-anaknya tentang perlunya membangun sebuah kebenaran terhadap dirinya sendiri, termasuk di dalamnya bagaimana memeprlakukan seorang anak secara proporsional. Sehingga pantas saja apa yang dikatakan Virgina Woolf, seorang penulis dari Inggris bahwa, “Jikalau Anda tidak mengatakan kebenaran tentang diri sendiri, Anda tidak dapat mengatakan kebenaran tentang orang lain.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, pola pendidikan semacam itu, yang diselimuti kasih sayang dan kelembutan ini akan menjadi kunci tercapainya derajat kualitas anak kita di kemudian hari. Dalam hal ini, Syaikh M Jamaluddin Mahfuzh mengungkapkan manfaat yang bisa didapat dari cara mendidik anak seperti itu, antara lain adalah: (1) Bisa menghilangkan hambatan-hambatan dan mendekatkan jarak pemisah antara ayah dengan anak. Dengan demikian si anak merasa tidak menemukan kesulitan apa pun untuk bermusyawarah dengan ayahnya tentang masalah dunia dan kehidupan yang ia hadapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Dapat melahirkan kesiapan mental si anak untuk menerima nasehat dan pengarahan. (3) Dapat mengungkap kemampuan sebenarnya si anak dan tingkat kematangan akal serta mentalnya. Dengan demikian, ia bisa membatasi pengarahan atau beban secara proporsional, tanpa menambahi atau menguranginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, tidak ada alasan lagi bagi orang tua untuk tidak membangun keluarga dengan memperhatikan dan bersahabat dengan anak-anaknya dalam ‘dekapan’ kasih sayang dan kelembutan didikannya. Nabi Muhammad SAW berpesan dalam sebuah sabdanya, “Perhatikanlah anak-anakmu, dan didiklah mereka dengan baik.” (HR. Ibnu Majah). Wallahu a’lam.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Penulis Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;DAPATKAN ARTIKEL LAINYA TENTANG:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Menjadi Penulis Sukses, Mendapatkan Harta Karun, Menulis Buku, bisnis internet. Klik di bawah ini:&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;     &lt;a href="http://www.penulissukses.com/?id=buku"&gt;http://www.penulissukses.com?id=buku&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Dapatkan E-Book (berbahasa Indonesia) di bawah ini:&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;-        &lt;strong&gt; Cara Mudah, Cepat dan Praktis Nampang di Internet / Dasar-Dasar HTML.&lt;br /&gt;-         Panduan Praktis Membangun Situs Dinamis dan Interaktif dengan PHP&lt;br /&gt;-         Cara Mengirim Puluhan, ratusan Bahkan Ribuan Email dalam Sekali Klik. &lt;br /&gt;-         Download GRATIS Ringkasan/Summary buku "KUNCI EMAS, Rahasia Sukses Membangun Kekayaan dan Kesejahteraan", Karya: L.Y. Wiranaga, Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama.&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;      &lt;a href="http://www.megabuku.com/?ref=1788" target="_blank"&gt;http://www.megabuku.com?ref=1788&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Arda Dinata, adalah praktisi kesehatan, pengusaha inspirasi, pembicara, trainer, dan motivator di Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;E-mail: &lt;a href="mailto:arda.dinata@gmail.com"&gt;arda.dinata@gmail.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hp. 081.320.476048.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.miqra.blogspot.com/"&gt;http://www.miqra.blogspot.com&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35594566-8590164796973643778?l=miqrakeluarga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miqrakeluarga.blogspot.com/feeds/8590164796973643778/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=35594566&amp;postID=8590164796973643778' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35594566/posts/default/8590164796973643778'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35594566/posts/default/8590164796973643778'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miqrakeluarga.blogspot.com/2007/11/perhatikanlah-anak-anakmu.html' title='Perhatikanlah Anak-Anakmu'/><author><name>MIQRA INDONESIA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11822452084513947586</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_kCq_1_uUTQA/THFakBYdI-I/AAAAAAAAAmo/j5EsKJoBuVQ/S220/Arda+Dinata.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-35594566.post-4896684246840433912</id><published>2007-08-12T22:02:00.000+07:00</published><updated>2007-08-12T22:05:45.514+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MIQRA KELUARGA'/><title type='text'>Menyikapi Kematian Anak</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_kCq_1_uUTQA/Rr8hrAguWUI/AAAAAAAAAHU/i-e4jFMFR0Y/s1600-h/Foto+Arda+Dinata.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5097830325962037570" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_kCq_1_uUTQA/Rr8hrAguWUI/AAAAAAAAAHU/i-e4jFMFR0Y/s200/Foto+Arda+Dinata.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Oleh &lt;strong&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;Arda Dinata&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;“Ya Allah, ringankanlah kami menanggung beban musibah dunia. Berikanlah kami sifat rida atas qada dan qadar-Mu. Pimpinlah kami di dunia dan di akhirat, karena hanya Engkau-lah sebaik-baik pemimpin, wahai Tuhan Seru sekalian alam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diceritakan dalam riwayat Bukhari dan Muslim dari Anas r.a. bahwa anak Thalhah merintih sakit, sedangkan Abu Thalhah ke luar rumah. Kemudian anak itu meninggal dunia. Ketika Abu Thalhah pulang, ia bertanya, “Bagaimana keadaan anakku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ummu Sulaim –ibu anak itu—menjawab, “Ia tenang seperti sedia kala (yang dimaksud adalah meninggal dunia, sedangkan Abu Thalhah mengira bahwa anaknya itu dalam keadaan sehat).” Kemudian Ummu Sulaim menyediakan makan malam untuk Abu Thalhah. Setelah itu, ia berhias diri, lebih cantik daripada biasanya, hingga Abu Thalhah menggaulinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah ia melihat bahwa suaminya sudah melepaskan rindunya dan merasa puas, Ummu Sulaim berkata kepada suaminya, “Wahai Abu Thalhah, bagaimana pendapatmu, jika suatu kaum meminjamkan suatu pinjaman, apakah yang meminjam itu berhak menolak mereka jika memintanya kembali?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Thalhah menjawab, “Tentu saja tidak!” Kemudian Ummu Sulaim berkata, “Demikian pula dengan anakmu. Anakmu telah meninggal dunia, maka mintalah pahala dari Allah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Thalhah berkata sambil marah, “Engkau telah membiarkan aku, hingga setelah aku berjunub karena bergaul denganmu, engkau beritahukan tentang anakku." Kemudian ia pergi mendatangi Rasulullah SAW untuk memberitahukan apa yang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah SAW membenarkan apa yang telah dikerjakan oleh Ummu Sulaim, lalu bersabda, “Semoga Allah memberkahi malam kalian berdua.” Dan dalam sebuah riwayat dikatakan, beliau bersabda, “Ya Allah, berilah berkah kepada mereka berdua.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Ummu Sulaim melahirkan seorang anak kembali yang diberi nama Abdullah oleh Nabi SAW. Dan salah seorang di antara kaum Anshar berkata, “Kemudian aku melihat tujuh orang anak, semuanya pandai membaca Alquran, yakni anak-anak dari Abdullah. Semua itu, tidak lain karena dikabulkannya doa Rasulullah SAW ketika berdoa, ‘Ya Allah, berikanlah berkah kepada mereka berdua’.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah di atas, telah mengajarkan kepada kita bahwa di antara sikap patriotisme imani yang dimiliki oleh istri-istri para sahabat yang menunjukkan kesabaran, keridaan dan keimanan ketika kematian anaknya, adalah sikap tabah Ummu Sulaim. Sikap inilah yang senantiasa mesti kita tiru dan dibangun dalam sebuah keluarga muslim. Lalu, jangan lupa dalam menghadapi cobaan hidup itu kita berdoa, “Ya Allah, ringankanlah kami menanggung beban musibah dunia. Berikanlah kami sifat rida atas qada dan qadar-Mu. Pimpinlah kami di dunia dan di akhirat, karena hanya Engkau-lah sebaik-baik pemimpin, wahai Tuhan Seru sekalian alam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyikapi fenomena itu, Dr. Abdullah Nashih Ulwan mengungkapkan, ketika seorang muslim mencapai taraf iman dan keyakinan yang tinggi, mempercayai ketentuan takdir, baik dan buruknya itu adalah dari Allah SWT, maka akan tampak kecil segala peristiwa dan musibah yang menimpa dirinya. Ia akan berserah diri kepada Allah SWT, jiwanya akan merasa tenang, hatinya akan tabah menghadapi cobaan, rida akan ketentuan Allah dan tunduk kepada takdir-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga dengan berlandaskan iman semacam itu, Nabi SAW telah memberiathukan kepada umatnya bahwa siapa pun yang ditinggal oleh kematian anaknya, kemudian ia bersabar dan mengucapkan, “Inna Lillahi wa Inna Illahi Raji’un.” (Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan sesungguhnya kepada-Nyalah kami akan kembali). Maka Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah di surga yang diberi nama Baitul Hamdi (Rumah Pujian).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, tidak diragukan lagi, jika iman kepada Allah SWT ini benar-benar telah meresap di dalam kalbu. Ia akan membuat keajaiban-keajaiban. Sebab, iman itu sesungguhnya dapat mengubah seseorang dari kondisi lemah menjadi kuat. Pengecut menjadi pemberani. Bakhil menjadi dermawan. Dan dari gelisah menjadi tabah. &lt;em&gt;Wallahu a’lam&lt;/em&gt;.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Penulis Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;DAPATKAN ARTIKEL LAINYA TENTANG:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;Menjadi Penulis Sukses, Mendapatkan Harta Karun, Menulis Buku, bisnis internet. Klik di bawah ini:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.penulissukses.com/?id=buku"&gt;http://www.penulissukses.com/?id=buku&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;Dapatkan E-Book (berbahasa Indonesia) di bawah ini:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;- Cara Mudah, Cepat dan Praktis Nampang di Internet / Dasar-Dasar HTML.&lt;br /&gt;- Panduan Praktis Membangun Situs Dinamis dan Interaktif dengan PHP&lt;br /&gt;- Cara Mengirim Puluhan, ratusan Bahkan Ribuan Email dalam Sekali Klik.&lt;br /&gt;- Download GRATIS Ringkasan/Summary buku "KUNCI EMAS, Rahasia Sukses Membangun Kekayaan dan Kesejahteraan", Karya: L.Y. Wiranaga, Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.megabuku.com/?ref=1788" target="_blank"&gt;http://www.megabuku.com/?ref=1788&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Arda Dinata, adalah praktisi kesehatan, pengusaha inspirasi, pembicara, trainer, dan motivator di Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.&lt;br /&gt;E-mail: &lt;/em&gt;&lt;a href="mailto:arda.dinata@gmail.com"&gt;&lt;em&gt;arda.dinata@gmail.com&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Hp. 081.320.476048.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;a href="http://www.miqra.blogspot.com/"&gt;&lt;em&gt;http://www.miqra.blogspot.com&lt;/em&gt;&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35594566-4896684246840433912?l=miqrakeluarga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miqrakeluarga.blogspot.com/feeds/4896684246840433912/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=35594566&amp;postID=4896684246840433912' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35594566/posts/default/4896684246840433912'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35594566/posts/default/4896684246840433912'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miqrakeluarga.blogspot.com/2007/08/menyikapi-kematian-anak.html' title='Menyikapi Kematian Anak'/><author><name>MIQRA INDONESIA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11822452084513947586</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_kCq_1_uUTQA/THFakBYdI-I/AAAAAAAAAmo/j5EsKJoBuVQ/S220/Arda+Dinata.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_kCq_1_uUTQA/Rr8hrAguWUI/AAAAAAAAAHU/i-e4jFMFR0Y/s72-c/Foto+Arda+Dinata.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-35594566.post-9217552180217898019</id><published>2007-08-04T21:36:00.000+07:00</published><updated>2007-08-04T21:38:55.985+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MIQRA KELUARGA'/><title type='text'>Menghibur Seorang Anak</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Oleh: &lt;strong&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;ARDA DINATA&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          &lt;strong&gt;SORE&lt;/strong&gt; itu, cuaca begitu cerah. Saya seperti biasa setelah shalat Ashar, baru pulang dari kantor. Begitu saya ucapkan salam dan membuka pintu rumah. Di sana, didapati putri kesayanganku (4 th) sedang menunggu dan menyambut dengan antusias atas kehadiranku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Anak ini, seakan-akan tidak memperdulikan kondisi ayahnya. Dalam pikirannya hanya ada satu kata, yaitu ’bermain dengan ayah’. Pada konteks seperti itulah, seorang ayah harus mampu memposisikan pikirannya dengan pikiran si anak. Untuk itu, hendaknya kita selaku orang tua harus mampu memformulasikan rasa lelah, bijaksana, emosional anak, pendidikan, dan hiburan menjadi satu bentuk amal keikhlasan berupa pemenuhan keinginan si anak (baca: hiburan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Hiburan adalah kebutuhan tambahan --yang cukup memberi andil dalam perkembangan anak--, setelah kebutuhan akan makan dan minum, pakaian, maupun tempat tinggal. Dari aktivitas hiburan itu, akan terbentuk penyegaran. Penyegaran adalah obat dari kejenuhan rutinitas dalam hidup seseorang. Baik bagi suami, istri, maupun anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Atas dasar itu, akhirnya saya memenuhi keinginan anak untuk mendapat hiburan. Hiburan apa? Di luar dugaan saya, ternyata sang anak hanya dengan naik sepeda keliling lingkungan RT/RW dan lapangan, wajah sang anak begitu terlihat bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Naik sepeda, begitu sederhana. Tidak perlu biaya banyak dan relatif setiap orang tua mampu melakukannya. Tapi, dari hal sederhana ini, justru Subanallah manfaatnya. Diantaranya, bagaimana kita  mengajarkan rasa syukur nikmat, menghormati orang lain, aktivitas amaliah di dunia, dll. Tarbiyah itu, tentu masih dalam konteks jangkauan, pikiran dan bahasa anak-anak seusianya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Yang paling berkesan dari menghibur anak dengan naik sepeda itu adalah proses mendidik anak untuk mensyukuri nikmat. Syukur berarti berterima kasih. Nikmat artinya kesenangan, pemberian, atau karunia. Tepatnya, syukur nikmat berarti suatu pernyataan terima kasih kepada Allah karena telah mendapat kesenangan atau karunia dari-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Menghibur --naik sepeda-- pada anak dapat dijadikan ajang selain untuk memenuhi hasrat akan hiburan sang anak, kita juga sebagai orang tua dapat memberikan tarbiyah akan aktualisasi rasa syukur nikmat dalam hidup ini. Secara sederhana, kita bisa mencontohkan yaitu seorang manusia yang diberi anggota tubuh yang sempurna dibandingkan dengan makhluk hidup lainnya; terciptanya hewan, tumbuhan; adanya matahari, bintang, langit, awan, dll; atau berupa nikmat non materi seperti nikmat sehat dan adanya waktu senggang, sehingga kita bisa bermain. Itulah sebagian kecil pembelajaran syukur nikmat melalui ajang hiburan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Yang pasti, pemberian tambahan kebutuhan (baca: hiburan) kepada keluarga (suami, istri, dan anak) adalah lebih utama dari yang lainnya. Rasulullah bersabda: “Pemberian tambahan seseorang kepada keluarganya lebih utama daripada pemberian tambahan kepada orang lain, seperti kelebihan seseorang shalat berjama’ah dibanding seseorang shalat sendiri.” (HR. Ibnu Abu Syaibah). &lt;em&gt;Wallahu’alam&lt;/em&gt;.***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Penulis Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;DAPATKAN ARTIKEL LAINYA TENTANG:&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Menjadi Penulis Sukses, Mendapatkan Harta Karun, Menulis Buku, bisnis internet. Klik di bawah ini:&lt;br /&gt;     &lt;a href="http://www.penulissukses.com/?id=buku"&gt;http://www.penulissukses.com?id=buku&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#990000;"&gt;&lt;strong&gt;Dapatkan E-Book (berbahasa Indonesia) di bawah ini:&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;-         Cara Mudah, Cepat dan Praktis Nampang di Internet / Dasar-Dasar HTML.&lt;br /&gt;-         Panduan Praktis Membangun Situs Dinamis dan Interaktif dengan PHP&lt;br /&gt;-         Cara Mengirim Puluhan, ratusan Bahkan Ribuan Email dalam Sekali Klik. &lt;br /&gt;-         Download GRATIS Ringkasan/Summary buku "KUNCI EMAS, Rahasia Sukses Membangun Kekayaan dan Kesejahteraan", Karya: L.Y. Wiranaga, Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama.&lt;br /&gt;      &lt;a href="http://www.megabuku.com/?ref=1788" target="_blank"&gt;http://www.megabuku.com?ref=1788&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          &lt;span style="color:#000099;"&gt;Arda Dinata, adalah praktisi kesehatan, pengusaha inspirasi, pembicara, trainer, dan motivator di Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;E-mail: &lt;a href="mailto:arda.dinata@gmail.com"&gt;arda.dinata@gmail.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hp. 081.320.476048.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.miqra.blogspot.com/"&gt;http://www.miqra.blogspot.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35594566-9217552180217898019?l=miqrakeluarga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miqrakeluarga.blogspot.com/feeds/9217552180217898019/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=35594566&amp;postID=9217552180217898019' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35594566/posts/default/9217552180217898019'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35594566/posts/default/9217552180217898019'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miqrakeluarga.blogspot.com/2007/08/menghibur-seorang-anak.html' title='Menghibur Seorang Anak'/><author><name>MIQRA INDONESIA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11822452084513947586</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_kCq_1_uUTQA/THFakBYdI-I/AAAAAAAAAmo/j5EsKJoBuVQ/S220/Arda+Dinata.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-35594566.post-2887786537815909611</id><published>2007-07-11T01:33:00.002+07:00</published><updated>2008-09-23T23:41:02.888+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MIQRA KELUARGA'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;Keluarga Bening Hati&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;oleh Arda Dinata&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ilmukaya.tk/"&gt;Http://ILMUKAYA.TK&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Salah satu teladan yang bisa kita contoh dalam membangun kebeningan hati dalam keluarga, selain keluarga Rasulullah Saw, adalah keluarga Khalifah Ali bin Abu Thalib. Ali ra adalah suami dari Fatimah putri Rasulullah. Beliau sejak kecil hidup bersama Rasulullah, karena Rasulullah pernah diasuh oleh ayah Ali. Setelah Rasulullah menikah dengan Siti Khodijah, Ali ikut bersama Rasulullah dan dibesarkan, diasuh serta dididik sehingga tumbuh sebagai anak yang berbudi luhur, cerdik, dan pemberani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberanian dan kebeningan hati Ali ini tercermin pada ikut sertanya dalam hampir seluruh peperangan yang dipimpin Rasulullah. Ali senantiasa berada di barisan muka. Seringkali kaum muslimin memperoleh kemenangan karena keberaniannya dan ketangkasannya, Ali dikenal dengan Dzulfaqar karena pedangnya yang bermata dua. Namun demikian, Ali sehari-hari dalam keluarga, perilakunya selalu lemah lembut –sebagai pancaran kebeningan hati--.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkait dengan kebeningan hati ini, Ali ra berkata, “Sesungguhnya Allah ta’ala di bumi-Nya mempunyai sebuah wadah, yaitu hati. Maka yang paling dicintai Allah ialah hati yang paling lembut, paling jernih, dan paling keras.” Kemudian beliau menafsirkannya. Maka beliau berkata, “Maksudnya ialah yang paling keras dalam agama, paling jernih dalam keyakinan, serta paling lembut terhadap saudara-saudaranya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan itu menunjukkan kalau syariat Islam yang toleran telah memberikan perhatian yang besar terhadap institusi keluarga, sehingga ia menduduki posisi layak yang membuat ia menjadi pijakan kokoh bagi setiap muslim untuk mewujudkan kemuliaan, kehormatan, dan amal saleh yang bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mewujudkannya, setiap keluarga perlu dibangun suatu sistem pembelajaran yang dilandasi kebeningan hati. Perumpamaan hati adalah cermin. Selama ia bersih dari kotoran, maka dapatlah dilihat padanya segala sesuatu. Apabila ia tertutup kotoran dan tidak ada yang membersihkannya, maka ia pun diselimuti kotoran, yang pada akhirnya binasa –tidak dapat dibersihkan--.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah, kondisi bening hati dalam keluarga merupakan sesuatu yang dapat melejitkan potensi terciptanya keluarga sakinah? Rasulullah Saw bersabda, “Apabila Allah Swt menghendaki suatu rumah tangga yang baik (bahagia), diberikan-Nya kecenderungan menghayati ilmu-ilmu agama; yang muda menghormati yang tua; harmoni dalam kehidupan; hemat dan hidup sederhana; melihat (menyadari) cacat-cacat mereka dan kemudian melakukan taubat. Jika Allah Swt menghendaki sebaliknya, maka ditinggalkan-Nya mereka dalam kesesatan.” (HR. Dailami dan Anas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh indah, suatu keluarga yang hidupnya dibangun dengan kebeningan hati. Maka, panjatkanlah selalu doa: “…. Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Furqaan: 74). Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;DAPATKAN ARTIKEL LAINYA TENTANG:&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Menjadi Penulis Sukses, Mendapatkan Harta Karun, Menulis Buku, bisnis internet. Klik di bawah ini:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.penulissukses.com/?id=buku"&gt;http://www.penulissukses.com/?id=buku&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dapatkan E-Book (berbahasa Indonesia) di bawah ini:&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;- Cara Mudah, Cepat dan Praktis Nampang di Internet / Dasar-Dasar HTML.&lt;br /&gt;- Panduan Praktis Membangun Situs Dinamis dan Interaktif dengan PHP&lt;br /&gt;- Cara Mengirim Puluhan, ratusan Bahkan Ribuan Email dalam Sekali Klik.&lt;br /&gt;- Download GRATIS Ringkasan/Summary buku "KUNCI EMAS, Rahasia Sukses Membangun Kekayaan dan Kesejahteraan", Karya: L.Y. Wiranaga, Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.megabuku.com/?ref=1788" target="_blank"&gt;http://www.megabuku.com/?ref=1788&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arda Dinata, adalah praktisi kesehatan, pengusaha inspirasi, pembicara, trainer, dan motivator di Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.&lt;br /&gt;E-mail: &lt;a href="mailto:arda.dinata@gmail.com"&gt;arda.dinata@gmail.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hp. 081.320.476048.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.miqra.blogspot.com/"&gt;http://www.miqra.blogspot.com/&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35594566-2887786537815909611?l=miqrakeluarga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miqrakeluarga.blogspot.com/feeds/2887786537815909611/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=35594566&amp;postID=2887786537815909611' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35594566/posts/default/2887786537815909611'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35594566/posts/default/2887786537815909611'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miqrakeluarga.blogspot.com/2007/07/keluarga-bening-hati-oleh-arda-dinata_11.html' title=''/><author><name>MIQRA INDONESIA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11822452084513947586</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_kCq_1_uUTQA/THFakBYdI-I/AAAAAAAAAmo/j5EsKJoBuVQ/S220/Arda+Dinata.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-35594566.post-8442266201856106154</id><published>2007-07-11T01:33:00.001+07:00</published><updated>2007-07-11T01:38:56.365+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MIQRA KELUARGA'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Keluarga Bening Hati&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;br /&gt;oleh Arda Dinata&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;Email: &lt;a href="mailto:arda.dinata@gmail.com"&gt;arda.dinata@gmail.com&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Salah satu teladan yang bisa kita contoh dalam membangun kebeningan hati dalam keluarga, selain keluarga Rasulullah Saw, adalah keluarga Khalifah Ali bin Abu Thalib. Ali ra adalah suami dari Fatimah putri Rasulullah. Beliau sejak kecil hidup bersama Rasulullah, karena Rasulullah pernah diasuh oleh ayah Ali. Setelah Rasulullah menikah dengan Siti Khodijah, Ali ikut bersama Rasulullah dan dibesarkan, diasuh serta dididik sehingga tumbuh sebagai anak yang berbudi luhur, cerdik, dan pemberani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberanian dan kebeningan hati Ali ini tercermin pada ikut sertanya dalam hampir seluruh peperangan yang dipimpin Rasulullah. Ali senantiasa berada di barisan muka. Seringkali kaum muslimin memperoleh kemenangan karena keberaniannya dan ketangkasannya, Ali dikenal dengan Dzulfaqar karena pedangnya yang bermata dua. Namun demikian, Ali sehari-hari dalam keluarga, perilakunya selalu lemah lembut –sebagai pancaran kebeningan hati--.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkait dengan kebeningan hati ini, Ali ra berkata, “Sesungguhnya Allah ta’ala di bumi-Nya mempunyai sebuah wadah, yaitu hati. Maka yang paling dicintai Allah ialah hati yang paling lembut, paling jernih, dan paling keras.” Kemudian beliau menafsirkannya. Maka beliau berkata, “Maksudnya ialah yang paling keras dalam agama, paling jernih dalam keyakinan, serta paling lembut terhadap saudara-saudaranya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan itu menunjukkan kalau syariat Islam yang toleran telah memberikan perhatian yang besar terhadap institusi keluarga, sehingga ia menduduki posisi layak yang membuat ia menjadi pijakan kokoh bagi setiap muslim untuk mewujudkan kemuliaan, kehormatan, dan amal saleh yang bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mewujudkannya, setiap keluarga perlu dibangun suatu sistem pembelajaran yang dilandasi kebeningan hati. Perumpamaan hati adalah cermin. Selama ia bersih dari kotoran, maka dapatlah dilihat padanya segala sesuatu. Apabila ia tertutup kotoran dan tidak ada yang membersihkannya, maka ia pun diselimuti kotoran, yang pada akhirnya binasa –tidak dapat dibersihkan--.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah, kondisi bening hati dalam keluarga merupakan sesuatu yang dapat melejitkan potensi terciptanya keluarga sakinah? Rasulullah Saw bersabda, “Apabila Allah Swt menghendaki suatu rumah tangga yang baik (bahagia), diberikan-Nya kecenderungan menghayati ilmu-ilmu agama; yang muda menghormati yang tua; harmoni dalam kehidupan; hemat dan hidup sederhana; melihat (menyadari) cacat-cacat mereka dan kemudian melakukan taubat. Jika Allah Swt menghendaki sebaliknya, maka ditinggalkan-Nya mereka dalam kesesatan.” (HR. Dailami dan Anas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh indah, suatu keluarga yang hidupnya dibangun dengan kebeningan hati. Maka, panjatkanlah selalu doa: “…. Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Furqaan: 74). Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Penulis Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;strong&gt;DAPATKAN ARTIKEL LAINYA TENTANG:&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;Menjadi Penulis Sukses, Mendapatkan Harta Karun, Menulis Buku, bisnis internet. Klik di bawah ini:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.penulissukses.com/?id=buku"&gt;http://www.penulissukses.com/?id=buku&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Dapatkan E-Book (berbahasa Indonesia) di bawah ini:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;- Cara Mudah, Cepat dan Praktis Nampang di Internet / Dasar-Dasar HTML.&lt;br /&gt;- Panduan Praktis Membangun Situs Dinamis dan Interaktif dengan PHP&lt;br /&gt;- Cara Mengirim Puluhan, ratusan Bahkan Ribuan Email dalam Sekali Klik.&lt;br /&gt;- Download GRATIS Ringkasan/Summary buku "KUNCI EMAS, Rahasia Sukses Membangun Kekayaan dan Kesejahteraan", Karya: L.Y. Wiranaga, Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.megabuku.com/?ref=1788" target="_blank"&gt;http://www.megabuku.com/?ref=1788&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arda Dinata, adalah praktisi kesehatan, pengusaha inspirasi, pembicara, trainer, dan motivator di Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.&lt;br /&gt;E-mail: &lt;a href="mailto:arda.dinata@gmail.com"&gt;arda.dinata@gmail.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hp. 081.320.476048.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.miqra.blogspot.com/"&gt;http://www.miqra.blogspot.com/&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35594566-8442266201856106154?l=miqrakeluarga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miqrakeluarga.blogspot.com/feeds/8442266201856106154/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=35594566&amp;postID=8442266201856106154' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35594566/posts/default/8442266201856106154'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35594566/posts/default/8442266201856106154'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miqrakeluarga.blogspot.com/2007/07/keluarga-bening-hati-oleh-arda-dinata.html' title=''/><author><name>MIQRA INDONESIA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11822452084513947586</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_kCq_1_uUTQA/THFakBYdI-I/AAAAAAAAAmo/j5EsKJoBuVQ/S220/Arda+Dinata.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-35594566.post-7067759145171563094</id><published>2007-07-09T01:00:00.000+07:00</published><updated>2007-07-09T01:01:27.451+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MIQRA KELUARGA'/><title type='text'></title><content type='html'>Katakanlah Wahai Anakku&lt;br /&gt;Oleh Arda Dinata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya telah menemukan cara terbaik untuk memberi nasehat kepada anak-anak, yaitu menemukan apa yang mereka inginkan dan kemudian menasehati mereka untuk melakukannya.” (Harry S. Truman)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Suatu waktu, Umar bin Khathab mendorong anak-anak untuk berbicara di hadapan majelis orang tua guna menyampaikan pendapat dan gagasan. Umar berkata, “Terkait dengan apa turunnya ayat, Inginkah seseorang di antara kalian memiliki kebun kurma dan anggur (QS Al-Baqarah: 266)?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menjawab, “Hanya Allah-lah yang tahu.” Maka, Umar ‘marah’ seraya mengatakan, “Katakanlah: tahu atau tidak tahu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Abbas menjawab, “Dalam benakku ada sedikit pengetahuan itu, wahai Amirul Mu’minin.” Umar mengatakan, “Katakanlah wahai anakku dan janganlah kamu merendahkan dirimu sendiri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Abbas berkata, “Ayat itu menggambarkan perumpamaan amal.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Amal apa?” tukas Umar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Abbas menjawab, “Seorang kaya yang melakukan kebaikan-kebaikan kemudian Allah mengutus kepadanya setan, lalu orang itu melakukan kemaksiatan hingga menghancurkan segala amal baiknya itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Dialog di atas, sesungguhnya telah menuntun tiap orang tua agar membangun motivasi bagi anak-anaknya. Motivasi merupakan sebuah spirit yang harus kita sandarkan dalam setiap kehidupan anak-anak. Keberadaannya akan selalu dibutuhkan tak kala gairah perkembangan kehidupannya tersumbat oleh kerikil-kerikil kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Motivasi, kata Muhammad Rasyid Dimas (2000), mempunyai peran besar terhadap jiwa anak dalam mewujudkan kemajuan aktifitas positif yang membangun, dalam menumbuhkan kemampuan dan dalam menyalurkan bakatnya. Motivasi juga akan mendukung kontinuitas kerja dan mendorong anak untuk maju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam memberikan motivasi kepada anak-anaknya, orang tua tentu memiliki cara yang berbeda-beda. Lebih-lebih hal ini didukung dengan pengalaman hidup orang tua yang berbeda-beda pula. Ada yang memotivasi secara material atau nonmaterial. Itu semua baik, sepanjang dilakukan secara tidak berlebihan. Landasan kewajaran dalam memotivasi anak ini kelihatannya merupakan sesuatu yang patut dipatuhi. Sebab bila tidak, ia akan berdampak merusak pribadi anak itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Jadi, intinya tiap keluarga harus mampu membangun motivasi dalam hidupnya. Yang jelas, menyangkut cara dan teknis pendekatannya tiap orang tua lebih mengetahui kebiasaan anak-anaknya. Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan Harry S. Truman, “Saya telah menemukan cara terbaik untuk memberi nasehat kepada anak-anak, yaitu menemukan apa yang mereka inginkan dan kemudian menasehati mereka untuk melakukannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun cara mudah dan bisa dilakukan oleh tiap keluarga untuk menasehati anak lewat motivasi adalah dengan membelikan buku-buku. Dengan aktifitas membaca buku, seorang anak secara ilmiah akan terus berkembang sesuai dengan perkembangan dirinya. Dalam hal ini, Ibnu Abidin –seorang ulama besar—pernah bercerita kepada anaknya bahwa yang menyebabkan ia mengumpulkan buku-buku itu (yang tidak ada tandingannya) adalah karena ayahnya. Menurut Ibnu Abidin, ayahnya selalu membelikan buku yang diinginkannya. Ayahnya berkata, “Belilah buku yang kamu inginkan dan aku akan membayarnya. Karena kamu telah menghidupkan perjalanan hidup (sirah) para pendahulu kita. Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan, hai anakku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, untuk dapat menasehati anak lewat motivasi, mendorongnya agar maju, mampu mengaktualisasikan potensi pribadinya, dan menyalurkan bakatnya, maka biasakan anak kita untuk berani mengatakan sesuatu hal tentang kebenaran hidup sesuai dengan kapasitas dirinya. Dari sini, tentu orang tua harus mampu membimbingnya secara bijaksana dan proposional. Untuk itu, biasakan ada dialog pada keluarga kita. Dalam berdialog dengan anak, orang tua biasakan mengucapkan, “Katakanlah wahai anakku dan janganlah kau rendahkan dirimu sendiri,” dengan suara lembut lagi penuh keakraban. Wallahu a’lam.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAPATKAN ARTIKEL LAINYA TENTANG:&lt;br /&gt;Menjadi Penulis Sukses, Mendapatkan Harta Karun, Menulis Buku, bisnis internet. Klik di bawah ini:&lt;br /&gt;     &lt;a href="http://www.penulissukses.com/?id=buku"&gt;http://www.penulissukses.com?id=buku&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapatkan E-Book (berbahasa Indonesia) di bawah ini:&lt;br /&gt;-         Cara Mudah, Cepat dan Praktis Nampang di Internet / Dasar-Dasar HTML.&lt;br /&gt;-         Panduan Praktis Membangun Situs Dinamis dan Interaktif dengan PHP&lt;br /&gt;-         Cara Mengirim Puluhan, ratusan Bahkan Ribuan Email dalam Sekali Klik. &lt;br /&gt;-         Download GRATIS Ringkasan/Summary buku "KUNCI EMAS, Rahasia Sukses Membangun Kekayaan dan Kesejahteraan", Karya: L.Y. Wiranaga, Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama.&lt;br /&gt;      &lt;a href="http://www.megabuku.com/?ref=1788" target="_blank"&gt;http://www.megabuku.com?ref=1788&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Arda Dinata, adalah praktisi kesehatan, pengusaha inspirasi, pembicara, trainer, dan motivator di Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.&lt;br /&gt;E-mail: &lt;a href="mailto:arda.dinata@gmail.com"&gt;arda.dinata@gmail.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hp. 081.320.476048.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.miqra.blogspot.com/"&gt;http://www.miqra.blogspot.com&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35594566-7067759145171563094?l=miqrakeluarga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miqrakeluarga.blogspot.com/feeds/7067759145171563094/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=35594566&amp;postID=7067759145171563094' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35594566/posts/default/7067759145171563094'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35594566/posts/default/7067759145171563094'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miqrakeluarga.blogspot.com/2007/07/katakanlah-wahai-anakku-oleh-arda.html' title=''/><author><name>MIQRA INDONESIA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11822452084513947586</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_kCq_1_uUTQA/THFakBYdI-I/AAAAAAAAAmo/j5EsKJoBuVQ/S220/Arda+Dinata.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-35594566.post-3014689814489707871</id><published>2007-06-17T19:53:00.000+07:00</published><updated>2007-06-17T19:55:30.860+07:00</updated><title type='text'>Bermain dengan Ayah</title><content type='html'>Oleh  &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;strong&gt;Arda Dinata&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Sering orang mencoba menjalani hidup secara terbalik; mereka mencoba memiliki lebih banyak barang, lebih banyak uang, agar dapat mengerjakan hal yang mereka inginkan lebih banyak, agar mereka lebih bahagia. Sebenarnya, jalan yang benar adalah kebalikannya. Engkau pertama-tama harus menjadi dirimu yang sesungguhnya, lalu melakukan apa yang perlu kaulakukan, agar dapat lebih banyak memiliki hal-hal yang kau inginkan.”&lt;br /&gt;(Margaret Young).&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Sore itu, cuaca begitu cerah. Pak Zaenal seperti biasa setelah shalat Ashar, baru pulang dari kantor. Begitu sampai di rumah, pak Zaenal mengucapkan salam dan membuka pintu rumah. Di sana, didapati putri kesayangannya, Alifia (5 th), yang sedang menunggu dan menyambut dengan antusias atas kehadiran ayahnya. Anak ini, seakan-akan tidak memperdulikan kondisi ayahnya. Biar kondisi ayahnya capek, lelah, dan perlu istirahat. Pokoknya dalam pikirannya hanya ada satu kata, yaitu “bermain dengan ayah”. Dalam pikirannya, bermain dengan ayah adalah sesuatu yang paling menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada keadaan itulah, biasanya hati pak Zaenal luluh untuk menuruti kemauan anaknya. Dan pak Zaenal menghibur dirinya dalam hati dengan ucapan, “Bukankah, saya selaku orang tua harus mampu memposisikan pikirannya dengan pikiran si anak. Lagian kita selaku orang tua harus mampu memformulasikan rasa lelah, bijaksana, emosi anak, mendidik, dan hiburan menjadi satu bentuk amal keikhlasan,” ucap hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, terciptalah kebersamaan pak Zaenal dengan anaknya. Keduanya bermain-main naik sepeda keliling rumahnya. Hilang sudah “rasa lelah” pak Zaenal, berganti keceriaan yang tiada tara, baik dirinya maupun anaknya. Dan seperti biasanya, saat bermain itulah pak Zaenal tidak lupa menyelipkan tarbiyah tentang kehidupan kepada anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Hiburan merupakan kebutuhan tambahan --yang cukup memberi andil dalam perkembangan anak--. Dari aktivitas hiburan ini, akan terbentuk penyegaran pikiran dan fisik. Ialah obat dari kejenuhan rutinitas hidup seseorang. Baik bagi suami, istri, maupun anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Dalam koridor seperti itu, biasanya emosional orang tua menjadi luluh. Orang tua memenuhi keinginan seorang anak untuk mendapat hiburan. Hiburan apa? Seperti yang terjadi pada pak Zaenal, ternyata di luar dugaannya. Sang anak hanya ingin naik sepeda. Dengan naik sepeda keliling lingkungan RT, wajah sang anak begitu terlihat bahagia. Begitu juga pada keluarga lain, anak-anak itu sebenarnya tidak menuntut banyak tentang jenis hiburannya. Tapi, dirinya ingin bermain dengan kemampuan orang tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Bisa dikatakan langkah pak Zaenal itu, adalah sesuatu yang menjadi ikon pribadi seorang ayah yang bijaksana. Karena menurut Margaret Young, sering orang mencoba menjalani hidup secara terbalik; mereka mencoba memiliki lebih banyak barang, lebih banyak uang, agar dapat mengerjakan hal yang mereka inginkan lebih banyak, agar mereka lebih bahagia. Sebenarnya, jalan yang benar adalah kebalikannya. Engkau pertama-tama harus menjadi dirimu yang sesungguhnya, lalu melakukan apa yang perlu kaulakukan, agar dapat lebih banyak memiliki hal-hal yang kau inginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Naik sepeda, begitu sederhana. Tak perlu biaya banyak dan relatif setiap orang tua mampu melakukannya. Tapi, hal sederhana itu, justru Subanallah manfaatnya. Diantaranya, bagaimana kita bisa mengajarkan rasa syukur nikmat, menghormati orang lain, aktivitas amaliah di dunia, dan lainnya. Tarbiyah itu, tentu masih dalam jangkauan pikiran dan bahasa anak-anak seusianya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Salah satu kesan menghibur anak dengan naik sepeda itu adalah proses mendidik anak untuk mensyukuri nikmat. Aktualisasi rasa syukur nikmat itu secara sederhana, kita bisa mencontohkan misalnya bagimana seorang manusia yang diberi anggota tubuh yang sempurna dibandingkan dengan makhluk hidup lainnya; terciptanya hewan, tumbuhan; adanya matahari, bintang, langit, awan, dll. Atau berupa nikmat non materi seperti nikmat sehat dan adanya waktu senggang, sehingga kita bisa bermain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Pokonya, pemberian kebutuhan tambahan hiburan kepada keluarga. Lebih-lebih pada anak adalah lebih utama dari yang lainnya. Rasulullah bersabda, “Pemberian tambahan seseorang kepada keluarganya lebih utama daripada pemberian tambahan kepada orang lain, seperti kelebihan seseorang shalat berjama’ah dibanding seseorang shalat sendiri.”(HR. Ibnu Abu Syaibah). Wallahu a’lam.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Penulis Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;DAPATKAN ARTIKEL LAINYA TENTANG:&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Menjadi Penulis Sukses, Mendapatkan Harta Karun, Menulis Buku, bisnis internet. Klik di bawah ini:    &lt;a href="http://www.penulissukses.com/?id=buku"&gt;http://www.penulissukses.com?id=buku&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Dapatkan E-Book (berbahasa Indonesia) di bawah ini:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;- Cara Mudah, Cepat dan Praktis Nampang di Internet / Dasar-Dasar HTML.&lt;br /&gt;- Panduan Praktis Membangun Situs Dinamis dan Interaktif dengan PHP&lt;br /&gt;- Cara Mengirim Puluhan, ratusan Bahkan Ribuan Email dalam Sekali Klik. &lt;br /&gt;- Download GRATIS Ringkasan/Summary buku "KUNCI EMAS, Rahasia Sukses Membangun Kekayaan dan Kesejahteraan", Karya: L.Y. Wiranaga, Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama.&lt;br /&gt;      &lt;a href="http://www.megabuku.com/?ref=1788" target="_blank"&gt;http://www.megabuku.com?ref=1788&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         &lt;strong&gt;&lt;em&gt; Arda Dinata, adalah praktisi kesehatan, pengusaha inspirasi, pembicara, trainer, dan motivator di Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;E-mail: &lt;a href="mailto:arda.dinata@gmail.com"&gt;arda.dinata@gmail.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hp. 081.320.476048.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.miqra.blogspot.com/"&gt;http://www.miqra.blogspot.com&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35594566-3014689814489707871?l=miqrakeluarga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miqrakeluarga.blogspot.com/feeds/3014689814489707871/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=35594566&amp;postID=3014689814489707871' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35594566/posts/default/3014689814489707871'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35594566/posts/default/3014689814489707871'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miqrakeluarga.blogspot.com/2007/06/bermain-dengan-ayah.html' title='Bermain dengan Ayah'/><author><name>MIQRA INDONESIA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11822452084513947586</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_kCq_1_uUTQA/THFakBYdI-I/AAAAAAAAAmo/j5EsKJoBuVQ/S220/Arda+Dinata.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-35594566.post-1129033128353615610</id><published>2007-06-10T23:23:00.000+07:00</published><updated>2007-06-10T23:25:11.357+07:00</updated><title type='text'>Berpkir dan Bertindak Demi Hari Esok</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;Oleh &lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Arda Dinata&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Jika Anda lebih menginginkan keberhasilan, Anda dapat memilikinya. Masa depan Anda dapat menjadi lebih cerah daripada semua yang Anda inginkan. Karena cara berpikir Anda mencerminkan cara Anda bertindak. Dan cara Anda bertindak menentukan bagaimana masa depan yang akan terbentang di depan Anda.&lt;br /&gt;(Vernon Howard).&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Pada suatu hari Bahlul tengah berjalan-jalan di sebuah jalan di kota Basrah. Tiba-tiba, ia melihat anak-anak tengah bermain dengan buah kemiri dan pala. Namun, di sana ada seorang anak yang hanya menonton teman-temannya sambil menangis. Bahlul menghampirinya dan berkata dalam hati, “Anak ini bersedih karena tidak memiliki mainan seperti yang dimiliki oleh anak-anak yang lain.” Kemudian Bahlul berkata kepadanya, “Anakku, mengapa kamu menangis? Maukah aku belikan buah kemiri dan pala, sehingga kamu dapat bermain dengan teman-temanmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Anak itu menatap Bahlul, lalu menjawab: “Hai orang yang kurang cerdas, kita diciptakan bukan untuk bermain-main.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            “Lalu untuk apa kita diciptakan?” tanya Bahlul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Anak kecil itu menjawab, “Untuk belajar dan beribadah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Bahlul bertanya lagi,”Dari mana kamu memperoleh jawaban itu? Kiranya Allah memberkatimu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Dia menjawab, “ Dari firman Allah dalam QS. Al-Mu’minun: 116, Apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya Kami menciptakanmu untuk bermain-main dan bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Kisah antara Bahlul dan seorang anak itu, memberikan pelajaran bagi siapa pun. Kalau manusia itu, diciptakan untuk belajar dan beribadah. Demikian pula halnya dengan kehidupan berkeluarga. Kita tentu semata-mata harus membangunnya di atas dasar koridor belajar dan beribadah kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Betul, kalau setiap anak itu butuh bermain dalam hidupnya. Namun, tentu bermain yang mengandung dan mengarahkan si anak kepada proses belajar membangun aktivitas beribadah kepada Allah SWT. Apalagi, saat ini di sekitar kita begitu banyak tersebar aneka fasilitas dan informasi bermain yang ditawarkan pada anak-anak. Yang kadangkala kalau orang tua tidak hati-hati, permainan itu tidak islami dan bisa merusak akidah anak kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Di sinilah, barangkali perlunya peranserta dan kemampuan pola kebijakan orang tua dalam memilih teman bermain anak-anaknya. Dan sebenarnya, inti dari belajar itu adalah berpikir dan bertindak. Bukankah, perilaku yang diperbuat oleh tiap manusia, semata-mata diawali dari sebuah niat dan pola pikir dalam hati dan akalnya. Untuk itu, tiap orang tua dituntut agar niat dan akal anak-anaknya harus ditata dan dibina dengan baik agar melahirkan perbuatan yang dapat menjadi bekal dan penyelamat dalam menyongsong masa depannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Jadi, berpikir dan bertindak ini jelas-jelas akan menjadi kunci keberhasilan dari apa-apa yang kita inginkan, termasuk dalam pembentukan keluarga sakinah. Dalam hal ini, Vernon Howard mengungkapkan, jika Anda lebih menginginkan keberhasilan, Anda dapat memilikinya. Masa depan Anda dapat menjadi lebih cerah daripada semua yang Anda inginkan. Karena cara berpikir Anda mencerminkan cara Anda bertindak. Dan cara Anda bertindak menentukan bagaimana masa depan yang akan terbentang di depan Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Untuk itu, bangunlah setiap saat pola pikir dan tindakan anak-anak kita sesuai etika dan perilaku islami. Karena menurut John Kehoe, melalui pengulangan, pikiran menjadi terpusat dan terarah serta kemampuannya dapat berlipat ganda setiap saat. Semakin sering diulang, semakin banyak tenaga dan kekuatan yang terkumpul dan semakin siap untuk diwujudkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Akhirnya, tidak ada jalan lain untuk menyongsong hari esok, selain setiap anggota keluarga muslim harus betul-betul menyadari bahwa dalam hidup ini, kita harus memperhatikan bekal-bekal apa saja yang telah dipersiapkan dan diperbuat bagi kehidupan di hari esok. Allah berfirman, “….dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), ….” (QS. Al-Hasyr: 18). Wallahu a’lam.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Penulis Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;DAPATKAN ARTIKEL LAINYA TENTANG:&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Menjadi Penulis Sukses, Mendapatkan Harta Karun, Menulis Buku, bisnis internet. Klik di bawah ini:&lt;br /&gt;      &lt;a href="http://www.penulissukses.com/?id=buku"&gt;http://www.penulissukses.com?id=buku&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Dapatkan E-Book (berbahasa Indonesia) di bawah ini:&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;-         Cara Mudah, Cepat dan Praktis Nampang di Internet / Dasar-Dasar HTML.&lt;br /&gt;-         Panduan Praktis Membangun Situs Dinamis dan Interaktif dengan PHP&lt;br /&gt;-         Cara Mengirim Puluhan, ratusan Bahkan Ribuan Email dalam Sekali Klik. &lt;br /&gt;-         Download GRATIS Ringkasan/Summary buku "KUNCI EMAS, Rahasia Sukses Membangun Kekayaan dan Kesejahteraan", Karya: L.Y. Wiranaga, Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama.&lt;br /&gt;      &lt;a href="http://www.megabuku.com/?ref=1788" target="_blank"&gt;http://www.megabuku.com?ref=1788&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;            Arda Dinata, adalah praktisi kesehatan, pengusaha inspirasi, pembicara, trainer, dan motivator di Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;E-mail: &lt;a href="mailto:arda.dinata@gmail.com"&gt;arda.dinata@gmail.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hp. 081.320.476048.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.miqra.blogspot.com/"&gt;http://www.miqra.blogspot.com&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35594566-1129033128353615610?l=miqrakeluarga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miqrakeluarga.blogspot.com/feeds/1129033128353615610/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=35594566&amp;postID=1129033128353615610' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35594566/posts/default/1129033128353615610'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35594566/posts/default/1129033128353615610'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miqrakeluarga.blogspot.com/2007/06/berpkir-dan-bertindak-demi-hari-esok.html' title='Berpkir dan Bertindak Demi Hari Esok'/><author><name>MIQRA INDONESIA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11822452084513947586</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_kCq_1_uUTQA/THFakBYdI-I/AAAAAAAAAmo/j5EsKJoBuVQ/S220/Arda+Dinata.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-35594566.post-3124310596054215177</id><published>2007-05-13T19:35:00.000+07:00</published><updated>2007-05-13T19:45:20.108+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MIQRA KELUARGA'/><title type='text'>Manajemen Kepemimpinan dalam Rumah Tangga</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_kCq_1_uUTQA/RkcHthzB-3I/AAAAAAAAAEY/hqc_SstB29E/s1600-h/arddi.0.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5064024784749329266" style="CURSOR: hand" height="98" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_kCq_1_uUTQA/RkcHthzB-3I/AAAAAAAAAEY/hqc_SstB29E/s200/arddi.0.jpg" width="80" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Oleh Arda Dinata&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;strong&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;“Masing-masing kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan ditanya atas kepemimpinannya. Dan pemimpin manusia (iman), itu juga pemimpin yang akan ditanya atas kepemimpinannya. Dan setiap laki-laki itu pemimpin atas kelaurganya; dan akan ditanya atas kepemimpinanya. Setiap pelayan itu pemimpin dalam mengurus harta majikannya, dan akan ditanya atas kepemimpinanya. Maka setiap pemimpin akan ditanya atas kepemimpinannya.” (HR. Muslim).&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;MENURUT&lt;/strong&gt; Kurnia Irawati Istadi, dua tahun terpenting dalam kehidupan manusia adalah di awal usianya. Dan di masa-masa emas tersebut ternyata bayi-bayi itu lebih banyak menghabiskan waktu di rumah bersama ibu. Kualitas sentuhan pendidikan yang ibu berikan di usia ini akan menentukan kualitas mereka hingga dewasa kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan keluarga sangat beragam. Walaupun suami sebagai kepala keluarga, namun biasanya urusan keseharian lebih banyak keputusannya diserahkan atau didelegasikan kepada isteri. Artinya ratusan kebijakan-kebijakan kecil yang ibu putuskan dari hari ke hari, adalah ibarat potongan-potongan kecil puzzle yang saling melengkapi satu dengan yang lain, sehingga kelak akan menghasilkan susunan gambar kehidupan yang indah dan sempurna. Jadi, sekeping kecil kebijakan remeh sekalipun tentu memiliki andil dalam menentukan gambar masa depan sebuah keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, jangan remehkan akan pentingnya manajemen rumah tangga sebagai penyempurna ikhtiar dalam rangka membentuk tatanan keluarga sakinah. Secara sederhana, manajemen rumah tangga diartikan sebagai kegiatan yang dilakukan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan dengan perantaraan orang lain, tetapi dapat juga berarti mengelola anggota keluarga untuk melakukan kegiatan di dalam rumah tangga. Proses manajemen itu meliputi tindakan perencanaan, pengorganisasian, menggerakan dan pengawasan melalui pemanfaatan sumber daya manusia serta sumber lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses seperti itu, jelas-jelas menunjang dalam pengelolaan keluarga. Pasalnya, dengan jam kerja 24 jam sehari, kebanyakan orang masih menganggap profesi manajer rumah tangga sekedar kewajiban seorang isteri. Padahal, ketrampilan yang dibutuhkan tidaklah main-main. Menurut Ishak solih, seorang manajer harus memiliki sifat-sifat kepemimpinan, misalnya: berwibawa, berdaya mampu untuk membawa serta dan memimpin bawahannya, jujur, terpecaya, bijaksana, berani, mawas diri, sanggup dan mampu mengatasi kesulitan, bersikap wajar, sederhana, penuh pengabdian kepada tugas, sabar dan berjiwa besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan sifat kepemimpinan pada kepala keluarga atau ibu rumah tangga seperti itu, sangat menunjang kesuksesan pengelolaan rumah tangga menuju kebahagiaan dan kesejahteraan dalam kehidupan keseharian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepemimpinan Keluarga&lt;br /&gt;Dalam keluarga lengkap, pemimpin tertinggi adalah suami (istilah manajemen dinamakan top manager). Kemudian pemimpin kedua adalah isteri yang dapat disebut middle manager atau sekaligus lower manager. Dan umumnya aplikasinya cukuplah dengan pembagian tugas. Suami sebagai kepala keluarga (yang memimpin isterinya) dan isteri sebagai ibu rumah tangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peranan kepemimpinan dalam membina rumah tangga menduduki tempat yang strategis dan menentukan dapat tidaknya keluarga itu mencapai kesejahteraannya. Karenannya, di sini diperlukan perilaku keteladanan dari orang tua. Artinya, sikap dan tindakan seorang kepala keluarga atau ibu rumah tangga akan memberikan pengaruh besar terhadap anggota keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini ada beberapa petunjuk bagi setiap pemimpin rumah tangga yang terdapat dalam ajaran Islam. Sehingga menurut Ishak Solih, mudah-mudahan para pemimpin yang berwatak kurang baik (baca: watak diktator dan watak liberal-Pen) dapat memperbaiki setelah memahami, menghayati dan mencoba mengamalkan petunjuk di bawah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, dalam membina keluarga sejahtera, sebuah anggota keluarga berkewajiban untuk memelihara diri masing-masing dalam sikap dan tingkah laku sehari-hari, sehingga terwujudlah kehidupan yang harmonis. Khusus bagi kepala keluarga dan atau ibu rumah tangga wajib memelihara diri dan memelihara semua anggota keluarganya. (baca: QS. At-Tahrim [66]: 6).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, setiap kepala keluarga dan atau ibu rumah tangga wajib mempertanggung jawabkan kepemimpinannya baik di dunia maupun di akherat nanti. Nabi Saw bersabda: “Masing-masing kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan ditanya atas kepemimpinannya. Dan pemimpin manusia (iman), itu juga pemimpin yang akan ditanya atas kepemimpinannya. Dan setiap laki-laki itu pemimpin atas kelaurganya; dan akan ditanya atas kepemimpinanya. Setiap pelayan itu pemimpin dalam mengurus harta majikannya, dan akan ditanya atas kepemimpinanya. Maka setiap pemimpin akan ditanya atas kepemimpinannya.” (HR. Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, setiap pemimpin keluarga hendaknya bersikap lemah lembut terhadap semua bawahannya. Bila ada kesalahan di antara mereka maafkanlah bahkan mohonkan maaf baginya. Dalam hal-hal yang menyangkut kepentingan keluarga, baik dalam membuat perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengawasan, hendaknya suka bermusyawarah. (baca: QS. Ali Imran [3]: 159).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, dalam hubungan antara yang memimpin dan dipimpin dalam keluarga, hendaknya dipupuk tali ikatan kasih sayang di samping faktor material lainnya. Hendaknya satu sama lain penuh kesabaran dalam mengejar kebahagiaan bersama. (baca: QS. At-Taubah [9]: 128).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, dalam keluarga hendaknya tercipta adanya saling mencitai dan mendoakan di antara pemimpin dan yang dipimpin. Hindarkanlah saling membenci dan saling mengutuk. Menurut Rasulullah Saw, yang paling baik di antara pemimpin kamu adalah yang kamu cintai dan yang mencintai kamu, yang kamu mintakan barkah untuknya dan untukmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keenam, hendaknya seorang suami bersikap adil terhadap isterinya. Demikian pula sebagai orang tua terhadap anak-anaknya dan anggota keluarga lainnya. Kebencian kepada anggota hendaknya dihindarkan. Apabila ada sikap dan tingkah laku yang tidak baik, hendaknya diperbaiki dengan penuh kesabaran, sehingga sikap dan tingkah laku tersebut hilang dengan pendidikan terhadap diri anggota keluarga, janganlah malah bertindak tidak adil. (QS. Al-Maidah [5]: 8).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, diharapkan peran pemimpim dalam proses manajemen rumah tangga akan membuahkan kebahagiaan dan kesejahteraan di dalam keluarga. Amin. Wallahu’alam.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Penulis Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="color:#ff6666;"&gt;ARTIKEL LAIN YANG PATUT ANDA BACA:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;1. Menjadi Penulis Sukses, Mendapatkan Harta Karun, Menulis Buku, bisnis internet. Klik di bawah ini:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;a href="http://www.penulissukses.com/?id=buku"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;http://www.penulissukses.com?id=buku&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;2. E-Book (berbahasa Indonesia) tentang:&lt;br /&gt;- Cara Mudah, Cepat dan Praktis Nampang di Internet / Dasar-Dasar HTML.&lt;br /&gt;- Panduan Praktis Membangun Situs Dinamis dan Interaktif dengan PHP&lt;br /&gt;- Cara Mengirim Puluhan, ratusan Bahkan Ribuan Email dalam Sekali Klik.&lt;br /&gt;klik di sini: &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;a href="http://www.megabuku.com/?ref=1788" target="_blank"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;http://www.megabuku.com?ref=1788&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Arda Dinata, adalah praktisi kesehatan, pengusaha inspirasi, pembicara, trainer, dan motivator di Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.&lt;br /&gt;E-ma&lt;/em&gt;il: &lt;a href="mailto:arda.dinata@gmail.com"&gt;arda.dinata@gmail.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hp. 081.320.476048.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.miqra.blogspot.com/"&gt;http://www.miqra.blogspot.com/&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35594566-3124310596054215177?l=miqrakeluarga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miqrakeluarga.blogspot.com/feeds/3124310596054215177/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=35594566&amp;postID=3124310596054215177' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35594566/posts/default/3124310596054215177'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35594566/posts/default/3124310596054215177'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miqrakeluarga.blogspot.com/2007/05/manajemen-kepemimpinan-dalam-rumah_13.html' title='Manajemen Kepemimpinan dalam Rumah Tangga'/><author><name>MIQRA INDONESIA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11822452084513947586</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_kCq_1_uUTQA/THFakBYdI-I/AAAAAAAAAmo/j5EsKJoBuVQ/S220/Arda+Dinata.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_kCq_1_uUTQA/RkcHthzB-3I/AAAAAAAAAEY/hqc_SstB29E/s72-c/arddi.0.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-35594566.post-748905378519116079</id><published>2007-04-28T08:12:00.000+07:00</published><updated>2007-04-28T08:18:06.996+07:00</updated><title type='text'>Meluruskan Emansipasi dan Membangun Karakter Bangsa</title><content type='html'>Oleh &lt;span style="color:#990000;"&gt;Arda Dinata&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;strong&gt;BERBICARA&lt;/strong&gt; tentang wanita tidak akan pernah ada habisnya, bagaikan sebuah oase yang tidak membosankan, semakin dibicarakan akan semakin terbuai olehnya. Napoleon Bonaparte pernah mengatakan bahwa kemajuan wanita adalah sebagai ukuran kemajuan negeri kaum ibu yang dapat menggoyangkan buaya dengan tangan kirinya, dapat pula menggoyangkan dunia dengan tangan kanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Berkait dengan itu, timbul satu pertanyaan dalam menyikapi kondisi keterpurukan bangsa Indonesia saat ini. Yakni, apakah ada yang salah dari perilaku kaum wanita di Indonesia, bila kita kaitkan dengan kondisi bangsa ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Di zaman ini, ada kecenderungan yang sangat kuat di kalangan wanita, dari lapisan apapun, untuk bekerja. Begitu seorang wanita menyelesaikan pendidikannya, maka yang terbayang dalam benaknya adalah dunia kerja. Bekerja untuk mendapatkan upah atau gaji. Intinya bekerja di luar rumah (Suharsono, 2002:23).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Menyikapi kecenderungan itu (baca: wanita yang menghilangkan kodrat sebagai ibu), patut kita renungkan apa yang dipertanyakan Said Hawa, bahwa bukankah lebih terhormat bagi wanita, jika segala keperluan dan pembiayaan hidupnya dijamin oleh suaminya, daripada mesti bekerja di luar rumah dan mengerjakan pekerjaan yang tidak sesuai dengan karakternya? Apakah pertumbuhan anak lebih baik di dalam asuhan ibunya, atau di dalam asuhan tempat penitipan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Menyikapi fenomena tersebut, ada tiga tekad yang dilahirkan kaum wanita pada kongres pertamanya di Yogyakarta 22 Desember 1928, yakni menggalang persatuan, tampil seiring dengan kaum pria dalam merebut kemerdekaan, serta meneruskan cita-cita untuk memperoleh hak hidup dalam kodratnya sebagai wanita. Ternyata masih relevan dengan makna perjalanan pembangunan dalam mengisi kemerdekaan saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Menurut H.M. Hembing Wijayakusuma (1995: 426), tiga tekad wanita Indonesia terus diperjuangkan, terutama menyangkut hak hidup sesuai kodratnya. Tapi satu hal yang pantang diremehkan, yakni peran kaum ibu sebagai ibu rumah tangga. Kaum bapak sungguhpun ada kekecualian, tapi pengabdiannya di kantor, atau di tempatnya menggantungkan hidup bersama keluarga untuk mencari nafkah, akan banyak dipengaruhi oleh peran istri dalam rumah tangga. Agama Islam mengajarkan bahwa surga itu berada ditelapak kaki ibu. Dapatkah kaum ibu menghayati makna ajaran ini sehingga senantiasa menjadi anutan sang anak dan curahan kasih sayang suami? Itulah pedoman paling berharga untuk bisa tampil sebagai madu pemanis rumah tangga dan pengharum bangsa dengan gelar ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Dalam bahasa  lain, Suharsono (2002: 25-26) mengungkapkan bahwa tampaknya kita perlu merenungi sebuah pernyataan yang disabdakan Nabi Saw, “Surga di bawah telapak kaki ibu.” Bila kita simak baik-baik pernyataan ini kita patut bertanya, “Apakah setiap (tipologi) ibu dapat mensurgakan anaknya?” Apakah tipologi ibu dalam perspektif budaya patriarkhi, yang hanya bergerak dari dapur sampai tempat tidur dapat mensurgakan anak-anaknya? Atau sebaliknya, ibu-ibu dalam perspektif feminisme dewasa ini, yang mampu mensurgakan anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Lebih jauh diungkapkan, jika Islam sangat menghargai harkat wanita, seperti dinyatakan Alquran surat Luqman: 14 dan Ahqaf: 15, bukanlah bertujuan agar perempuan itu menjadi laki-laki, dengan cara persamaan hak kerja, profesi dan sebagainya, tetapi untuk menjadi ibu. Islam tidak mengatur masalah kerja profesional bagi perempuan, apalagi jika kerja itu dilakukan di luar rumah, karena memang tidak ada kewajiban perempuan untuk mencari nafkah. Tetapi sebaliknya, Islam mengatur secara rinci bagaimana mestinya perempuan menjadi ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Menurut Sukarti H. Manan (1999), yang menjadi kenyataan sekarang ini adalah muncul istilah emansipasi wanita yang sering disalah artikan. Penulis teringat pada Kartini yang dengan gigihnya memperjuangkan derajat wanita agar sejajar dengan kaum pria. Ketika wanita memperoleh kesempatan “berkiprah” di dunia luar selain rumah tangganya, ada kalanya mereka secara tidak sadar melupakan kodrat kewanitaan-nya, rumah tangga, termasuk anak dan suami. Bekerja melebihi waktu, sehingga anak justru “terdidik” oleh orang lain (pembantu) dan memunculkan perasaan “bersih” pada diri suami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Untuk itu, pemaknaan emansipasi wanita ini harus segera kita luruskan agar tidak membuat keterpurukan bangsa ini menjadi berlarut-larut. Dalam nada pertanyaan, Elvira W &amp; Eva R (1997), mengungkapkan bahwa satu fenomena (gejala) yang tidak bisa kita pungkiri lagi bahwa semakin banyak perempuan yang menghiasi percaturan perpolitikan tidak menutup suatu kemungkinan menunjukkan bahwa semakin banyak wanita yang terlibat dalam dunia kejahatan. Jadi apakah semua merupakan suatu keberhasilan dari peran ganda wanita atau hanya fatamorgana belaka??..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Dalam hal ini, Maurice Bardeche, pakar dari negara Prancis yang dinilai sebagai pelopor yang mengumandangkan semboyan “kebebasan dan persamaan”, dalam bukunya “Hestoire des Femmers” memperingatkan janganlah hendaknya kaum ibu meniru kaum bapak, karena jika demikian akan lahir bahkan telah lahir jenis manusia ketiga sebagaimana dikutip oleh Quraish Shihab dalam bukunya “Lentera Hati”. Dikatakannya bahwa “baik dan terpuji apabila seorang ibu atau istri melayani suaminya, membersihkan dan mengatur rumah tempat tinggalnya, tetapi itu bukan merupakan kewajibannya”. (Widaningsih, 2000).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Sementara itu, diungkapkan Dadang Kusnandar, jika wanita secara tulus melakukan tugas-tugas rumah tangganya, boleh jadi konsep rumah tangga Islam: Baiti Jannati, dengan sendirinya akan lebih mudah terbina. Sebab pendidikan yang paling mulia bagi anak tidak lain bermula dari ibu. Maka anak-anak langsung memperoleh pendidikan dan kasih sayang seorang ibu, lebih terjamin akhlaknya. Anak-anak akhirnya lebih terkendali dan bersosialisasi di tengah pergaulan masyarakat. Mereka tidak mudah terjerat pada sekian penyimpangan dari perilaku chaos serta tawaran-tawaran nilai “baru” untuk melakukan pengingkaran norma-norma sosial, terutama moral serta etika agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Sebaliknya, wanita yang menyerahkan pendidikan anaknya kepada orang lain tanpa keterlibatan langsung dan penuh dari ibunya ketika ia remaja tampak lebih lentur dalam menerima “paradigma” di kalangan remaja, terutama di kota-kota. Katakanlah ia menjadi terasing dari lingkungannya, malah dengan keluarga sendiri kerap menjadi amat individualis. Dan sulit dihindari kenyataan menujukkan adanya sejumlah dekonstruksi moral dan etika sosial, sering bermula dari ketidak harmonisan hubungan keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Di sinilah pentingnya sebuah kesadaran untuk menjadi seorang ibu. Kesadaran ini, tentu berkenaan dengan masalah-masalah reproduksi perempuan sebagaimana yang menjadi wacana feminisme. Tetapi, dalam pandangan Suharsono (2002), persoalannya tidaklah cukup dengan “melahirkan” lalu menjadi ibu dan selesai. Menjadi ibu melibatkan pengertian dan kesadaran baru yang harus dimiliki bagi setiap perempuan. Di samping resiko beratnya melahirkan, menjadi ibu berarti memiliki kesadaran penuh untuk membekali diri dalam rangka mendidik anak-anaknya. Tugas untuk menjadi ibu dalam pengertian seperti ini, membutuhkan bobot spiritual dan intelektualitas yang memadai. Para ibu adalah guru pertama anak-anaknya sendiri. Orang pertama yang akan menjadi sandaran bagi anak-anaknya, tempat bertanya, mengadukan halnya dan juga perlindungannya. Jawaban-jawaban yang diberikan serta kepedulian seorang ibu bagi anak-anaknya, sangat menentukan bagi masa depan anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidik Karakter&lt;br /&gt;Dalam Alquran, kita diingatkan agar memelihara keluarga dari api neraka. Allah SWT berfirman, yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; … (QS. At Tahrim: 6). Iman Ali bin Abi Thalib menjelaskan makna ayat ini, “Didiklah diri dan kelurgamu dengan perbuatan baik dan saleh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah secara tegas memerintahkan kita untuk mendidik diri sendiri dan keluarga dengan ajaran-ajaran agama, sehingga terbentuk keluarga yang bertaqwa. Bila keluarga baik, maka negara pun baik. Keluarga merupakan negara kecil. Bila ingin membangun negara, kita harus mulai dari keluarga. (Indris Thaha; 1997:10).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mencapai kondisi tersebut, di sini paling tidak kita memerlukan sosok wanita, ibu, atau muslimah yang mampu menjadi pendidik sesuai akhlak Islam. Dan kuncinya ada pada kekayaan ilmu, sehingga kita (baca: ibu) dituntut harus banyak ilmu terutama ilmu agama Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkait dengan menjadikan wanita sebagai pendidik, menurut Indrawati (1999), mengungkapkan bahwa pendidik wanita, tidak hanya menjadi komputer yang siap menyimpan data (file) di luar kepala terhadap sejumlah ilmu pengetahuan, informasi, dan nilai-nilai yang sudah, sedang, dan akan berkembang di masyarakat. Akan tetapi, ia harus menjadi pelaku yang gesit, tampil terampil, berani melangkah dengan tegar dan tegas, dan penuh percaya diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih jauh diungkapkan, wanita diciptakan Tuhan bukan dari tulang tengkorak pria, yang hanya bisa menjadi pemikir. Bukan hanya dari tulang kaki, yang hanya bisa manut untuk berjalan. Bukan pula dari tulang tangan yang hanya bisa menengadah dan mengharap belas kasihan orang lain. Akan tetapi, wanita diciptakan dari rongga dada seorang pria, di mana seluruh pusat kehidupan dimulai dan harus dilindungi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di situlah bergetarnya perasaan dan keimanan, berdenyutnya nafas yang memberikan semangat dan kemauan. Kalau instrumen-instrumen ini baik, maka semua getaran perintah akan meluncur ke otak dengan baik pula. Filosofi demikian harusnya dapat menyadarkan kita semua (terutama kaum ibu) untuk menyadari dan membangun kepribadiannya agar semakna dengan ungkapan bahwa: “Wanita adalah tiang negara dan sorga berada di telapak kaki ibu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surga berada di bawah telapak kaki ibu. Arti lainnya, wanita adalah pendidik utama dan pertama. Wanita adalah teman sejawat. Wanita adalah tiang negara. Yang terakhir ini, memproyeksikan bahwa apabila wanita dalam negara tersebut baik -–moralitas, kecerdasan, dan spiritualitasnya---, maka kokohlah negara tersebut. Sebaliknya dapat dipastikan, jika wanitanya buruk, maka hancurlah negara tersebut. Jadi, ibulah yang akan “membentuk” karakter dan kondisi suatu bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, semoga wanita-wanita penghuni bangsa ini tidak melupakan kodrat kewanitaannya, yakni menjadi seorang ibu yang baik. Ibu yang mampu menghasilkan keturunan yang baik pula, menjadi pendidik utama dan pertama sehingga dapat membentuk karakter dan kondisi bangsa Indonesia yang lebih baik serta ada dalam lindungan-Nya. Amin. Wallahu a’lam.***&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Penulis Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;strong&gt;DAPATKAN ARTIKEL LAINYA TENTANG:&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#ffcc66;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;1. Menjadi Penulis Sukses, Mendapatkan Harta Karun, Menulis Buku, bisnis internet. Klik di  bawah ini:&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.penulissukses.com/?id=buku"&gt;http://www.penulissukses.com?id=buku&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2. Dapatkan E-Book (berbahasa Indonesia) di bawah ini:&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;-         Cara Mudah, Cepat dan Praktis Nampang di Internet / Dasar-Dasar HTML.&lt;br /&gt;-         Panduan Praktis Membangun Situs Dinamis dan Interaktif dengan PHP&lt;br /&gt;-         Cara Mengirim Puluhan, ratusan Bahkan Ribuan Email dalam Sekali Klik. &lt;br /&gt;-         Download GRATIS Ringkasan/Summary buku "KUNCI EMAS, Rahasia Sukses Membangun Kekayaan dan Kesejahteraan", Karya: L.Y. Wiranaga, Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama.&lt;br /&gt;      &lt;a href="http://www.megabuku.com/?ref=1788" target="_blank"&gt;http://www.megabuku.com?ref=1788&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;          Arda Dinata, adalah praktisi kesehatan, pengusaha inspirasi, pembicara, trainer, dan motivator di Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;E-mail: &lt;a href="mailto:arda.dinata@gmail.com"&gt;arda.dinata@gmail.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hp. 081.320.476048.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.miqra.blogspot.com/"&gt;http://www.miqra.blogspot.com&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35594566-748905378519116079?l=miqrakeluarga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miqrakeluarga.blogspot.com/feeds/748905378519116079/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=35594566&amp;postID=748905378519116079' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35594566/posts/default/748905378519116079'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35594566/posts/default/748905378519116079'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miqrakeluarga.blogspot.com/2007/04/meluruskan-emansipasi-dan-membangun.html' title='Meluruskan Emansipasi dan Membangun Karakter Bangsa'/><author><name>MIQRA INDONESIA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11822452084513947586</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_kCq_1_uUTQA/THFakBYdI-I/AAAAAAAAAmo/j5EsKJoBuVQ/S220/Arda+Dinata.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-35594566.post-4793743660995472639</id><published>2007-03-17T05:04:00.001+07:00</published><updated>2007-04-15T03:31:43.910+07:00</updated><title type='text'>Tahapan-Tahapan Dalam Mendidik Anak</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_kCq_1_uUTQA/RiCkmNVAKMI/AAAAAAAAAC8/tjtiyEr2-eo/s1600-h/Foto+Arda+Dinata.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5053219758229432514" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_kCq_1_uUTQA/RiCkmNVAKMI/AAAAAAAAAC8/tjtiyEr2-eo/s200/Foto+Arda+Dinata.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#993300;"&gt; Oleh: Arda Dinata &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;&lt;em&gt;“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, hingga lisannya fasih. Kedua orangtuanyalah yang membuatnya beragama Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”&lt;br /&gt;(HR. Al-Baihaqi, Ath-Thabarani).&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Berkenaan dengan peringatan “Hari Anak Nasional” yang diperingati setiap tanggal 23 Juli ini. Berikut ini ada kisah yang menarik dan perlu kita renungi sebagai bahan introspeksi diri terkait dengan pola pendidikan anak-anak yang dilakukan oleh orangtua dan pendidik selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Khaldun menceritakan, ketika Al Rasyid menyerahkan anaknya, Al-Amin kepada seorang guru, ia mengatakan, “Wahai Ahmar, sesungguhnya Amirul Mukminin telah menyerahkan kepadamu belaihan jiwa dan buah hatinya. Maka, bukalah tanganmu lebar-lebar dan ketaatanmu kepadanya adalah kewajiban. Tetaplah kamu bersamanya sebagaimana kamu kepada Amirul Mukminin. Bacakanlah kepadanya Alquran dan ajarkanlah kepadanya hadis-hadis. Riwayatkanlah kepadanya syair-syair dan ajarkanlah kepadanya sunah. Perlihatkanlah kepadanya fenomena-fenomena dan dasar-dasar ilmu kalam. Laranglah dirinya tertawa bukan pada waktunya. Janganlah ia bertemu denganmu sesaat saja keculai kamu menyampaikan kepadanya pelajaran-pelajaran yang dapat diambilnya, dengan tidak menyembunyikannya sehingga pikirannya menjadi mati. Janganlah kamu biarkan dirinya berleha-leha, sehingga ia suka nganggur dan bersenang-senang. Luruskanlah dirinya sesuai kemampuanmu dengan pendekatan yang lembut. Jika ia menolaknya maka lakukanlah dengan kekerasan.”&lt;br /&gt;* *&lt;br /&gt;Keterangan di atas, merupakan pelajaran bagi orangtua dan pendidik dalam proses pendidikan anak-anak mereka. Sesungguhnya anak kecil itu merupakan amanat bagi setiap orangtuanya. Hatinya masih suci bersih dan kosong. Jika dibiasakan dan diajari kebajikan, ia akan tumbuh pada kebajikan dan berbahagia di dunia maupun di akhirat. Nabi SAW bersabda, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, hingga lisannya fasih. Kedua orangtuanyalah yang membuatnya beragama Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Al-Baihaqi, Ath-Thabarani).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesuksesan dalam mendidik anak, paling tidak akan ditentukan oleh ketiga kekuatan yaitu orangtua, pendidik di sekolah dan tatanan lingkungan masyarakatnya. Di sini, kelihatannya peran yang menentukan dan strategis dalam periode awal kehidupan seorang anak ialah pola didik dan asuhan dari kedua orangtuanya (baca: ibu dan bapak) di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam mendidik anak sesuai moral Islam, menurut Syaikh M. Jamaluddin Mahfuzh (2003), ada beberapa unsur yang perlu diperhatikan. Pertama, menanamkan akidah yang sehat. Bersumber dari Rafi r.a., ia berkata, “Aku melihat Rasulullah SAW menyerukan adzan shalat ke telinga Hasan bin Ali r.a., ketika ia baru saja dilahirkan oleh Fatimah.” (HR. At-Tirmidzi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, latihan ibadah dan beri hukuman. Bersumber dari Abdullah bin Umar r.a., sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Perintahkanlah anak-anakmu untuk shalat ketika mereka telah berusia tujuh tahun. dan pukullah mereka, karena meninggalkan shalat ketika mereka telah berusia dua belas tahun. Dan pisahkanlah mereka pada tempat tidur.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Al-Hakim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, mengajarkan kepada anak sesuatu yang halal dan haram. Bersumber dari Abdullah bin Zaid r.a., ia berkata, “Kami sedang berada di dekat Abdullah bin Masud r.a., ketika mendadak seorang puteranya datang menghampirinya dengan mengenakan baju dari sutera. Abdullah bin Masud bertanya, ‘Siapa yang memakaikan pakaian ini kepadamu?’ Anak itu menjawab, ‘Ibuku.’ Abdullah bin Masud lalu menanggalkannya seraya berkata, ‘Katakan pada ibumu supaya ia memakai pakaian yang selain ini.’”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, membangun aktivitas belajar. Rasulullah SAW bersabda, “Hak anak atas ayahnya ialah diajari menulis, berenang dan memberinya rezeki dari yang halal saja.” (HR. Al-Baihaqi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, membangun persahabatan orangtua terhadap anak. Rasulullah SAW bersabda, “Perhatikanlah anak-anakmu, dan didiklah mereka dengan baik.” (HR. Ibnu Majah). Hadis ini mengajarkan agar orangtua untuk selalu bersahabat dengan anak, mengawasi, memperhatikan, dan mendidik mereka sebaik mungkin. Rasulullah memberi petunjuk dalam sabdanya, “Barangsiapa punya anak kecil hendaklah ia perlakukan secara proposional.” (HR. Ibnu Askair).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keenam, membiasakan meminta izin. Ishak Al-Ghazari berkata, “Aku pernah bertanya kepada Al-Auza’i, apa batasan anak kecil yang diharuskan minta izin terlebih dahulu?” Ia menjawab, “Kalau ia sudah berumur empat tahun. pada usia ini, ia tidak boleh menemui wanita tanpa izin terlebih dahulu.” Dan menurut Az-Zuhri, “Seseorang yang menemui ibunya harus minta izin terlebih dahulu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bahasa lain, menurut Dr. Abdullah Nashih Ulwan, secara hirarkis pokok-pokok dalam mendidik anak secara Islam itu meliputi tujuh tahapan tanggung jawab yang harus dilakukan orangtua dan pendidik, yaitu: Pertama, tanggung jawab pendidikan iman. Di dalamnya menyangkut tentang membuka kehidupan anak dengan kalimat Laa Ilaaha Illallaah; mengenalkan hukum halal dan haram kepada anak sejak dini; menyuruh anak untuk beribadah ketika telah memasuki usia tujuh tahun; dan mendidik anak untuk mencintai Rasul, keluarganya serta membaca Alquran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, tanggung jawab pendidikan moral. Jika sejak masa kanak-kanak, ia tumbuh dan berkembang dengan berpijak pada landasan iman kepada Allah dan terdidik untuk selalu takut, ingat, pasrah, meminta pertolongan dan berserah diri kepada-Nya, ia akan memiliki kemampun dan bekal pengetahuan di dalam menerima setiap keutamaan dan kemuliaan, di samping terbiasa dengan akhlak mulia. Sehingga dari sini, anak akan terhindar dari jeratan perilaku suka berbohong, suka mencuri, suka mencela dan mencemooh, serta terhindar dari kenakalan dan penyimpangan yang dilarang agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, tanggung jawab pendidikan fisik. Tanggung jawab ini dimaksudkan agar anak-anak tumbuh dewasa dengan kondisi fisik yang kuat, sehat, bergairah, dan bersemangat. Amanat ini di dalamnya berisi tentang tanggung jawab memberi nafkah kepada keluarga dan anak; mengikuti aturan kesehatan dalam makan, minum dan tidur; melindungi diri dari penyakit menular; merealisasikan prinsip tidak boleh menyakiti diri sendiri dan orang lain; membiasakan anak berolah raga; membiasakan anak untuk zuhud dan tidak larut dalam kenikmatan; membiasakan anak bersikap tegas dan menjauhkan diri dari penggangguran, penyimpangan serta kenakalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, tanggung jawab pendidikan rasio (akal). Orangtua dan pendidik hendaknya mampu membentuk pola pikir anak dengan segala sesuatu yang bermanfaat, seperti ilmu agama, kebudayaan dan peradaban. Di sini, anak diusahakan untuk selalu belajar, menumbuhkan kesadaran berpikir, dan kejernihan berpikir (baca: kesehatan berpikir).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, tanggung jawab pendidikan kejiwaan. Pendidikan ini dimaksudkan untuk mendidik anak berani bersikap terbuka, mandiri, suka menolong, bisa mengendalikan amarah dan senang kepada seluruh bentuk keutamaan jiwa dan moral secara mutlak. Salah satu bentuknya adalah bagaimana mendidik anak untuk tidak bersifat minder, penakut, kurang percaya diri, dengki, dan pemarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keenam, tanggung jawab pendidikan sosial. Yakni mendidik anak sejak kecil agar terbiasa menjalankan perilaku sosial yang utama. Di antaranya berupa penanaman prinsip dasar kejiwaan yang mulia didasari pada akidah islamiah yang kekal dan kesadaran iman yang mendalam. Sehingga si anak di tengah-tengah masyarakat nantinya mampu bergaul dan berperilaku sosial dengan baik, memiliki keseimbangan akal yang matang dan tindakan yang bijaksana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketujuh, tanggung jawab pendidikan seksual. Di sini, orangtua dan pendidik hendaknya mampu mendidik tentang masalah-masalah seksual kepada anak, sejak ia mengenal masalah-masalah yang berkenaan dengan naluri seks dan perkawinan. Sehingga ketika anak telah tumbuh menjadi seorang pemuda dan dapat memahami urusan-urusan kehidupan, ia telah mengetahui apa saja yang diharamkan dan apa saja yang dihalalkan. Lebih jauh lagi, ia diharapkan mampu menerapkan tingkah laku islami sebagai akhlak dan kebiasaan hidup, serta tidak diperbudak syahwat dan tenggelam dalam gaya hidup hedonis. Wallahu a’lam. ***&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Penulis Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff6666;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff6666;"&gt;DAPATKAN ARTIKEL LAINYA TENTANG:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Menjadi Penulis Sukses, Mendapatkan Harta Karun, Menulis Buku, bisnis internet. Klik di bawah ini: &lt;/strong&gt;&lt;a href="http://www.penulissukses.com/?id=buku"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;http://www.penulissukses.com?id=buku&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;2. Dapatkan E-Book (berbahasa Indonesia) di bawah ini:&lt;br /&gt;- Cara Mudah, Cepat dan Praktis Nampang di Internet / Dasar-Dasar HTML.&lt;br /&gt;- Panduan Praktis Membangun Situs Dinamis dan Interaktif dengan PHP&lt;br /&gt;- Cara Mengirim Puluhan, ratusan Bahkan Ribuan Email dalam Sekali Klik.&lt;br /&gt;- Download GRATIS Ringkasan/Summary buku "KUNCI EMAS, Rahasia Sukses Membangun Kekayaan dan Kesejahteraan", Karya: L.Y. Wiranaga, Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama. &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;a href="http://www.megabuku.com/?ref=1788" target="_blank"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;http://www.megabuku.com?ref=1788&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Arda Dinata, adalah praktisi kesehatan, pengusaha inspirasi, pembicara, trainer, dan motivator di Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;E-mail: &lt;a href="mailto:arda.dinata@gmail.com"&gt;arda.dinata@gmail.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hp. 081.320.476048.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.miqra.blogspot.com/"&gt;http://www.miqra.blogspot.com/&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35594566-4793743660995472639?l=miqrakeluarga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miqrakeluarga.blogspot.com/feeds/4793743660995472639/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=35594566&amp;postID=4793743660995472639' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35594566/posts/default/4793743660995472639'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35594566/posts/default/4793743660995472639'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miqrakeluarga.blogspot.com/2007/03/tahapan-tahapan-dalam-mendidik-anak.html' title='Tahapan-Tahapan Dalam Mendidik Anak'/><author><name>MIQRA INDONESIA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11822452084513947586</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_kCq_1_uUTQA/THFakBYdI-I/AAAAAAAAAmo/j5EsKJoBuVQ/S220/Arda+Dinata.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_kCq_1_uUTQA/RiCkmNVAKMI/AAAAAAAAAC8/tjtiyEr2-eo/s72-c/Foto+Arda+Dinata.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-35594566.post-6364320314195040758</id><published>2007-03-17T04:59:00.000+07:00</published><updated>2007-03-17T05:00:07.417+07:00</updated><title type='text'>Menghibur Seorang Anak</title><content type='html'>&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35594566-6364320314195040758?l=miqrakeluarga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://mail.google.com/mail/?ik=821bfc3228&amp;view=att&amp;th=1115cb95192c88db&amp;attid=0.7' title='Menghibur Seorang Anak'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miqrakeluarga.blogspot.com/feeds/6364320314195040758/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=35594566&amp;postID=6364320314195040758' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35594566/posts/default/6364320314195040758'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35594566/posts/default/6364320314195040758'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miqrakeluarga.blogspot.com/2007/03/menghibur-seorang-anak.html' title='Menghibur Seorang Anak'/><author><name>MIQRA INDONESIA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11822452084513947586</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_kCq_1_uUTQA/THFakBYdI-I/AAAAAAAAAmo/j5EsKJoBuVQ/S220/Arda+Dinata.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-35594566.post-116133801126531086</id><published>2006-10-20T16:47:00.000+07:00</published><updated>2006-10-20T17:05:56.406+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/6317/3963/1600/Foto%20Arda%20Dinata.0.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/6317/3963/320/Foto%20Arda%20Dinata.0.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Menyiasati Emosi Marah Dalam Keluarga&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;Oleh Arda Dinata&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;KEHIDUPAN dalam keluarga yang terdiri atas ayah, ibu dan anak itu sangat berpeluang untuk memancing rasa marah. Penyebabnya, bisa macam-macam. Mulai dari yang sepele sampai yang serius. Sebenarnya marah adalah reaksi emosional yang sangat wajar, seperti juga perasaan takut, sedih dan rasa bersalah. Hanya biasanya kemarahan itu memunculkan dampak langsung yang lebih merusak. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Menurut Heman Elia, seorang psikolog, menuntut agar anak tidak marah bukan saja tidak realistis, namun juga kurang sehat. Anak yang kurang mampu memperlihatkan rasa marah dapat menderita cacat cukup serius dalam hubungan sosialnya kelak. Ia mungkin akan tampak seolah tidak memiliki daya tahan atau kekuatan untuk membela diri dalam menghadapi tekanan sosial. Akibatnya, ia mudah terpengaruh dan mudah menjadi objek manipulasi orang lain. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Dengan demikian, kita harus bersikap bijaksana dalam menyikapi kemarahan seorang anak. Caranya yaitu dengan membantu anak untuk menyatakan kemarahan secara wajar dan proporsional. Heman Elia, menyarankan dalam mengajar anak mengungkapkan kemarahannya haruslah dimulai sedini mungkin. Terutama sejak anak mulai dapat berkata-kata. Kuncinya adalah agar anak menyatakan kemarahan dalam bentuk verbal. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas, pada saat marah menguasai seseorang, maka akan terjadi ketidakseimbangan pikiran manusia berupa hilangnya kemampuan untuk berpikir sehat. Atas alasan inilah, barangkali kenapa Sayyid Mujtaba M.L. mengungkapkan kejahatan merupakan perwujudan dari kepribadian yang tidak seimbang. Ketika seorang individu kehilangan pengawasan atas akalnya, maka ia juga akan kehilangan kendali atas kehendak dan dirinya sendiri. Manusia tersebut tidak hanya lepas dari kendali akal, tetapi juga kehilangan perannya sebagai unsur yang produktif dalam kehidupan dan pada gilirannya berubah menjadi makhluk sosial yang berbahaya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa alasan mengapa seseorang dianggap penting untuk mengendalikan marah dalam kehidupan kesehariannya. Pertama, marah menyebabkan tercela. Timbulnya sikap marah, biasanya akan melahirkan suatu perasaan menyesal setelah marahnya berhenti. Dr. Mardin menguraikan, seseorang yang sedang marah, apa pun alasannya akan menyadari ketidakberartian hal itu segera setelah ia tenang, dan dalam kebanyakan kasus ia akan merasa harus meminta maaf kepada mereka yang telah ia hina. Untuk itu, tepatlah apa yang dikatakan Imam Ja'far Ash-Shadiq as, yaitu "Hindarilah amarah, karena hal itu akan menyebabkan kamu tercela." &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kedua, marah dapat membinasakan hati. Marah itu tidak lain merupakan salah satu penyakit hati yang kalau dibiarkan akan dapat merusak diri secara keseluruhan. Imam Ja'far Ash-Shadiq as berkata, "Amarah membinasakan hati dan kebijaksanaan, barangsiapa yang tidak dapat menguasainya, maka ia tidak akan dapat mengendalikan pikirannya."&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, marah dapat mengubah fungsi organ tubuh. Berkait dengan ini, Dr. Mann menyebutkan berdasarkan penyelidikan ilmiah mengenai pengaruh fisiologis akibat kecemasan (baca: marah-Pen) telah mengungkapkan adanya berbagai perubahan dalam seluruh anggota tubuh seperti hati, pembuluh darah, perut, otak dan kelenjar-kelenjar dalam tubuh. Seluruh jalan fungsi tubuh yang alamiah berubah pada waktu marah. Hormon adrenalin dan hormon-hormon lainnya menyalakan bahan bakar pada saat marah muncul. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Keempat, marah akan "mempercepat" kematian. Amarah yang terjadi pada seseorang akan memengaruhi atas kualitas kesehatannya. Menurut para ahli kesehatan, amarah dapat menyebabkan kematian secara mendadak jika hal itu mencapai tingkat kehebatan tertentu.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Imam Ali as pernah berkata, "Barangsiapa yang tidak dapat menahan amarahnya, maka akan mempercepat kematian." Berkait dengan pengendalian marah, secara umum seperti diungkap Drs. Karman ada empat kiatnya, yaitu: Pertama, bila Anda sedang marah maka hendaklah membaca "ta'awwudz" (memohon perlindungan) kepada Allah SWT, sebab pada hakikatnya perasaan marah yang tidak terkendali adalah dorongan setan. Nabi saw. bersabda, "Apabila salah seorang di antaramu marah maka katakanlah: 'Aku berlindung kepada Allah', maka marahnya akan menjadi reda". (HR Abi Dunya).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kedua, bila Anda sedang marah maka berusahalah untuk diam atau tidak banyak bicara, sebagaimana sabda Nabi saw., "Apabila salah seorang di antara kamu marah maka diamlah." (HR Ahmad). &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, bila Anda sedang marah dalam keadaan berdiri maka duduklah, bila duduk masih marah maka berbaringlah. Hal tersebut ditegaskan oleh Nabi saw., "Marah itu dari setan, maka apabila salah seorang di antaramu marah dalam keadaan berdiri duduklah, dan apabila dalam keadaan duduk maka berbaringlah." (HR Asy-Syaikhany). &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Keempat, bila upaya ta'awwudz, diam, duduk, dan berbaring tidak mampu mengendalikan amarah Anda, maka upaya terakhir yang bisa dilakukan adalah dengan cara berwudu atau mandi. Sebagaimana sabda Nabi saw., "Sesungguhnya marah itu dari setan dan setan terbuat dari api. Dan api hanya bisa dipadamkan oleh air. Oleh karena itu, apabila seorang di antaramu marah maka berwudulah atau mandilah." (HR Ibnu Asakir, Mauquf). &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Menyiasati marah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Manakala seorang anak kecil merasa kecewa tanpa Anda memarahinya dengan kasar, menurut Dr. Victor Pashi, Anda dapat menekan amarah tersebut dengan memandikannya menggunakan air dingin atau menyelimutinya dengan kain lembab atau basah. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari itu, Jaudah Muhammad Awwad, dalam Mendidik Anak Secara Islam, mengungkapkan, pada anak, faktor pemicu kemarahan lebih berkisar pada pembatasan gerak, beban yang terlalu berat dan di luar kemampuan anak. Misalnya menjauhkan anak dari sesuatu yang disukainya, atau memaksa anak untuk mengikuti tradisi atau sistem yang ditetapkan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab itu, Jaudah menyarankan beberapa hal yang patut diperhatikan dalam mengatasi kemarahan yang timbul pada anak-anak, di antaranya adalah: &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tidak membebani anak dengan tugas yang melebihi kemampuannya. Kalaupun tugas itu banyak atau pekerjaan yang di luar kemampuannya itu harus diberikan, kita harus memberikannya secara bertahap dan berupaya agar anak menerimanya dengan senang. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ciptakan ketenangan anak karena emosi yang dipancarkan anggota keluarga, terutama ayah dan ibu, akan terpancar juga dalam jiwa anak-anak. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Hindarkan kekerasan dan pukulan dalam mengatasi kemarahan anak karena itu akan membentuk anak menjadi keras dan cenderung bermusuhan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Gunakan cara-cara persuasif, lembut, kasih sayang, dan pemberian hadiah. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ketika anak kita dalam keadaan marah, bimbinglah tangannya menuju tempat wudu dan ajaklah dia berwudu atau mencuci mukanya. Jika dia marah sambil berdiri, bimbinglah agar dia mau duduk. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu upaya pengendalian marah dalam hubungan suami-istri, sebenarnya lebih ditekankan pada bagaimana mengendalikan ego masing-masing. Kunci utamanya adalah berusaha dengan membangun iklim keterbukaan dan kasih sayang di antara keduanya. Begitu pula halnya dengan anggota keluarga lainnya, seperti dengan anak-anak. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Cara menyiasatinya, ketika salah satu pihak (terpaksa) marah, maka hendaknya pihak lainnya harus mampu untuk mengekang keinginan membalas kemarahannya. Sikap kita lebih baik diam. Karena diam ketika suasana marah merupakan upaya yang efektif dalam mengendalikan marah agar keburukannya tidak menyebar ke lingkungan sekitarnya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, ketika seseorang tidak dapat berpikir sehat akibat marah, maka sebaiknya orang tersebut tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang mungkin akan disesalinya kemudian. Sebagai alat untuk menekan marah dan menghindarkan akibat-akibatnya, Imam Ali as telah memerintahkan agar kia bersabar. Wallahu'alam.*** &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;Arda Dinata, adalah praktisi kesehatan, pengusaha inspirasi, pembicara, trainer, dan motivator di Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia. Arda dapat dihubungi melalui email: &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;a href="mailto:reusenews@yahoo.com"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;reusenews@yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;. Hp. 081.320.476048&lt;/span&gt;. &lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35594566-116133801126531086?l=miqrakeluarga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miqrakeluarga.blogspot.com/feeds/116133801126531086/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=35594566&amp;postID=116133801126531086' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35594566/posts/default/116133801126531086'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35594566/posts/default/116133801126531086'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miqrakeluarga.blogspot.com/2006/10/menyiasati-emosi-marah-dalam-keluarga.html' title=''/><author><name>MIQRA INDONESIA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11822452084513947586</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_kCq_1_uUTQA/THFakBYdI-I/AAAAAAAAAmo/j5EsKJoBuVQ/S220/Arda+Dinata.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-35594566.post-116019024282237505</id><published>2006-10-07T09:57:00.000+07:00</published><updated>2006-10-07T10:04:02.833+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/6317/3963/1600/DSCN4337.jpg"&gt;&lt;img style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/6317/3963/320/DSCN4337.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Virus N’Ach Mencerahkan Kehidupan Keluarga&lt;br /&gt;Oleh Arda Dinata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajaran Islam mewajibkan orangtua untuk mendidik anaknya. Jika tidak, menurut Prof. Dr. Baihaqi Ak –Guru Besar Ilmu Pendidikan Islam IAIN SGD Bandung--, bukan hanya terhukum berdosa dengan ancaman siksa di akhirat, melainkan juga terancam dengan tidak mendapatkan hak moril dan materil dari anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa rugi dan sengsaranya perjalanan hidup, jika hal itu nyata-nyata menimpa kita. Naudzubillah. Sehingga gambaran ini, haruslah benar-benar menyadarkan siapa pun akan pentingnya sebuah pendidikan terhadap anak-anak. Dan yang jelas unsur kegigihan kita dalam memberdayakan anak supaya terdidik akhlaknya merupakan pilar-pilar pembangun dari tegaknya tatanan sebuah keluarga sakinah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk merealisasikan hal tersebut, kelihatannya meminjam istilah David McClelland, setiap keluarga harus memiliki virus N’Ach (kependekan dari Need for Achievement –kebutuhan akan prestasi--), serta mampu menyebarkannya kepada seluruh anggota keluarga. Dan yang terpenting dari keberadaan virus N’Ach ini adalah harus dibarengi dengan kekuatan imunitas hati nurani yang baik. Yaitu melalui rangkaian pendidikan yang Islami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam arti lain, virus N’Ach ini sama sekali bukan merupakan satu-satunya penyebab seseorang berprestasi. Virus ini hanyalah salah satu unsur utamanya. N’Ach secara terpisah merupakan sifat baik, tetapi tidak dengan sendirinya mendorong seseorang untuk melaksanakan aktivitas-aktivitas yang menguntungkan masyarakat. Bila hal ini tidak diikuti oleh hati nurani yang baik tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tiap manusia, sebenarnya potensi keberadaan dari virus N’Ach ini telah dimilikinya sejak lahir. Karena bukanlah, manusia itu diciptakan-Nya dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Permasalahannya, adalah apakah semua manusia itu sejak awal telah dilatih untuk memanfaatkan/mengaktualisasikan kemunculan virus tersebut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, usaha mengetahui ada atau tidaknya kemunculan “virus mental” itu hanya dapat diketahui dalam suatu contoh dari pikiran seseorang. Yaitu apakah pikiran itu ada hubungannya dengan “melakukan sesuatu yang baik” atau “melakukan sesuatu dengan cara yang lebih baik” daripada yang pernah dilakukan orang sebelumnya. Misalnya, lebih efesien, lebih cepat, dengan tenaga yang sedikit, dengan hasil yang lebih baik, dan semacamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tindakan tersebut hendaknya sebelum kita evaluasikan terhadap anak, maka terlebih dahulu dilakukan kepada diri orangtuanya. Pasalnya, orangtua yang memiliki virus N’Ach dan hati nurani yang baik, maka ia akan menularkannya terhadap anak-anaknya. Orangtua seperti ini, merupakan sosok achiever yang bermoral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tipe orangtua achiever itu sangat percaya diri namun tidak arogan dan amat bersahabat. Dalam hal mengembangkan disiplin dan kemampuan diri, orangtua achiever membangunnya dari dalam dirinya. Golongan orangtua seperti ini, mampu mempertanggung jawabkan hasil kerjanya. Pribadinya selalu berusaha mencari masukan buat dirinya dan memperhatikan opini orang lain. Dan ia mampu menangkap nilai positif yang muncul serta ia memberi masukan yang berguna, sehingga dampaknya memberi pengaruh yang baik kepada orang-orang di sekitarnya (baca: anak-anak).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bahasa yang lain, dapat dikatakan orangtua achiever ini dari tingkah laku dan sikapnya akan mencerminkan dirinya sebagai bagian dari pemecah masalah; memandang sesuatu yang rumit menjadi sederhana; mampu memotivasi; adanya kendala menjadi peluang; sesuatu sulit, tapi mungkin; dan bangkit dari setiap kegagalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah Pendidikan&lt;br /&gt;Persiapan merupakan sesuatu yang dipersiapkan dari awal, setelahnya kita menentukan sesuatu keinginan. Demikian pula halnya dengan keinginan untuk menularkan dan membangun virus (potensi) N’Ach kepada sang anak, maka kita terlebih dahulu memerlukan persiapan pendidikan yang Islami ke arah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil dari pendidikan ini akan mencapai hasil yang baik, menurut Baihaqi, adalah jika orangtua itu memenuhi syarat-syarat, seperti bertakwa kepada Allah, ikhlas dan berakhlak mulia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun langkah-langkah pendidikan Islami yang mesti ditempuh untuk memaksimalkan tujuan tersebut, maka mereka harus dipersiapkan sejak memilih calon istri/suami, waktu akad nikah, waktu suami-istri “bergaul”, waktu istri mengandung/ hamil, waktu sesudah melahirkan anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam waktu melakukan pemilihan jodoh, Nabi Muhammad Saw., menganjurkan agar kita memilih calon istri/suami yang beragama dan berakhlak mulia. Hal ini dimaksudkan agar setelah mendirikan rumah tangga, maka mereka dapat membina dan membangun kehidupan rumah tangga serta mendidik anak-anaknya menuju kondisi yang beragama dan berakhlak mulia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah pendidikan selanjutnya adalah ketika melangsungkan akad nikah. Yakni sebelum proses ijab dan qabul, kedua pengantin ini diingatkan pada akidah Islam (baca: dengan pengucapan kembali kalimah Syahadat). Disambung kemudian dengan khutbah nikah serta mengucapkan ijab qabul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses pendidikan lainnya, ialah melakukan doa pada waktu suami-istri akan “bergaul”. Dan kalau kita cermati, isi doa tersebut mengandung maksud bukan hanya sekedar permohonan, tetapi di dalamnya mengandung makna yang membuat jiwa menjadi tenang dan yang lebih penting lagi adalah berupa harapan anak yang mungkin terlahir dari hasil “bergaul” ini jauh dari gangguan setan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun pendidikan pada waktu mengandung (hamil) dilakukan (terutama) oleh ibunya dengan berusaha meningkatkan ibadah dan kasih sayang antara suami-istri. Hal ini didasarkan bahwa bayi dalam kandungan itu sangat responsif/peka terhadap rangsangan dari luar (baca: berupa kebahagiaan, kesediahan, ketenangan jiwa, dll.). Selanjutnya, setelah anak itu lahir, maka lakukan dengan dibacakan/didengarkan lafaz azan dan iqomah. Lalu penyembelihan hewan aqiqah dan memberikannya nama yang baik. Pendidikan selanjutnya adalah berupa pemberian (didikan) keteladanan dari kedua orangtuanya dalam segala aspek kehidupan hingga anak menjadi dewasa dan mandiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, dengan mengaplikasikan langkah-langkah tersebut, insya Allah akan menghasilkan keluarga yang dapat melejitkan muncul dan menyebarnya virus N’Ach dan hati nurani yang baik dalam kehidupan keluarga. Dan ujung-ujungnya keluarga tersebut akan tercerahkan kehidupannya baik di dunia maupun di akherat nanti. Waallahu’alam.*** [Arda Dinata].&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35594566-116019024282237505?l=miqrakeluarga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://miqrakeluarga.blogspot.com/feeds/116019024282237505/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=35594566&amp;postID=116019024282237505' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35594566/posts/default/116019024282237505'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35594566/posts/default/116019024282237505'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://miqrakeluarga.blogspot.com/2006/10/virus-nach-mencerahkan-kehidupan.html' title=''/><author><name>MIQRA INDONESIA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11822452084513947586</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_kCq_1_uUTQA/THFakBYdI-I/AAAAAAAAAmo/j5EsKJoBuVQ/S220/Arda+Dinata.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
